Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Eps 69 Kenakalan Tia


__ADS_3

Namanya Tia, Dwi Septiana Putri. Gadis nakal yang baru saja lulus dari sekolah Smp dan hendak masuk ke sekolah Sma. la


terbilang gadis yang sangat cantik namun nakal, bahkan kedua orang tua dan juga kakaknya sampai merasa kesulitan dalam mengurusi dirinya.


"heh, jangan kebanyakan minum, nanti kamu mabuk!!!" Ucap salah seorang teman Tia.


Tia sama sekali tidak menanggapi apa yang di ucapkan oleh teman temannya itu. Karena sudah jelas bahwa gadis itu sangat


menikmati air haram yang ada di tangannya saat itu.


"Sayang, nari bareng yuk." ajak seorang laki laki berbadan tegap, berwajah tampan dan mempesona.


Namanya Dani, teman sekelas Tia yang banyak di idolakan oleh kaum hawa.


Tapi tidak dengan Tia, gadis itu sudah berulang kali menolak Dani yang mengungkapkan cinta padanya dengan


mentah-mentah.


Tia memang gadis nakal, pergaulannya sangat bebas dan liar, tapi ia sama sekali tidak pernah membiarkan laki laki manapun mampu masuk ke dalam hatinya, walaupun laki laki itu tergolong laki laki yang banyak di idolakan oleh kaum hawa.


"Nggak mau. " Ucap Tia seraya menyugar rambut panjangnya yang berwarna merah ke belakang.


"Ayolah sayang, sebentar saja kita menari bersama."Ajak Dani dengan sedikit membujuk.


"Nggak mau Dan. " Tolak Tia dengan nada ketus, kesadarannya memang sudah


setengah sadar, jadi ia tidak terlalu bisa berbuat banyak.


Sampai akhirnya, Dani menarik tangan Tia agar Tia mau menari bersama dengan dirinya. Mau tidak mau Tia terpaksa menuruti permintaan Dani yang memintanya untuk menari bersama.


Ketika sedang asik menari, seorang pria tampan tiba tiba datang dan langsung menghentikan musik, kemudian laki laki itu berjalan menghampiri Tia.


Pria itu adalah Sigit, ia menjadi pusat perhatian banyak orang, apalagi oleh kaum perempuan. Mereka semua menatap ke arah Sigit dengan tatapan penuh kagum


dan penuh damba. Laki laki dengan wajah yang di pahat sempurna oleh sang maha Cipta.


Membuat siapapun enggan memalingkan pandangan jika sudah menatap laki laki tampan itu.


"Bukannya abang sudah bilang berulang kali sama kamu Tia, jangan pernah injakkan kak lagi di tempat ini!!" Bentak Sigit seraya menarik kasar tangan Tia.


Setelah itu Sigit menyampirkan jaket levis miliknya pada bahu Tia untuk menutupi baju Tia yang sangat terbuka hingga memperlihatkan leher jenjangnya.


Sedangkan gadis berambut panjang dan bergelombang itu hanya diam menunduk tak berani menatap pria yang umurnya 3 tahun di atasnya itu. Tangan dan kakinya


gemetaran takut dengan nada dingin


yang di berikan oleh Sigit.


"Ayo cepat pulang!!! " Sigit menarik lengan Tia dengan kasar hingga membuat Tia meringis kesakitan.


"Abang sakit, lepasin tangan Tia." Ucap Tia seraya berusaha memberontak agar Sigit mau melepaskan cengkraman tangannya


dari lengan Tia.


Sigit menyeret Tia dengan kasar keluar dari area club malam itu. Bahkan Tia sampai menitikkan air matanya karna tangan Sigit yang mencengkram kuat tangan Tia

__ADS_1


dengan begitu kuat.


Sigit langsung menyeret Tia ke arah di mana motornya di parkirkan, setelah itu Sigit langsung menancap gas motornya


meninggalkan tempat terkutuk itu.


Di sepanjang perjalanan, tubuh Tia terus bergetar karna merasa ketakutan melihat Sigit yang biasanya selalu berbicara lembut


padanya tiba tiba terlihat seperti iblis


karna sedang marah.


"Turun!" Perintah Sigit dengan nada dingin begitu mereka sudah sampai di halaman rumah mereka.


Tia yang memang sudah ketakutan itu langsung turun menuruti perintah Sigit.


Setelah melepaskan helmnya dan


meletakkan di atas spion, Sigit kembali meraih tangan Tia dengan kasar dan menyeretnya masuk ke dalam rumah.


"'Sakit abang.. " Rengek Tia.


"Sakit?" Sigit menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Tia dengan tatapan marahnya.


"'Sakit." Ucap Tia mengangguk.


"Sakit mu tidak seberapa, coba kamu lihat keadaan Bapak sekarang seburuk apa?" Ucap Sigit kembali menyeret tangan Tia membawanya naik ke lantai atas dan berjalan menuju kamar ke dua orang tuanya.


Ceklek.


Sigit membuka pintu kamar kedua orang tuanya, setelah itu ia mendorong kasar tubuh Tia agar masuk ke dalam.


Tubuh Tia menegang saat melihat kondisi sang ayah yang semakin memburuk, tubuhnya kaku bahkan bibirnya sudah merot.


