Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Eps 48 Tangisan Kekecewaan


__ADS_3

"Sudah, sudah kamu yang tenang ya. Mama tidak akan kemana-mana, cepat makan makanan kamu. Mama juga harus mengurusi Rian dan papa yangvjuga lagi bersedih" Ucap Lusi.


DEGHHH


Hati Ruzen rasanya seperti di tusuk ribuan kali. Apa Mamanya tidak memikirkan kalau Ruzen juga sedang bersedih bahkan jauh lebih swdih dari pada Arman dan Rian.


"Tapi maa...-"


Belum sempat selesai bicara, Lusi Sudah terlebih dulu keluar kamar meninggalkan Ruzen dan Tia yang tengah bersedih.


"Kak Zen" Ucap Tia memanggil.


"Sakit banget rasanya" Ujar Ruzen dengan tangan yang meremas dadanya dengan kuat.


Tia pun langsung mendekat dan langsung memeluk Ruzen dengan erat.


"Nggak papa kak, mungkin mama hanya ingin menenangkan papah dan bang Rian.lagian di luar juga masih banyak tamu yang ziarah jadi mungkin mama hanya ingin menemani mereka." Ucap Tia menenangkan agar Ruzen tidak berpikiran yang aneh-aneh kepada Lusi.


Ruzen menggelengkan kepalanya lalu membalas pelukan Tia tak kalah kuatnya menumpahkan rasa sedih yang berlipat lipat ganda di hari itu, rasa sedih karena telah kehilangan satu-satunya orang yang menyayangi dirinya. Dan rasa sedih karena kembali melihat perlakuan sang Ibu padanya, kenapa harus di hari ini ia


menyaksikan ibunya yang lagi-lagi lebih mementingkan Rian dari pada dirinya?.


"Sudah." Ucap Tia seraya melepaskan pelukannya dan menangkap kedua pipi Ruzen lalu menghapus air mata Ruzen dengan lembut.


"Jangan nangis lagi, nanti Tia ikutan nangis." ujar Tia merayu Ruzen.


Ruzen mengangguk lalu memaksakan senyum tipisnya, agar tak membuat Tia ikut bersedih karena dirinya.


"Bang Sigit, Rion sama Yogankesini nggak?" Tanya Ruzen seraya menghapus air matanya sendiri.


"Ada kak, tadi Tia juga lihat ada kedua orang tuanya Kak Rion datang.


Tapi mereka semua udah pulang tinggal Abang aja yang masih ada dibsini." Ucap Tia.


"Makan dulu ya, biar Tia yang suapin kak Ruzen" Ucap Tia yang langsung di angguki oleh Ruzen.


Tia berdiri lalu memutari ranjang dan naik ke atas ranjang di sisi Ruzen . Saat


Tia hendak menyuapkan nasi ke dalam mulut Ruzen, Ruzen lebih dulu menahan tangannya lalu mengambil alih piring yang berada di tangan Tia.


"Kakak bisa makan sendiri kok." Ucap Ruzen.


Tia tersenyum melihat Ruswb yang seperti itu, jelas Tia tahu bahwa saat ini Ruzen sedang berada di titik yang paling rendah dan titik terburuk.

__ADS_1


Kamu hebat kak, aku nggak pernah lilhat orang sehebat dan sekuat kamu sebelumnya. Kamu yang tidak pernah mendapatkan kasihbsayang dari kedua orang tua. Dan disaat Tuhan memberikan


satu orang yang bisa menggantikan kedua orang tua kakak kini Tuhan kembali mengambilnya.


Tapi Tia yakin Allah pasti punya rencana yang paling indah dibbalik semua ini, kalau Tuhan saja percaya Kak Ruzen mampu melewati semua ini Tia akan jauh lebih


percaya bahwa kak Ruzen mampu


melewatinya.


"Kamu sudah makan belum?" Tanya Ruzen mendongak dan menatap Tia.


"Sudah kak." Jawab Tia sambil mengangguk dengan senyuman.


Ruzen ikut mengangguk lalu kembali


melanjutkan makannya yang sempat


terhenti.


"Oh iya kak, malam ini kedua orang tua kak Ruzenn sama bang Rian katanya bakalan nginep di sini." Ucap Tia.


