
"Kak Zen.... Tia nggak bisa nafas.." Ucap Tia seraya memukul pelan perut Ruzen.
Ruzen terkekeh lalu melepaskan Tia, dengan segera Tia langsung menegakkan tubuhnya duduk dan menghirup udara dengan rakus.
"Siapa suruh ngetawain suami wlek." Ucap Ruzen lalu menjulurkan lidahnya tanpa dosa membuat bibir Tia mengerucut.
"Masih jam 14.00. masih ada waktu 1 jam lebih sedikit sebelum waktunya salat ashar, Tia ngantuk mau tidur duluya kak." Ucap Toa.
"Oke bos." Ucap Ruzen, ia mengangkat kepalanya dari paha Tia lalu membenarkan posisinya dan membentangkan tangan.
"Tidur sini sayang." Ucap Ruzen seraya menepuk lengannya.
Tia tersenyum dan langsung menggeser tubuhnya kemudian menjatuhkan kepalanya di atas lengan Ruzen.
"Kakak mau belajar romantis kaya Baginda nabi ah." Ucap Ruzen lalubmemiringkan tubuhnya menghadap ke arah Tia dan mendekap tubuh mungil itu.
Tia juga melingkarkan tangannya di pinggang Ruzen dan menyembunyikan wajahnya di dada Ruzen. Dan akhirnya sepasang suami istri itu mulai memejamkan matanya dan masuk ke dalam mimpi.
---
Tok tok tok
Tia terbangun lebih dulu saat mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Gadis itu menggusar wajahnya lalu mengucek matanya agar nyawanya terkumpul
sepenuhnya.
Tok tok tok
"Iya." Sahut Tia.
Tia mengangkat pelan tangan Ruzen yang berada di atas lengannya dan ia letakkan secara pelan-pelan. Tangannya meraih cadar yang ia letakkan di samping bantal dan langsung mengenakannya, setelah itu,
ia berjalan mendekat ke arah pintu dan langsung membukakan pintu.
"Oh bibi, iya bi? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Tia dengan sopan.
"Eh maaf neng, ini. Saya di perintahkan sama nyonya untuk memanggil neng sama den Ruzen untuk ke ruang tamu karna tuan dan nyonya akan segera pulang." Ucap bi Momon.
"Oh baik bi, sebentar lagi saya dan Kak Zen akan segera turun ya." Ucap Tia.
"Baik non, terima kasih. Kalau begitu saya permisi ya." Ucap bi Momon yang di angguki oleh Tia.
__ADS_1
Setelah kepergian bi Momon, Tia kembali masuk ke dalam untuk membangunkan Ruzen yang masihbtertidur.
"Astaghfirullah kebablasan tidurnya, udah jam 04.00 sore belum salat ashar lagi." Gumam Tia.
Ia lalu memutari ranjang untuk membangunkan Ruzen yang sedang tertidur pulas.
"Kak Zen, ayo bangun dulu udah sore loh udah jam empat kita belum salat ashar." Ucap Tia sambil menepuk pelan lengan Ruzen.
"Kak Zen..."
"Iya.."
Dengan terpaksa Ruzen langsung duduk dengan mata yang masih terpejam.
"Udah jam 04.00 sore Kak, kita terlambat salat ayo kita sholat ashar dulu habis itu kita kedepan, Kata bibi mama sama papa bentar lagi mau pulang." Ucap Tia.
"Iya." Sahut Ruzen masih dengan mata yang terpejam.
"Yaudah kalau gitu biar Tiayang ambil wudhu duluan ya." Ucap Tia yang di jawab anggukan oleh Ruzen.
Tia hanya geleng geleng kepala lalu masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Ruzen yang masih manggut manggut karena ngantuk.
Butuh waktu setengah jam untuk Ruzen dan Tia keluar dari kamarnya, karena memang setelah Tia selesai mengerjakan wudhu Ruzen masih sajabtertidur dengan posisi duduk yang membuat Tia harus kembali membangunkannya.
"Kita langsung kedepan ya Kak, soalnya mama sama papa mau pulangbsebentar lagi." Ucap Tia setelah mereka selesai mengerjakan salat ashar.
"Ya udah, pulang biarin pulang aja, emang mau ngapain kalau pulang mau disuruh nganterin?" Ucap Ruzen sinis.
