
"Makan dulu." Ucap Ruzen seraya
menyendokkan bubur itu dan langsung menyuapkan pada Tia.
"Aaaaa....." Ruzen ikut membuka mulutnya saat Tia juga membuka mulutnya, "aem.."
Tia terkekeh melihat Ruzen yangbterlihat sangat menggemaskan seperti sedang menyuapi anak kecil.
"Lagi, lagi, lagi." Ucap Ruzen kembali menyodorkan sesendok bubur ke mulut Tia, "aem.. Pinter." Ucap Ruzen.
"Mau minum." Ucap Tia seraya menunjuk ke arah segelas air yang di letakkan oleh Ruzen di atas nakas.
"Mau minum?" tanga Ruzen yang di angguki oleh Tia.
Ruzwn meraih gelas berisi air putih
itu dengan tangan kirinya, sedangkan
tangan kanannya masih memegangi
semangkok bubur itu.
"Nih." Ucap Ruzen.
"Makasih kak." Ucap Tia seraya mengembalikan segelas air itu kepada
Ruzen.
"Nih, habisin sampai bersih." Ucap Ruzen kembali menyendokan bubur itu dan menyodorkannya ke arah bibir Tia.
"Kak Zen nggak makan?" Tanya Tia.
"Nanti, kakak pesen minta di bawain ayam geprek sama Rion. Tadi mau minta di buatin sama bi Momon kasihan, udah malam waktunya mereka istirahat." Ucap
Ruzen.
Tia manggut manggut paham.
"Ini yang buat bubur kak Zen atau bibi?" Tanya Tia basa basi.
"Kakak." Jawab Ruzen berdusta.
"Enak." Puji Tia.
"Jelas dong, anak angkatnya bi Momon sama bi Marini nih." Ucap Tia seraya menepuk dadanya membuat Tia kembali terkekeh.
"Nih makan lagi, habisin sampai bersih." Ucap Ruzsn kembali menyendok bubur dan
menyuapkannya pada Tia.
Ruzen juga kembali menoleh ke arah nakas mengambil tissue lalu memberikannya pada Tia.
"Di hapus dulu buburnya yang belepotan." Ucap Ruzen terkekeh.
__ADS_1
Tia tersenyum lalu mengikuti apa yang di perintahkan oleh Ruzen kepada dirinya.
"Mau nambah lagi?" Tanya Ruzen setelah ia menyuapkan sesendok bubur terakhir pada Tia.
"Udah kak, udah kenyang." Jawab Tia menggeleng.
Ruzen kembali meletakkan mangkok bubur yang sudah kosong itu ke atas nakas, setelah itu ia juga mengambil segelas air putih yang masih tersisa dan memberikannya kepada Tia.
"Tia serasa jadi ratu deh, makan tinggal makan udah di buatin malah minta di suapin juga." Ucap Tia terkekeh.
"Ya nggak papa, kan memang ratu." Ucap Ruzen seraya mengembalikan gelas yang sudah kosong itu ke atas nakas.
"Makasih ya kak." Ucap Tia dengan senyuman, "em kak Ruzen nggak benci Sama Tia setelah kak Zen tau cerita Tia di masa lalu?" Tanya Tia menatap ke arah Ruzen.
"Enggak dong, ngapain benci? Sedangkan kakak juga tau kalau kakak juga punya masa seperti kamu." Ucap Ruzen.
"Oh ya?"
"He'em." Sahut Ruzen mengangguk.
"bahkan ada beberapa yang belum bisa kakak hilangkan sampai saat ini. Sedangkan kamu sudah bisa merubah
semuanya dan bisa berjalan di jalan
yang benar. Kakak salut sama kamu." Ucap Ruzen seraya menangkap tangan Tia lalu mengecupnya.
Tia terus tersenyum menatap Ruzen yang menciumi punggung tangannya berulang kali.
"Kamu bisa berubah menjadi seperti saat ini, mungkin kalau kakak akan sedikit kesulitan. Apalagi kamu tidak setengah setengah dalam hijrah ." Ucap Ruzen kembali menatap Tia.
"Pasti dong." Ucap Ruzen dengan mantap, "kamu juga do'ain kakak biar bisa se Istiqomah kamu dalam berubah." Ucap Ruzen.
"Iya kak, kita belajar bareng bareng ya, kalau nanti Tia ada salah tolong kakak tegur dan kakak arahkan." Ucap Tia.
