
"Hari itu adalah hari pemakaman Bapak. hari yang tidak pernah aku bayangkan dan tidak pernah aku pikirkan seumur hidup. Aku tidakbpernah menyangka bahwa hari itu akan datang lebih cepat." Ucap Tia
seraya mencengkram kuat pinggang
Ruzen yang awalnya ia peluk.
Ruzen hanya diam saja membiarkan Tia menyelesaikan ceritanya.
"Dan setelah kejadian hari itu, Tia terkena gangguan mental. Berulang kali Tia mencoba untuk melakukan bunuh diri. Dan samnpai akhirnya di hari ketiga setelah Bapak meninggal, Tia melakukan bunudh diri dengan melompat dari gedung lantai 3 namun Tia masih bisa selamat tapi ya Tia harus lumpuh sampai sekarang." Ucap Tia yang semakin kuat menangisnya.
Dadanya saat ini terasa sangat sesak, rasanya seperti di timbun dengan batu yang sangat besar atau di timbun dengan benda yang sangat berat. Sakit sekali.
"Udah jangan nangis." Sam mengangkat tubuh Tia dan mendudukkan tubuh Tia di atas pangkuannya, ia jadi merasa bersalah karna menanyakan hal ini.
Ruzen pun kini mengetahui kenapa alasan Tia bisa lumpuh. Ternyata karena Tia sempat ingin melakukan bunuh diri.
Hal itu yang membuat luka lama kembali terbuka, Tia melingkarkan tangannya pada leher Ruzsn lalu menyembunyikan wajahnya di sana.
"Tia takut kak, Bapak ninggalin Tia dan Ibuk bahkan Abang sampai membenci Tia, Tia nakal banget." Ucap Tia.
"Semua sudah masa lalu sayang, tidak ada yang perlu di sesali. Kitabbisa belajar dari kesalahanbkesalahanbkita, toh sekarang bang Sigit juga jadi orang yang paling sayang sama kamu." Ucap Ruzen.
"Apa dosa Tia masih bisa di ampuni karna Tia membunuh kedua orang tua Tia sendiri?" Tanya Tia mendongak menatap ke arah Ruzen.
"Hey, kenapa kamu ngomong gitu? Kematian itu sudah di takdirkan sama sang pencipta. Semua akan mendapat gilirannya jika nanti sudah di panggil, tinggal nunggu aja waktunya." Ucap Ruzen.
"Tapi kalau Tia nggak nakal mungkin bapak masih ada di sini kak."
Ruzen menggeleng seraya menghapus air mata Tia kembali, " dosa loh ngomong kaya gitu, berarti kamu nggak percaya sama takdir Allah." Ucap Ruzen.
"Semua udah takdir sayang, memang jalan dan takdir kedua orang tua kamu meninggal di hari itu dan dengan cara itu. Itu takdir yang di berikan oleh Allah dan kamu nggakbboleh mengingkari itu." Ucap Ruzen dengan tangan yang masih sibuk
menghapus air mata Tia yang sama sekali tak berhenti menetes.
"Kalau dulu, bang Sigit sering bilang sama kakak, kalau dosa dan kesalahan yang membuat kamu menyesal, itu lebih baik dari pada kebaikan yang membuat kamu
sombong." Ucap Ruzen.
Tia mengangguk lalu kembali memeluk tubuh Ruzen, Ruzen pun juga membalas pelukan Tia.
Akhirnya mereka berdua kembali berpelukan dengan Tia yang
menempelkan telinganya tepat di dada Ruzen, sungguh mendengar detak jantung Ruzen membuat hati Tia lebih tenang.
Beberapa menit mereka berpelukan, sampai akhirnya Ruzen mulai mendengar dengkuran halus dan nafas yang teratur keluar dari bibir mungil itu.
Dengan pelan dan hati-hati, Ruzen mengangkat tubuh mungil itu lalu memindahkannya agar duduk di atas tempat tidur.
__ADS_1
Ruzen juga menarik selimut dan membenarkan selimut itu hingga menutupi tubuh Tia sampai sebatas dada, setelah itu, Ruzen kembali menghapus air mata yang ada di wajah Tia dan mencium dengan
waktu yang cukup lama.
"Aku kira dia baik-baik saja, ternyata dia juga hanya bersembunyi di balik topengnya." Gumam Ruzen dengan tangan yang masih menyingkirkan beberapa helai rambut Tia yang keluar dari hijabnya.
Ruzen juga berinisiatif melepaskan hijab Tia agar Tia lebih nyaman dan tidak merasakan gerah.
Dia yang terlihat baik-baik saja,nternyata juga baik dalambmenyembunyikan luka.