"maksud Tia, siapa tahu aja nanti Kak Ruzen mau turun dan bergabung dengan mereka." Sambung Tia.


respon, ia sama sekali tak menghentikan makan nya hanya karena membahas mereka, apalagi Ruzen kembali menyaksikan ibunya yang sama sekali tidak memikirkan perasaannya.


"Sepertinya aku akan belajarnmenjadi orang yang keras lebih keras dari sebelumnya " Ucap Ruzen.


"Maksud kakak apa?"


''Tidak untukmu." Ucap Ruzen singkat yang justru membuat Tia semakin bingung dan tidak tahu apa yang dimaksud oleh Ruzen.


"Mereka sudah terlalu sering menyakiti ku , biarkan sebentar saja aku membenci mereka." Ucap Ruzen.


Tia terdiam karena tidak tahu harus merespon seperti apa. la hendak menasehati Ruzen agar tidak membenci atau dendam Tapi jujur saja Tia sendiri jika berada di posisi Ruzen mungkin akan membencibkedua orang tuanya lebih lama.


"Aku tidak dendam Tia, hanya saja aku sangat membenci mereka. Mereka terlalu sering menyakitiku hati mental dan juga pikiranku. Apa mereka tidak sadar melakukan semua itu padaku?" Tanya Ruzen seraya mengaduk-aduk makanannya dengan terkekeh kecil.


"Ah sudah lah, lupakan saja. Kenapa dengan aku hari ini ya? Biasanya aku nggak kaya gini loh." Ucap Ruzen yang kembali terkekeh.


"Nggak papa kak, Kakak juga manusia Kakak bisa merasakan sedih Kakak boleh merasa lelah Kakak boleh berhenti sebentar tapi aku mohon Kakak jangan pernah sampai menyerah." Ucap Tia seraya menggenggam tangan Ruzen dan


mengelusnya pelan.

__ADS_1


"Apa suatu saat nanti kamu juga bakalan ninggalin aku ?" tanya Ruzen.


Tia menggeleng lantas menjawab, "'sampai mati pun kakak nggak akan pernah aku lepaskan. Akan aku jaga seumur hidupku." ujar Tia dengan sangat yakin.


Ruzen meletakkan kembali piringnya di atas makas lalu mnenarik Tia ke dalam pelukannya.


"janjibjangan pernah tinggalin aku selamanya." ucap Ruzen.


"Janji kak." Sahut Tia seraya membalas pelukan Ruzen dan menyandarkan kepalanya di dada Ruzen.


Kedua insan itu berpelukan cukup lama, Ruzen memejamkan matanya mencoba menetralisir hatinya agar tidak kembali sedih.


jujur saja ia tidak mau terlihat lemah di depan siapapun termasuk di depan Tia sekalipun. Tapi entah kenapa walaupun ia


sudah berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikan lukanya tetap saja ia akan selalu lemah saat berada di dekat Tia.


"Gimana kalau Kakak lanjut makan dulu biar kuat." Ucap Tia seraya melepaskan pelukannya lalubmengangkat lengannya.


"semangat!!!" Ucap Tia seraya memperkuat


kepalan tangannya dengan senyuman.


"Semangat!!!!" Balas Ruzen seraya


melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Tia.


"Makan dulu oke." Ucap Tia


"Makan berdua?" Tawar Ruzen


"Enggak kak, Tia Udah makan tadi di bawah sama yang lain sama orang-orang yang ziarah yang lain." Tolak Tia dengan halus.


"Ya udah kalau gitu nggak usah makan aja." Ucap Ruzwn yang awalnya hendak meraih kembali piring yang ada di atas meja tapi ia urungkan setelah mendengar jawaban dari Tia.


"Ih kok gitu sih kan?!" ucap Tia.


Ruzen hanya mengangkat kedua bahunya lalu kembali menyandarkan tubuhnya ada sandaran ranjang, ia melipat kedua tangannya di depan dada lalu memejamkan matanya mode pura-pura ngambek.


"Ish dasar bad boy manja!" Ejek Tia.


Ruzensama sekali tak menghiraukan kan apa yang diucapkan oleh Tia. Dan masih tetap mode pura pura ngambek.


"Ya udah deh iya sini makan berdua." Ucap Tia pada akhirnya.

__ADS_1


Ruzen membuka matanya lalu tersenyum penuh kemenangan, setelah itu ia mengulurkan tangannya mengambil makanan yang masih berada di atas meja.


__ADS_2