Apalagi saat Tia melihat sang ibu yang duduk dan menangis di samping ranjang sang ayah.


Tubuh Tia merosot ke lantai saat ia melihat pemandangan itu, wajah sang ibu yang di penuhi air mata dan rambutnya yang sudah


berantakan kemana-mana menatap kosong ke arah suaminya yang terbaring lemah tak berdaya.


"Coba buka mata kamu !!! Mau seberapa jauh lagi kamu menyiksa ibuk dan bapak?" Tanya Sigit dengan nada dingin yang


sangat menusuk jantung Tia.


"Tia nggak tau apa-apa bang."Ucap Tia mendongak menatap ke arah Sigit karna tak terima dengan apa yang di ucapkan oleh Sigit yang malah menyalahkan dirinya.


"Kalau begitu biar abang yang kasih tau sama kamu apa yang terjadi di sini. " Ucap Sigit mengangguk lalu berjongkok menyejajarkan wajahnya dengan wajah Tia.


"Kalau saja kamu nggak berbuat aneh aneh hari ini, penyakit jantung bapak nggak akan kambuh lagi dan pasti ibuk juga nggak akan seberantakan sekarang !!" Ucap Sigit penuh emosi, wajah dan matanya memerah menahan amarah.


Tia menunduk dalam, ia benar-benar tidak pernah melihat Sigit semarah ini kepadanya sebelumnya. Tia juga tidak mengira kalau ternyata ayahnya akan


mengetahui bahwa dirinya pergi ke tempat terkutuk itu.


"Agrhhh... Sudah lah, sebaiknya kamu pergi ke kamar. Abang sedang tidak ingin melihat wajahmu." Ucap Sigit seraya berdiri dan menarik rambutnya dengan kuat sebagai bentuk pengalihan rasa marah.

__ADS_1


Tia begitu ketakutan melihat Sigit yang seperti itu, tak terasa air matanya lolos membasahi seluruh wajahnya, pundak gadis itu juga mulai naik turun beriringan dengan suara isak tangisnya yang semakin


terdengar pilu.


"Abang, Tia minta maaf.." Ucap Tia berjalan merangkak mendekat ke arah kaki Sigit. tapi dengan segera sigit melangkah


mundur menghindari sentuhan Tia.


"Sebaiknya kamu pergi dulu sebelum abang akan semakin marah sama kamu. " Ucap Sigit tanpa menatap ke arah Tia.


Tia yang memang sudah merasa ketakutan pada Sigit langsung berjalan keluar dari


ruangan itu dan langsung berlari ke arah kamarnya.


 


Pagi hari saat Tia terbangun dari tidurnya. la langsung berjalan keluar dari kamar hendak melaksanakan solat subuh berjama' ah dengan kedua orang tua dan juga abangnya.


Tapi ia sedikit terkejut saat melihat rumahnya hari ini berbeda dengan hari hari sebelumnya.


Banyak orang yang ada di dalam rumahnya, beberapa dari mereka ada yang menyingkirkan meja dan kursi. Ada juga yang sedang menyiapkan beberapa kursi untuk ditata menghadap ke arah mushola.


" Ini ada apa?" Tanya Tia seraya menarik tangan salah seorang wanita paruh baya yang berjalan melewati dirinya.


"Sigit belum memberi tahu dirimu?" Tanya perempuan itu yang di jawab gelengan kepala oleh Tia.


"Tadi malam setelah sholat sepertiga malam Sigit dan ibumu membawa bapak mu pergi ke rumah sakit karena memang kondisinya sudah sangat memburuk." Ucap


wanita itu yang seketika berhasil membuat aliran darah Tia serasa terhenti.


"Dan tadi sebelum adzan subuh kami di kabarkan bahwa ayahmu meninggal dunia."


DEGH


Jantung Tia terasa seperti di sambar petir, tubuhnya merosot ke lantai, wanita yang tadi berbicara padanya juga ikut berjongkok mengelus pundak Tia.


"Tidak apa nak, ikhlaskan kepergian ayahmu." Ucap wanita itu.


Tia hanya diam saja, matanya memanas air matanya juga berdemo minta untuk di lepaskan.


"Lebih baik kamu cepat bersiap karna sebentar lagi jenazah ayah kamu akan segera di bawa pulang ." Ucap wanita itu.


"saya harus pergi dulu , banyak hal yang harus saya kerjakan untuk menyambut kedatangan jenazah ayah kamu." Ucap


perempuan setengah baya itu.


Tia sama sekali tidak menghiraukan atau bahkan merespon ucapan wanita yang


berstatus sebagai tetangganya itu, ia


hanya diam saja mematung tidak percaya dengan apa yang ia alami hari ini.


 


Ruzen tersenyum, ia menarik paksa dagu Tia agar Tia tidak menyembunyikan wajahnya di dada Ruzeb lagi.

__ADS_1


"Jangan nangis." Ucap Ruzen seraya menghapus air mata dan juga ingus Tia dengan telapak tangannya tanpa rasa jijik sedikitpun.


Tia ikut menghapus air matanya sendiri dengan kasar lalu melanjutkan ceritanya.


__ADS_2