Ruzen mengangguk, "begitu juga dengan kakak ya, kakak sadar kalau ilmu agama kakak sangat jauh jika di bandingkan dengan kamu. Kalau seumpama nanti kakak melakukan kesalahan, tolong maklumi kakak dan bantu arahkan kakak ke jalan yang benar ya." Ucap Ruzen.
"Siap pak boss." Ucap Tia.
"Oh iya, kita besok pulang sekolah langsung ke rumah ibuk ya buat ambil barang barang kita yg belum sempet bawa kesini." Ucap Ruzen.
"Iya kak."
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam bi, buka saja pintunya nggak di kunci kok." Sahut Ruzen berteriak.
Ceklek.
"Eh, Assalamua'laikum.."
Bi Momon yang kebetulan datang saat itu merasa sedikit kikuk karna ini baru pertama kali majikannya meminta dirinya membuka pintu kamar pribadi.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh.." Jawab Ruzen dan juga Tia secara bersamaan.
"Tolong ambilin cadar kak." Ucap Tia menunjuk pada cadar miliknya, Ruzen menurut dan langsung mengambilkan cadar milik Tia.
"Iya bi? Ada yang bisa di bantu?" Tanya Ruzen.
Bi Momon masih saja diam dengan senyuman yang mengembang, jujur ia
di buat terpukau saat melihat kecantikan Tia, ia kira Tia juga tidak secantik ini. Tapi ternyata gadis itu selalu menyembunyikan
kecantikannya di balik selembar kain hitam itu.
"Bi?" Panggil Ruzen yang membuyarkan lamunan Bi Momon.
"Eh, i-iya den. Maaf saya terhipnotis sama kecantikan neng Tia. " Ucap bi Momon membuat Ruzen dan juga Tia terkekeh.
"Itu den, teman-teman Aden sudah ada di depan." Ucap bi Momon.
"Oh baik bi, sebentar lagi saya akan kedepan" Ucap Ruzen.
Bi Momon mengangguk, "sekalian saya mau mengambil pakaian kotor untuk di cuci." Ucap bi Momon.
"Oh iya."
Ruzen hendak berdiri tapi Tia lebih dulu menahan pergelangan tangan Ruzen, "biar Tia saja kak biar Tia sekalian belajar berdiri dan berjalan biar semakin lancar jalannya." Ucap Tia setelah itu ia berdiri dan berjalan dengan perlahan ke arah luar kamar mandi.
Tia memisahkan pakaian kotor itu, pakaian Ruzen di sendirikan. Sedangkan yang ia berikan pada Momonadalah pakaiannya, selimut, spray dan beberapa kain bantal.
"Ini bi, maaf ya merepotkan." Ucap Tia seraya menyerahkan satu ember berisi pakaian kotor pada bi Momon.
"Tidak apa eng." Sahut bi Momon.
"kalau begitu saya pamit dulu mau buat jamuan untuk tamu." Ucap bi Momonyang di angguki oleh Tia.
Setelah kepergian bi Momon, Tia kembali mendekat ke arah Ruzen dan duduk di pinggiran ranjang.
"Kak Zwn mau ganti baju?" Tanya Tia yang di jawab gelengan oleh Ruzen.
"Ini baru ganti kok, masih wangi." Ucap Ruzen.
"Itu kenapa pakaian kakak di tinggal sayang? Kamu nggak nyuruh kakak buat nyuci pakaian itu sendiri kan?" Tanya Ruzen menunjuk ke arah seember pakaian kotor yang terlihat jelas hanya berisi pakaian Ruzen saja.
"Enggak kak, itu nanti jatah Tia yang cuci." Ucap Tia.
"Kenapa? Kan ada bi Momon yang nyuci. Itu kan memang tugas mereka" Ucap Ruzen.
"Iya, tadi kan tugas mereka udah Tia kasih. Kalau buat cuci baju suami ya tugas Tia lah." Ucap Tia.
"Mereka boleh nyuci pakaian Tia, boleh juga spray bantal atau apapun, tapi untuk semua keperluan kakak, tetep Tia yang kerjain." Ucap Tia.
Ruzen tersenyum mendengar jawaban dari Tia, jujur saja ia di buat kagum, karna saat ia menanyakan sesuatu tentang apa
yang di lakukan oleh Tia,Tiaselalu memiliki patokan untuk menjawabnya.
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu kita ke depan yuk, pasti bang Sigit sama yang lain udah datang." Ajak Ruzen.
"Ayo kak."