Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Eps 47 Tangisan Ruzen


__ADS_3

Arman memang tidak menyukai Tia karen arman sudah mendengar kabar kalau Rumah besar itu akan menjadi milik Ruzen dan juga Tia.


Bagaimana tidak, karena Tia hanyalah orang baru di kehidupan kakek Heri. sedangkan Arman adalah menantu yang membantu mengurus perusahaan heri tidak mendapatkan warisan apa apa.


Tetapi tia tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia masuk melewati orang orang yang memang sedari tadi ada di rumah itu menunggu kedatangan jenazah Heri.


Ruzen dan tia pun menuju ke kamar karena mereka berdua memutuskan untuk menunggu jenazah kakek nya di kamar karena di ruang tamu cukup banyak orang.


Sesampainya di kamar, Ruzen langsung merebahkan badannya dan langsung memejamkan matanya karena tak kuat menahan kesedihannya saat ditinggal kakek pergi untuk selama lamanya.


"Kak Zen, bangun kak jangan tidur terus, Tia takut" Ucap Tia yang duduk di samping Ruzen.


Ruzen yang tak sadarkan diri pun tak menjawab perkataan Tia. Tia yang menyadari itu pun semakin panik sambil terus menatap wajah Ruzen yang terlihat pucat dan matanya terlihat sepertiborang yang habis menangis. Mungkin itu yang menjadi alasan Ruzen sampai pingsan .dia tak kuat menahan tangisnya sampai akhirnya ia tak sadarkan diri.


Tia menarik tangan Ruzen lalu menggenggamnya dengan erat.


"Bangun kak jangan kayak gini dong" Ucap Tia penuh rasa khawatir dan mata yang berkaca kaca.


Ceklekkk


Tia langsung menoleh saat mendengar seseorang membuka pintu kamarnya.


"bagaimana keadaannya Ruzen?" Tanya Lusi yang berjalan mendekat ke arah Tia.


"Bukk" Tia langsung mencium tangan lusi saat lusi sudah berada di sampingnya.


"Kak Zen belum Sadar buk, mungkin kak Zen kaget dan syok banget makannya sampau kayak gini" Ucap Tia.


Setelah berbincang cukupblama Lusibpun kembali kedepan untuk menunggu kedatangan jenazah ayahnya.


Sementara itu tia memutuskan untuk berbaring di sebelah Ruzen. Ia langsung merangkak naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Ruzen yang sedari tadi belum tersadar.


tepat setelah setengah jam setelah Tia memejamkan matanya, Rion datang dan langsung membangunkan Tia dan Ruzen. Tia pun tersadar saat Rion memasuki kamar mereka.


"Kak Rion, tolong bangunkan kak Ruzen ya.." Ucap Tia.


Rion langsung mendekat dan mencoba untuk membangunkan Ruzen yang belum juga tersadar.


"Ruzen" Ucap Rion sambil menepuk pelan lengan Ruzen.


"Udah sejam lebih lo pingsan woy. Ayok bangun lo mau nemenin nemenin kakek untuk terakhir kalinya engga?" Ujar Rion yang masih menepuk lengan Ruzen.


Rion menghembuskan nafasnya pelan lalu menarik selimutnya sampai menutupi tubuh Ruzen sampai sebatas perut setelah itu ia memanggil Tia agar membangunkan Ruzen.


"Gimana Kak keadaan kak Zenbapa udah bangun?" Tanya Tia yang langsung di jawab gelengan oleh Rion.

__ADS_1


"Coba lo bangunin ya, gue mau bantu mandiin jenazahnya kakek Heri dulu." Ucap Rion yang dianggukinoleh Tia.


Setelah pergi meninggalkan kamar Ruzen, Rion langsung bergabung dengan Sigit


dan juga Yoga yang sedang memandikan jenazah kakek Heri bersama Rian.


Jenazah kakek Heri memang dimandikan secara khususbkarena ada beberapa luka yang sangat parah.


Tia kembali menangis saat melihat Ruzen yangbmasih saja memejamkan matanya,


sudah hampir 2 jam laki-laki itu terbaring tidak sadarkan diri.


Tia mendekat ke arah Ruzen dan kembali mencoba membangunkan Ruzen dengan


pelan pelan.


Memang sebelumnya Tia sudah di beri pesan oleh Rion agar Ruzen cepat keluar karena memang pemakaman kakek Heri akanbsegera dilaksanakan mengingat


kondisinya yang tidak memungkinkan


untuk berlama-lama didiamkan.


