
"Enggak kok, cantikan juga Tia." Ucap Ruzen.
"Kakak masih suka sama Anggi?" Tanya Tia.
"Enggak." Jawab Ruzen sembari menggelengkan kepalanya.
"Yakin?"
"Iya yakin, kan kakak udah bilang kalau nggak ada lagi perasaan itu." Ucap Ruzen.
Tia hanya menghembuskan nafas pelan.
"kamu cemburu ya?" Tanya Ruzen
"Kak Ruzen pernah juga ciumnanggi di sini?" Tanya Tia setelah iabmembuka matanya.
"Dimana?" Tanya Ruzen.
"Di sini maksudnya?" Tanya Ruzen masih mengelus bibir Tia dengan ibu jarinya.
"Iya, pernah?"
"Nggak pernah. Di sini, di sini, dibsini, di sini dan di sini juga nggak pernah." Ucap Ruzen seraya menunjuk semua tempat ia menghujani Tia dengan ciuman tadi.
"Bohong ya?"
Ruzen menggeleng.
"enggak bohong kok. Emang nggak pernah
kakak ciuman sama cewek manapun, kakak memang nakal. Tapi dalam hal perempuan kakak sama sekali nggak nakal." Ucap Ruzen seraya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
"Bagus deh, jadi Tia nggak di kasih bekasnya Anggi." Ucap Tia.
"Enggak dong." Jawab Ruzen dengan senyuman.
"mau lagi?" Tanya Ruzen.
"Nggak mau Kak," Ucap Tia yang langsung menjatuhkan kepalanya di atas kasur empuk dan menyembunyikan wajah nya di balik bantal karena malu.
"Kakak mau nyusun barang belanjaan tadi yaa" Ucap Ruzen.
"Ikut kak" Ucap Tia.
°°°°°°°°°
Mereka berdua menata bahan makanan yang tadi di beli ke kulkas. Setelah itu Tia menata Pakaian yang baru di belikan oleh Ruzen. Sedangkan Ruzen memasak untuk makan siang mereka.
"Sudah?" Tanya sam ketika melihat Tia yang keluar dari kamar dan mendekat ke arahnya.
"udah kak, kakak mau di bantuin engga?" Tanya Tia.
"Engga Sayang, ini udah selesai kok tadi juga di bantuin sama bi momon. Coba sini rasain dlu" Ucap Ruzen sambil meniup niup kuah sayur yang ia masak lalu memberikan suapan kepada Tia.
"Gimana Rasanya? Kurang apa kira kira?" Tanya Ruzen.
"Udah pas kak, enak banget rasanya" Puji Tia sambil mengacungkan jari jempolnya.
"Ya udah kalau gitu, ayok makan" Ajak Ruzen.
Tia mengangguk, Ia mengambil tempat untu Ruzen memindahkan sayur dan kemudian Tia mengambil dua piring nasi.
"Mau makan disini atau mau sambil nonton TV kak?" Tanya Tia.
"Mau sambil nonton TV aja deh" Ucap Ruzen.
__ADS_1
"Pinter banget sih kakak masak nya" Puji Tia saat memandangi makanan yang ada di atas meja tersebut.
Ruzen menoleh ke belakang melihat tia yang mendekat ke arah nya.
"Ayok sini makan dulu"
"Iya kak, Kakak mau makan pake lauk apa?" Tanya Tia.
"Sama Ayang" Ucap Ruzen yang langsung membuat Tia menatap ke arah nya.
"Kenapa sayang? Kakak mau ayam yang paha" Ucap Ruzen yang membuat Tia semakin terkekeh.
"Pasti kamu salah denger kan" Ucap Ruzen mengejek.
"Enggak kok kak"
"Kan kakak minta ayam bagian sayap, kenapa di kasihnya bagian paha?"
"Lah kan kakak tadi bilang minta bagian paha'' Ucap Tia kesal.
" Enggaa, tadi kakak minta yang sayap loh. Kamu kurang konsentrasi nih. Lagi mikirin apa sih?"
"Kakak aja yang jail sama Tia." Ucap Tia cemberut dan menukar ayam yang ada di piring dengan ayam bagian sayap.
"Lah, ini lagi kenapa di kasih bagian sayap?" Ucap Ruzen mendorong piringnya ke arah Tia.
"Lah tadi kan kak Ruzen bilang minta bagian sayap."
