
Ruzen hanya bisa diam saja ia juga menggusar wajahnya yang dibasahi oleh air hujan.
"Ada lagi nggak yang perlu di bicarain lagi? Kalau nggak gue harus pergi sekarang juga karena Rian *nunggu gue juga."
DEGH
Sakit. Satu kata yang dapat mendeskripsi kan perasaan Ruzen saat ini. Apalagi sebelum Ruzenbmenjawab, Anggi sudah berjalannmeninggalkannya.
Tangan Ruzen terkepal kuat, dengan rasa marah dan juga kecewanya Ruzen langsung berlari dengan cepat meninggalkan tempat itu.
"Sorry ya Ruan gue-"mata Anggi melotot saat ia melihat keadaan Rian yang sudah
mengenaskan di bawah guyuran hujan
Dengan cepat Anggi menoleh ke belakang melihat ke arah Ruzen yang tengah berlari cepat menjauh dari taman.
"Lo keterlaluan Ruzen*!"
Flash back off
"Astaghfirullah... Terus?"
"Setelah itu bang Rian koma, sampai hampir setengah tahun lebih lah." Ucap Ruzen terkekeh.
"Ya Allah.."
"Terus yang buat bang Sigit semakin benci sama Anggi? Ataubl hanya karena Anggi nolak cintanya Kak Zen doang?" Tanya Tia.
Ruzen menggeleng.
"waktu itu Anggi bilang sama mama sama papa kalau yang udah Hajar bang Rian
habis habisan itu kakak. Dan sejak hari itulah Mama yang awalnya selalu bela Kakak setiap papa marah menjadi sama kerasnya sama seperti papa." Ucap Ruzen terkekeh.
"Ya Allah kasihan banget sih suami aku." Tia menghapus air matanya lalu memeluk Ruzen dari samping.
Ruzen juga menghapus air matanya dan membalas pelukan Tia, karna memang Ruzen sudah menghentikan mobilnya di depan rumah Tia sepuluh menit yang lalu.
"Mungkin ini juga bisa jadi jawaban dari pertanyaan kamu kenapa bang Sigit inget sama bang Riwn sedangkan bang Rian nggak kenal sama bang Sigit." Ucap Ruzen.
Tia mendongak menatap ke arah Ruzen.
"Sebagian dari ingatan bang Rian memang hilang." Ucap Ruzen terkekeh.
Tia tidak lagi memikirkan pertanyaannya. Tia langsung meraih wajah Ruzen dan mencium pipi Ruzen.
Ruzen terkekeh melihat Tia yang seperti itu.
__ADS_1
"kamu kenapa nangis sih? Kakak aja biasa aja kok." ujar Ruzen
Tia masih tidak menghiraukan ucapan Ruzen dan terus mencium pipi Ruzen.
"Udah ya Allah, basah nih nanti pipinya." Ucap Ruzen.
"Mana ada basah, orang Tia aja pakai cadar kok." Ucap Tia seraya melepaskan Ruzen dan mengelap wajah Ruzen.
"Enggak kok, cuma becanda." Ucap Ruzen seraya menangkap tangan Tia.
"udah yuk turun." Ajak Ruzen.
Mereka berdua akhirnya turun dari mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah Tia.
"Assalamu'alaikum...."' Ucap Ruzen dan juga Tia secara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh." Jawab Sigit dan juga Yoga secara bersamaan.
kebetulan Rion juga sudah berada di sana tapi ia sedang fokus memainkan game yang ada di layar ponselnya sehingga dia tidak menghiraukan kedatangan Ruzen dan
juga Tia.
"Ah elah lu Ga!" Ruzen langsung berjalan mendekat ke arah Yoga yang posisinya sedang tidur di atas pangkuan Sigit.
Ruzen langsung menarik tangan Yoga agar mengangkat kepalanya dari paha Sigit.
Ruzen tak menghiraukan Yoga dan langsung menyerobot duduk di tengah tengah antara Yoga dan juga Sigit.
"dah, sini." Ruzen langsung menepuk pahanya saat ia sudah berada di samping Sigit menyandarkan tubuhnya pada Sigit.
"Nggak mau! Gue tidur di atas paha Tia aja." Ucap Yoga yang sukses membuat kedua mata Ruzen melotot.