Tapi walaupun Tia sudah berusaha membangunkan, tapi Ruzen sama sekali tidak merespon, sampai akhirnya Arman yang melihat keadaan Lusi semakin menangis histeris memutuskan untuk segera memakamkan ayah mertua tanpa


menunggu Ruzen bangun dari tidurnya.


sang ayah sampai ke tempat peristirahatan terakhir.


Sedangkan Tia diminta oleh Sigit untuk menemani Ruzen di rumah takut saat Ruzen tiba-tiba bangun tidak ada siapapun yang bisa menemaninya.


-------


"Eumh..." guman Ruzen yang baru saja


terbangun dari pingsannya langsung


menggeliat, ia memijat kepalanya yang terasa sangat sakit.


Tia yang baru saja selesai mengerjakan salat langsung beranjak dan berjalan mendekat ke arah Ruzen.


"Kak Zen udah sadar?" Tanya Tia seraya mengulurkan tangannya mengambil segelas air yang ia letakan di atas meja dan langsung menyerahkannya pada Ruzen.


"Makasih Yaa." Ucap Ruzen seraya menyerahkan kembali gelas itu


pada Tia.

__ADS_1


"Sama-sama kak, apa kepalarnya masih terasa pusing?" Tanya Tia yang dijawab gelengan oleh Ruzen.


"Keadaan Kakek gimana Tia? Sudah dibawa pulang?" Tanya Ruzen dengan nada sendu dan wajah yang sedikit tak bersemangat.


"Maaf kak, papa Arman meminta untuk jenazah kakek segera di kebumikan karena memang kondisi kakek yang tidak memungkinkan untuk menunggu lama karena Kak Ruzen memang pingsan sangat lama lebih dari 4 jam." Ucap Tia hati-hati.


Ruzen memejamkan matanya lalu memukul pelan kepalanya yang terasa


sangat sakit mendengar ucapan Tia. Tia hanya melihat dan membiarkan Ruzen sekilas.


"Kenapa orang baik selalu diambil yang pertama ya ?" Ucap Ruzen terkekeh saat menatap Tia.


Tia tersenyum lalu berpindah duduk tepat di samping Tuzen dan langsung memeluk tubuh kekar itu.


"Siapa nanti yang bisa aku ajak berantem lagi? Nanti siapa yang manggil aku bocah tengil lagi?" Rengek Ruzen.


Hati Tia teriris melihat kondisi Ruzenbseperti ini Ruzen sama sekali tidak meneteskan air mata Satu tetes pun, dan Tia tau bahwa luka seperti ini jauh lebih menyakitkan dari pada luka. yang bisa menangis histeris.


Tok tok tok


Ruzen dan juga Tia menoleh ke arah pintu, saat mendengar suara pintu diketuk dari luar.


Ceklek


Ruzen dan juga Tia melihat Lusi yang baru saja datang dengan satu piring makanan dan berjalan ke arah mereka.


"Ruzen belum makan dari tadi kan sekarang makan dulu ya." Ucap Lusi perhatian.


Wanita itu datang dengan wajahnya yang sudah berantakan, mata yang bengkak seperti disengat lebah dan juga wajah nya yang terlihat memerah serta masih ada bekas tangisan di wajahnya.


"Mamaa, Kakekkk...." rintih Ruzen.


Lusi langsung tersenyum dan memeluk tubuh anaknya yang sangat terpukul atas kepergian kakeknya.


"Makan dulu ya sayang" Ucap Lusi sambil menyerahkan sepiring makanan kepada putranya.


"Ruzen mau peluk mama yang lama boleh kan?" Tanya Ruzen.


Lusi menghembuskan nafas nya dan ia meletakkan sepiring makanan itu di atas meja lalu kembali menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Ruzen dan langsung


memeluknya membuat tangis yang


sedari tadi ditahan oleh Ruzen pun langsung pecah.


"Ruzen takut ma..." Ucap Ruzen dengan pundak yang mulai naik turun beriringan dengan suara Isak tangisnya yang mulai terdengar.

__ADS_1


Lusi hanya diam seraya mengelus rambut anaknya dengan lembut.


"Kakek ninggalin Ruzen ma... Ruzen mohon, mama jangan ikut ninggalin Ruzen ya." Ucap Ruzen masih dengan di iringi tangisnya.


__ADS_2