
"Tia mau ikut kakak saja."
"Nggak papa cuma di situ aja kok"
Tia tetap menggeleng membalas genggaman tangan Ruzen.
"Tia tetap mau ikut." Ucap Tia kekeh pada pendiriannya.
"Ya sudah, ayo."
Ruzen membawa Tia berjalan ke tempat di gantungnya banyak kaos.
Setelah puas berbelanja, Tia pun teringat akan pesanan kakek yang menginginkan martabak telor.
"Kak, inget pesenan kakek. " Ucap Tia mengingatkan.
"Astaghfirullah kakak lupa, Ya udah ayok cari martabak dulu. " Ucap Ruzen yang mendorong kursi roda stia mencari penjual martabak telor yang ada di mall itu.
"Itu kak, " Ucap Tia menunjuk stand penjual martabak telur.
"yok kesana" Ucap Ruzen smbil mendorong menuju stand penjual martabak telur.
"Tia mau martabak enggak? Kalau mau kita beli dua" Ucap Ruzen menawarkan.
"Tia kenyang kak, tapi kalau kakak mau, ya gak papa beli dua sekalian."
"Emm enggak deh, nanti aja makan di rumah" Ucap Ruzen menolak.
Ruzen pun memesan martabak dengan ukuran besar pesanan kakek nya.
"Bang, Martabak jumbo satu di bungkus ya . pake telor ayam bang" Ucap Ruzen kepada penjual.
"Siap mas, ditunggu sebentar ya" Ucap Si penjual yang langsung membuat kan pesanan Ruzen.
Mereka pun menunggu pesanan nya selesai sambil duduk.
"Kamu yakin enggak ada yang mau di beli lagi? " Tanya Ruzen.
"Enggak kak, itu udah cukup banyak kok" Ucap Tia.
"Ya udah. Lain kali kalau mau beli sesuatu bilang ya sayang" Ucap Ruzen.
"Iya kak" ujar Tia sambil menganggukkan kepalanya.
Sekitar 15 menit kemudian, martabak telor pesanan Ruzen sudah jadi.
"Berapa bang?" Tanya Ruzen sambil merogoh saku nya.
"35 ribu mas" Ucap si penjual sambil menyodorkan martabak telor yang telah di masukkan ke dalam plastik.
"Ini bang," Ucap Ruzen menyodor kan Uang pas.
"Makasih mas " Ucap si penjual.
Setelah membeli martabak, Ruzen pun langsung menuju parkiran untuk kembali pulang ke rumah.
°°°°°°°°°
Ruzen menghentikan mobilnya tepat di depan rumah, ia langsung melepas sabuk pengaman dan
membalikkan badannya menghadap ke arah Tia sepenuhnya.
"Tiaa... Bangun dulu." Ruzen menepuk pelan pundak Tia.
"Ayo turun sudah sampai." Ucap Ruzen saat Tia sudah membuka matanya.
"Eh maaf kak." Tia langsung melepas sabuk pengamannya.
__ADS_1
Merekapun langsung masuk kedalam rumah.
"Kak Ruzen mau langsung kekamar atau gimana? Biar Tia masakan nasi goreng dulu." Ucap Tia.
"Mau nonton TV dulu ." Jawab Ruzen.
Tia hanya mengangguk.
"Tia ke dapur dulu ya masak." Ucap Tia yang di angguki oleh Ruzen.
Setelah kepergian Tia, Ruzen merebahkan tubuhnya di sofa dengan tubuh miring menghadap ke arah TV.
Lima belas menit berlalu, Tia kembali ke ruang tengah dengan dua piring nasi goreng yang ada di tangannya.
Tia meletakkan dua piring nasi goreng itu di atas meja lalu mendekat pada Ruzen yang sudah memejamkan matanya.
"Kak Zen.."
"Sudah?" ucap Ruzen langsung mengambil posisi duduk dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya.
"Sudah, ini minum dulu." Tia menyerahkan botol air mineral yang ada di atas meja dan memberikannya pada Ruzen.
"Terima kasih." Ucap Ruzen yang di angguki oleh Tia.
Tia meraih sepiring nasi goreng lalu ia serahkan pada Ruzen.
"Ini kak."
"Suapin." Ucap Ruzen membuat Tia mengangkat kedua alisnya merasa heran.
"Suapi?" ucap Tia kaget.
Ruzen mengangguk lalu membuka mulutnya lebar-lebar, "aaa."
"Makan sendiri ih kak. Tia juga mau makan." Ucap Tia.
ada di tangan Tia.