Saat Yoga berdiri hendak mengambil air minum yang ada di atas meja, Ruzen yang mengira bahwa Yoga benar akan melakukan apa yang ia ucapkan langsung menarik rambut Yoga hingga tubuh Yoga
menubruk tubuh Ruzen karena saking
kuatnya kekuatan Ruzen saat menarik
rambut Yoga.
"Astaga Boss!!" Yoga memekik kaget saat Ruzen langsung menjambak rambutnya dan menjatuhkan kepala Yoga di atas pahanya.
"lo tuh nggak boleh macem macem sama istri orang gue santet juga lo!" Ancam Ruzen dengan tangan yang masih setia
menjambak rambut Yoga.
"Ah elah mau ngambil minum gue!!" Ucap Yoga kesal seraya mengangkat kepalanya dari paha Ruzen.
__ADS_1
tapi Ruzen tidak langsung percaya dan kembali menarik kepala Yoga dengan kuat hingga jatuh di atas pahanya.
"Bos! Anjing lo!" Tangan Yoga mulai tergerak memukul tangan Ruzen yang berada di atas kepalanya.
Tia yang menyaksikan itu hanya geleng geleng kepala sedangkan Sigit hanya diam menonton dengan wajah cengo.
"Ah elah bos, sebenarnya yang lo cemburuin itu Yoga nya atau bang Sigit nya sih?!" Tanya Rion tanpa mengalihkan pandangannya dari.game yang berada di layar ponselnya.
"Dua duanya." Jawab Ruzen tanpa dosa.
"Kak Zen... Keburu kesiangan loh." Ucap Tia mengingatkan.
"Astaghfirullah, iya sampe lupa." Ucap Ruzen seraya menepuk jidatnya membuat Tia dan juga Sigit geleng geleng kepala.
"Ah elah ya Allah.. Ribet emang kalau punya bos Tapi kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya." Ucap Yoga mendengus kesal serayabmengelus rambutnya yang baru saja di jambak dengan kuat oleh Ruzen.
Ini bukan pertama kalinya Ruzen seperti ini, Ruzen memang selalu cemburu jika ada salah satu diantara mereka yang lebih dekat dengan yang lain. Jadi harus paling dekat dengan dirinya.
"Lo lebaynya nggak ketulungan deh Ga. Perasaan gue cuman pegangin doang rambut lo." Ucap Ruzen seraya memutar bola matanya.
PLAK
"AGRHHHH" Suara Ruzen yang menggelegar terdengar memenuhi ruangan bahkan sampai membuat Sigit dan Yoga menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan.
"Itu cuman gue pegang bos." Ucap Yoga menirukan gaya bicara sama seperti gaya bicara Ruzen tadi kepadanya.
Ruzen berdecak kesal seraya mengelus pahanya yang terasa panas akibat tabokan dari Yoga.
Sigit yang sudah merasa kesal mendorong punggung Ruzen agar tidak menyandar padanya lalu ia berdiri, " ayo dek." Ajak Sigit menoleh ke arah Tia.
"Iya kak." Sahut Rion seraya berdiri dengan tatapan yang masih fokus kepada game yang berada di layar ponselnya.
Tia bahkan seperti orang gila yang kebingungan melihat tingkah geng Aneh ini.
"Udah, nggak usah di lihatin mereka, nanti bikin kamu pusing tujuh keliling." Ucap Sigit seraya melangkahkan kakinya keluar.
Tia hanya menghembuskan nafasnya pelan lalu beranjak menyusul Sigit yang sudah berjalan keluar.
Melihat Tia keluar, Ruzen langsung mendorong kuat Yoga yang tengah menjambak rambutnya dan langsung berlari keluar menyusul Tia dan juga Ruzen.
"Ah dasar monyet!" Yoga berdecak kesal lalu ikut berdiri dan menyusul kepergian mereka.
Lagi Dan lagi selalu Rion yang ditinggalkan di paling akhir, "Yeay menang..." Teriak Rion seraya melompat kegirangan.
la mengangkat kepalanya dengan bangga, tapi setelah itu bibirnya mengerucut saat ia melihat lagi lagi ia yang ditinggal sendirian.
"Ah elah Ini rumah siapa deh gue ditinggalin sembarangan." Ucap Rion mendengus kesal dan langsung berlari ke arah luar takut tertinggal lebih jauh oleh teman temannya.
__ADS_1