"Ya setidaknya kan bisa pamitan Kak, siapa tahu aja mau ada yang disampaikan sama mama atau papa." Ucap Tia.
"Heleh di sampaikan. apanya yang mau di sampaikan? Palingan juga ngebacot lagi kayak biasanya." Ucap Ruzen memutar bola matanya membuat Tia geleng-geleng kepala.
"Udah ayo ih." Ajak Tia yang sudah selesai melipat mukenanya dan langsung berdiri mengulurkan tangannya pada Ruzen.
Ruzen menghembuskan nafas kasar lalu menerima uluran tangan dari Tia, akhirnya mereka berdua keluar dari kamar dan dengan Sam yang masih menggunakan sarung yang melilit di pinggangnya.
"Kenapa lama sekali Ruzen?" Tanya Lusi saat Ruzen dan juga Tia baru saja keluar, di sana juga ada Rian yang duduk bersama dengan kedua orang tua mereka.
"Habis solat." Jawab Ruzen dengan nada dan suara yang dingin.
"Ya udah kalau gitu mama sama papa mau langsung pulang aja ya, mama sama papa cuma mau nunggu kamu doang tadi." Ucap Lusi seraya berdiri dan mengangkat tas ranselnya di ikuti oleh Arman.
__ADS_1
"Tumben nungguin Ruzen." Ucap Ruzen terkekeh.
"Kak..." Tegur Tia berbisik lirih pada Ruzen memberi peringatan agar Ruzen tidak memancing keributan.
"Ya sudah, kalau begitu mama sama papa mau langsung pulang aja ya. Kalian berdua yang akur jangan berantem terus." Ucap Lusi.
"Kita berdua berantem?bEmangnya kapan Ruzen sama Tia berantem? Kita berdua Alhamdulillah sama sekali nggak pernah berantem."Ucap Rizen dengan suara yang sedikit dikeraskan agar terdengar oleh Rian.
"Maksud mama bukan kamu sama Tia, tapi kamu sama Rian. Kalian berdua yang akur ya di sini." Ucap Lusi yang membuat Ruzen sedikit kaget.
"Hab? Maksud mama apa? Mama mau tinggalin bang Rian di sini?" Tanya Ruzen.
"Iya, Abang bilang mau tinggal di sini dulu sama kamu untuk beberapa hari." Ucap Lusi.
"Lah, kenapa nggak bilang sama Ruzen dulu sih." Ucap Ruzen memberengut.
"Memangnya kenapa? Dia Abanh kamu nak." Ucap Lusi.
"Jangan mentang-mentang kakek memberikan rumah ini pada kamu terus kamu bisa seenaknya, kamu juga akan butuh kami jangan merasa sombong." Ucap Arman yang ikut nimbrung.
"Oke, kalau begitu silakan saja enggak apa-apa bang Rian boleh tinggal di sini Nggak cuman beberapa hari beberapa minggu beberapa bulan beberapa tahun bahkan selamanya juga boleh, silahkan." Ucap Ruzen.
"Nah gitu kan enak, lo jadi adik yang nurut dikit gitu kek sama Abang." Ucap Rian yang ikut berdiri dan mendekat ke arah mereka.
Sedang kan Ruzen hanya memutar bola matanyabmerasa geli dengan ucapan Rian.
Tapi lihat saja apa yang akan di lakukan oleh Ruzen setelah ini, Ruzen akan membalas semua yang sudah Rian lakukan kepada Ruzen.
Rian ini bodoh atau lupa tentang seberapa jahilnya Ruzen jika dia sedang tidak suka dengan orang?
"Ya sudah kalau begitu Mama sama papa mau pulang dulu ya. Kalian yang rukun jaga diri baik-baik." Ucap Lusi.
Ruzen tak menjawab, iya menggapai tangan Lusi dan mencium punggung tangannya dikuti oleh Tia.
Tia melirik sekilas ke arah Ruzen yang tidak menyalami tangan Arman, karena melihat Ruzen yang tidak mau menyalami Arman, Tia berinisiatif untuk menyelami Arman terlebih dahulu.
Setelah itu Tia kembali berjalan mundur berdiri di samping Ruzen lalu menyenggol lengan nya dengan sikunya.
"kak Sam."
"Kak.."
__ADS_1