
Setelah itu Ruzen juga memainkan ponselnya membuka apapun yang ia lihat secara random.
085x XXXX XXXX: Ruzen.
"Anggi?" Gumam Ruzen saat melihat notifikasi pesan yang di kirimkan oleh Anggi.
Ruzen tidak langsung membuka pesan itu melainkan meletakkan ponselnya dan menutup matanya menunggu Tia keluar dari kamar mandi.
----------
Setelah menunggu selama 20 menit. Ruzen baru mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Ruzen mengangkat sedikit kepalanya melihat Tia yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah yang di bungkus dengan handuk kecil.
"Sebenarnya kalau perempuan lagi mandi itu ngapain aja sih?" Tanya Ruzen seraya bangkit dari tidurnya dan duduk menoleh ke arah Tia.
"Maksudnya?" Tanya Tia yang bingung dengan pertanyaan dari Ruzen.
karena baru saja ia keluar dari kamar
mandi langsung di tanya dengan pertanyaan seperti itu.
"Maksudnya, kalau laki-laki yang mandi kan cuma butuh waktu 5 menit udah, terus selesai, tapi kalau perempuan kenapa hampir setengah jam sendiri ya?" Tanya Ruzen membuat Tia terkekeh.
"Ya karna keperluan perempuan itu lebih banyak Kak." Ucap Tia.
"Emang bedanya apa? Sama aja sabunan, samponan sama sikat gigi kan?" Tanya Ruzen.
"Iya sih, cuman kalau Tia yang bikin lama itu tadi karna Tia habis luluran." Ucap Tia seraya duduk lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk yang sudah menempel di atas kepalanya.
"Duduk sini, biar kakak yang keringin rambutnya." Ucap Ruzen seraya menepuk sisi ranjangnya yang kosong.
"Nggak usah kak, biar Tia sendiri aja. Mendingan Kakak juga mandi sekarang sebelum kemaleman." Ucap Tia.
"Kakak kalau mandi cuma 5 menit sayang, sini cepetan biar kakak yang bantu keringin rambutnya." Ucap Ruzen.
"Nggak usah kak, mendingan Kakak juga cepetan mandi deh." Ucap Tia.
"Kamu nggak mau taat sama suami?"Tanya Ruzen membuat gerakan tangan Tia yang ada di atas kepalanya berhenti dan langsung menoleh ke arah Ruzen.
Tia menghembuskan nafas pelan lalu terpaksa berpindah tempat duduk di samping Ruzen.
"Sebenarnya kalau cuma buat keringan rambut, Tia bisa sendiri loh kak, dari pada ngerepotin kak Zen, gak usah di bantu kak. mending kak Zen mandi deh biar nanti selesainya bareng bareng." Ucap Tia seraya
membalik tubuhnya duduk membelakangi Ruzen.
__ADS_1
"Kan kakak udah bilang kalau kakak mandi cuma 5 menit aja udah selesai." Ucap Ruzen serayabmengulurkan tangannya membantu mengeringkan rambut Tia dengan handuk kecil itu.
Memang di kamar itu belum di sediakan hair dryer karena memang sebelumnya kamar itu adalah kamar kosong yang sudah lama tidak di tempati.
"Nanti deh kita bawa hair dryer punya Tia di bawa ke sini ya." Ucap Tia.
"Iya." Jawab Ruzen singkat dengan
tangan yang masih fokus pada rambut
basah Tia.
"Oh iya, tadi ada pesan yang di kirim sama Anggi. Coba kamu buka siapa tahu ada hal penting yang mau di bicarain sama dia." Ucap Ruzen.
"Kenapa nggak Kak Zen aja yang balas atau angkat aja?" Tanya Tia.
"Nggak papa, Kakak ngelakuin sama seperti apa yang kamu lakuin." Ucap Ruzen.
"Coba kamu buka gih, siapa tahu ada hal penting yang mau dia bilang." Ucap Ruzen.
Tia menurut dan langsung meraih ponsel yang berada di samping tubuhnya dan membukanya.