Beberapa saat kemudian, Ruzen mendengar suara adzan isya dan langsung berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan mengerjakan solat isya sendiri membiarkan dulu Tia tidur sebentar.
Setelah selesai mengerjakan solat, Ruzen juga langsung keluar dari kamarnya untuk pergi ke dapur.
"Makan Sam." Ucap Rian yang sudah duduk di meja makan karna memang ia sedang menunggu Tia dan juga Ruzen turun untuk makan malam bersama.
"Duluan aja bang." Ucap Ruzen seraya melanjutkan langkahnya berjalan menuju ke arah dapur, Rian juga ikut berdiri lalu mengikuti Ruzen yang masuk ke dalam dapur.
"Bi, saya mau minta tolong." Ucap Ruzen.
Bi Momon yang kebetulan saat itu sedang
menata bahan makanan di dalam kulkas langsung mendongak dan menatap ke arah Ruzen.
"Iya den, mangga. Mau minta tolong apa?" Tanya bi Momon seraya berdiri.
"Tolong buatkan satu mangkuk bubur ya bi. Untuk Tia." Ucap Ruzen.
"Kenapa Tia nggak turun Zen?" Tanya Rian seraya berjalan mendekat ke arah Ruzen.
"Eh Lo bang, ngagetin aja sih lo." Ucap Ruzen terkekeh.
"Ini loh bang, ya itu tadi. Kaya yang gue bilang sama lo tadi, kalau habis dari kamar pasti langsung laper ." Ucap Ruzen menaik turunkan alisnya menggoda Rian.
"Ck, apa sih lo !" Ucap Rian yang kesal.
"Lanjutin gih sana makannya."
"Kenapa nggak makan bareng aja sih ? Lagian itu di meja makan ada banyak makanan, kenapa sih harus makan berduaan di kamar?" Tanya Rian.
"Yaelah bang, Lo mana ta Namanya juga suami istri, mana pengantin baru lagi. Ya wajarlah kalau kita apa-apa mau berduaan.
Kalau cuma makan berdua kan wajar banget, apalagi banyak pasangan yang
belum nikah kaya gitu." Ucap Ruzen
membuat kedua tangan Rian kembali terkepal kuat di samping tubuhnya.
__ADS_1
Jelas Rian tau benar bahwa Ruzen tengah berusaha memanas manasi dirinya.
"Apalagi kita yang udah nikah." Sambung Ruzen.
"Iya kan bi?" Ruzen menoleh ke arah bi Momon meminta dukungan.
"Iya den." Ucap bi Momon.
Jujur saja, kedua wanita setengah baya itu kini tengah berusaha menahan tawanya saat melihat tingkah Ruzen yang jahil dan Rian yang kepanasan.
"Oh iya bang, Lo nggak usah khawatir kalau makanannya nggak habis." Ucap Ruzen.
"bentar lagi temen gue sama abangnya Tia datang kesini kok." Ucap Ruzen membuat
Rian berdecak kesal lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya tak jadi makan.
Ruzen terkekeh lalu menoleh kembali ke arah bi Momon yang sedang sibuk dengan
bubur.
"Gimana bi? Keren nggak?"Tanya Rizen.
''cara yang aestetic buat bikin orang yang nggak tau malu sadar diri." Ucap Ruzen yang langsung di acungi oleh bi Momon.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja bubur yang di minta oleh Ruzen sudah siap.
"Ini den." Ucap bi Momon seraya memberikan nampan berisi satu mangkuk bubur pada Ruzen.
"apa mau di antar saja ke kamar den?" Tanya bi Momon.
"Nggak usah bi, biar saya saja yang bawa." Ucap Ruzen seraya mengambil mangkok itu, hanya mangkoknya saja yang di ambil,
nampannya tidak ia ambil.
"Makasih ya bi." Ucap Ruzen seraya berbalik arah berjalan menuju kamarnya, dengan satu mangkok bubur di tangan
kanannya dan satu gelas air putih di
tangan kirinya.
Setelah sampai di depan pintu kamar, Ruzen langsung membuka knock pintu itu dengan menggunakan sikunya, setelah itu ia juga menutup kembali pintunya dengan mendorong menggunakan lengannya.
"Eh kok udah bangun?" Tanya Ruzen saat ia melihat Tia yang sudah duduk bersila di atas ranjangnya dengan mata yang sedikit sembab akibat menangis.
"Abis solat isya." Jawab Tia.
__ADS_1
Ruzen mengangguk lalu ikut naik ke atas ranjang.
"Pusing nggak habis nangis?" Tanya Ruzen terkekeh, Tia juga ikut terkekeh lalu menyentuh matanya yang sedikit membengkak akibat menangis.