"Makan bareng." Ucap Ruzen.
"Yaudah makan bareng." Ucap Tia mulai menyendok nasi dan mengarahkan ke mulut Tia, Ruzen tersenyum dan langsung membuka lebar mulutnya menerima suapan itu.
Ruzen meraih piring di tangan Tia, "di buka dulu cadarnya." Ucap Ruzen dengan mulut yang masih penuh
dengan makanan.
Tia menurut membuka cadarnya lalu kembali mengambil
piring dari tangan Ruzen, "nih." Tia menyodorkan satu sendok nasi goreng ke arah mulut Ruzen.
"Kamu dulu,"
"Udah ih ini cepetan di buka mulutnya." Ucap Tia memaksa, Ruzen menurut dan langsung membuka
mulutnya..
"Kamu makan." Ucap Ruzen sembari memasukkan butiran nasi yang celometan di pinggir mulutnya.
"Bismillah..." Ucap Tia kemudian memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
"Hem." Ruzen berdehem pelan mendengar Tia membaca bismillah. Tia mengunyah nasinya sebentar, setelah itu Tia bertanya," Kenapa? Belum baca bismillah ya?"
"Lupa." Jawab Ruzen menggaruk tengkuknya cengengesan.
"Bismillah dulu." Ucap Tia kembali menyodorkan nasi goreng ke dalam mulut Ruzen.
"Bismillah bismillah bismillah.." Ucap Ruzen lalu membuka mulutnya menerima nasi goreng itu.
__ADS_1
Ternyta kalau di suapin sama istri rasanya jadi beda ya." Ucap Ruzen tertawa.
Tia tersenyum lalu kembali memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Butuh waktu selama sepuluh menit mereka menghabiskan nasi goreng itu.
"Alhamdulillah.." Ucap Ruzen dan Tia bersamaan.
"Minum." Ucap Tia menyodorkan sebotol air mineral
pada Ruzen.
"Kamu minum dulu baru aku minum." Ucap Ruzen, Tia menurut dan langsung meneguk minuman itu.
"Mau bobo sekarang?" Tanya Tia.
"Sebentar, biar nasinya turun dulu ke perut." Ucap Ruzen, Tia mengangguk menurut pada Ruzen.
"Kak Zen..."
"Hem?" Sahut ruzen dengan pandangan ke arah TV.
"kakak dulu pernah suka sama cewek nggak?" Tanya Tia.
Ruzen langsung menoleh ke arah Tia saat mendengar pertanyaan dari Tia.
"kamu emang kamu cemburu ya kalau kakak pernh suka sama cewek?" Tanya Ruzen.
"Enggak kok, Tia nggak cemburu, hanya kepo aja pengen tau.'' Jawab Tia.
Ruzen manggut-manggut lalu kembali menoleh ke arah TV.
"Kak. "
"Hem? Kenapa?" Tanya Ruzen.
"Kok nggak di jawab sih pertanyaan Tia?"
"Kita ke kamar aja dulu deh baru nanti aku cerita in." Ucap Ruzen.
Tia menghembuskan nafas pelan, sebenarnya ia sangat kepo sekali dengan wanita yang pernah di sukai di masalalu Ruzen, tapi ia tetap mengangguk.
"Ayok deh ke kamar dulu" ucap Tia.
Setelah mereka Tiba dibkamar dan merebahkan tubuh mereka dibkamar, Tia yang sangat penasaran pun tak sabar mendengar cerita Ruzen
"Sekarang?" Tanya Tia.
"Apanya yang sekarang?"
"Ih katanya tadi mau cerita soal cewek yang di sukai sama kak Ruzen?" Ucap Tia cemberut.
"Pengen tau aja atau pengen tau banget?" Goda Ruzen seraya menaik turunkan alisnya.
"Pengen tau aja."
"Yaudah nggak usah cerita aja kalau cuma pengen tau aja." Ucap Ruzen yang benar-benar membuat Tia kesal.
"Yasudah kalau nggak mau cerita" ucap Tia yang ngambek.
"Iya iya ini mau cerita, gitu aja ngambek. Ngambek ya?"
"Enggak kok." Jawab Tia menggeleng pelan.
"Jadi yang bener mau di ceritain atau enggak nih?" Tanya Ruzen yang di jawab anggukan oleh Tia.
"Namanya anggi.." Ucap Ruzen tersenyum ke arah Tia, Tia hanya diam saja tak berniat merespon terlebih dahulu.
__ADS_1