085x XXXX XXXX: Ruzen
"Ini mau di bales gimana Kak?" Tanya Tia sedikit menggerakkan kepalanya agar bisa melihat ke arah Ruzen.
Ruzen: iya?
Drrt Drrt Drrt
Setelah Tia berhasil mengirimkan balasan pesan untuk Anggi, tidak ada lagi pesan masuk yang dikirimkan oleh Anggi.
Melainkan malah ada panggilannmasuk dari nomor yang sama.
"Di angkat nggak kak?" Tanya Tia dengan tetapan yang fokus menatap ke arah ponsel Ruzwn yang memperlihatkan nomor tanpa nama itu.
"Di angkat aja nggak papa tapi kamu yang bicara, di loud speaker sekalian ya." Ucap Ruzen.
Tia mengangguk dan langsung menggeser
icon berwarna hijau untuk menerima
panggilan itu.
"Hallo Zen." Sapa Anggi dari seberang telepon saat telepon itu sudah tersambung.
__ADS_1
"Hallo." Sahut Tia lirih.
"Oh ini Tia ya? Maaf ya aku lupa kalau Ruzen udah punya istri." Ucap Anggi lalu tertawa terbahak bahak.
"Kenapa Nggi?" Tanya Ruzen yang ikut angkat bicara.
"Nggak jadi, gue mau bicara aja sama Tia aja." Úcap Anggi.
"Tia, aku mau main ke rumah kalian boleh nggak? Soalnya kata Yoga kalian berdua udah tinggal di rumah kakek Heri." Tanya Anggi yang di tujukan untuk Tia.
Tia menoleh ke arah Ruzen, Ruzen mengangguk ke arah Tia pelan lalu
mengambil jedai untuk merapikan rambut Tia.
"Boleh, nanti ada bang Sigit, Kak Yoga sama Kak Rion juga katanya mau di ajak nginep di sini sama Kak Zen." Ucap Tia.
"Wuih kebetulan banget, soalnya sekalian ada yang mau aku bicarain sama mereka semua. Aku juga mau minta maaf sama suami kamu sama Abang kamu juga." Ucap Anggi.
Mungkin jika Anggi berbicara seperti ini sebelum Ruzen menceritakan semuanya, Tia sudah pasti akan kebingungan. Tapi karena ia sudah mendengarkan semua cerita dari Ruzen, jadi dia langsung paham dengan apa yang di maksud oleh Anggi.
"Iya." Jawab Tia dengan singkat.
"Ya udah kalau gitu aku mau matiin teleponnya dulu ya , aku tadi cuma mau bicara itu doang kok." Ucap Anggi.
"Iya, Assalamua'laikum...." Ucap Tia lebih dulu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh...."
Setelah mendengar jawaban salam dari Anggi, Tia langsung mematikan sambungan teleponnya. Kemudian ia membalikkan tubuh nya menoleh ke arah Ruzen sepenuh nya.
"Udah? Makasih ya kak." Ucap Tia dengan tangan terulur menyentuh rambut nya yang sudah di jedai oleh Ruzen.
"Sama sama." Ucap Ruzen.
"Yaudah kalau gitu Kakak cepetan mandi dulu, biar Tia yang siapkan baju buat di pakai nanti." Ucap Tia.
Ruzen menurut, ia langsung berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Sedangkan Rum la mendekat ke arah lemari untuk
menyiapkan baju yang akan ia gunakan dan untuk Ruzen gunakan.
Tia menyiapkan satu gamis berwarna hitam dengan setelan hijab berwarna hitam untuk diri nya.
Sedangkan untuk Ruzen, ia mengambil kan sebuah kaos putih dengan lengan pendek dan juga celana jeans berwarna krem.
Seperti yang sudah di bilang oleh Ruzen sebelumnya, hanya butuh waktu 5 menit lebih sedikit untuk dia bisa menyelesaikan ritual mandi nya.
__ADS_1
"Makasih ya." Ucap Ruzen seraya mengambil baju dan celana yang sudah di siapkan oleh Tia, lalu berjalan masuk ke dalam ruang ganti baju yang hanya ditutupi dengan tirai berwarna biru.