"Astaga sayang, kamu ini kenapa sih? Kakak tuh nggak suka bagian sayap, dagingnya kecil, Kakak tadi bilang minta bagian dada." Ucap Ruzen.
"Ih.. Jail bener kan!" Ucap Tia menabok kaki Ruzen membuat Ruzen tertawa terbahak-bahak.
"Udah ah, sini makan satu piring berdua aja." Ucap Ruzen seraya menggeser duduknya.
"Nggak mau. Nanti di usilin lagi." Ucap Tia memajukan bibirnya.
"Makan sendiri sendiri aja kak, soalnya Tia maem nya banyak kalau sepiring berdua pasti kurang" Ucap Tia Beralasa.
Ia tidak mau jika harus di goda oleh Ruzen selama makan.
"Kan kalau kurang bisa nambah, Itu mah alesan kamu aja, udh sini " Ucap Ruzen memaksa.
Tia menghembuskan nafas nya pelan dan memilih menurut apa kata Ruzen.
"Sini biar Tia suapin kakak," Ucap Tia sambil meraih piring yang di pegang Ruzen.
"Di buka lebar mulutnya." UcapTia.
Ruzen tersenyum lalu menurut dan membuka mulutnya lebar lebar.
"Enak." Ucap Ruzen.
"Pernah di suapin sama Anggi nggak?" Tanya Tia.
"Ih, kok ke anggi lagi sih?" Ucap Ruzen sedikit risih.
"Ya nggak papa, emangnya kenapa?" Ucap Tia sinis.
"Ya nggak papa, tapi kan ada pembahasan lain, jangan bahas sesuatu yang bikin kamu kesel nanti." Ucap Ruzen.
"Di jawab dulu, pernah di suapin enggak sama Anggi?"
"Engga pernah sayang" Ucap Ruzen berbohong.
Padahal ia pernah makan sepiring dengan Anggi dan bahkan mereka suap suapan.
__ADS_1
"Beneran?" Tanya Tia.
"Iya sayangg" Ucap Ruzen yang mengambil alih sendok yang ada di tangan Tia dan gantian menyuapi Tia.
"Nambah nggak?" Tanya Ruzen yang di jawab gelengan oleh Tia.
"Gitu tadi bilang sepiring berdua nggak kenyang."
"Heheh, abisnya kak Ruzen jahil banget. Ya Tia nggak mau lah sepiring berdua." Ucap Tia.
"Suudzon sama suami nggak tuh." Sindir Ruzen seraya berdiri dan membawa piring kotornya ke dapur. Tia mengikuti Ruzen.
"Bukan suudzon kak, kan emang kakak jahil." Ucap Tia.
"Jahil tapi suka kan?" Goda Ruzen seraya mendekat.
"Kan mulai deh." Ucap Tia.
" Kak Zen mandi dulu sana gih, dari
pagi nggak mandi."
"Emang iya?"
"Hadedeh..."
Setelah selesai makan, merekapun menuju kamar untuk beristirahat.
°°°°°°°°
"Agrhhhh kak... Astaghfirullah, maaf kak, sakit ya?" Tanya Tia saat ia membuka matanya posisinya ada di atas tubuh Ruzen.
Tia segera menggulingkan
badannya ke samping lalu duduk dan
melamati wajah Ruzen.
"Sakit nggak dadanya?" Tanya Tia, Ruzen tak menjawab hanya membalasnya dengan senyuman.Sama memiringkan posisi tidurnya lalu merentangkan tangan kirinya.
"Sini tidur." Ucap Ruzen menepuk lengannya.
"Solat dhuhur dulu baru tidur yuk." Ajak Tia.
"Belum adzan sayang, masih jam sebelas lebih sedikit. Sini." Ucap Ruzen kembali menepuk lengannya.
"Yaudah deh." Ucap Tia, ia menggeser tubuhnya lalu menjatuhkan kepalanya di lengan Ruzen.
"Kak Zen jadi kelihatan manja kalau kaya gini." Ucap Tia.
"Biarin." Ucap Ruzen seraya merengkuh tubuh mungil itu membuat wajah Tia menghilang di dada Ruzen.
"Tia nggak bisa napas." Ucap Tia dengan suara yang terredam membuat Ruzen terkekeh dan langsungbmelonggarkan pelukannya.
"Kak Ruzen kelihatan banget kaya kurang kasih sayang." Ejek Tia seraya menghirup udara dengan rakus.
"Iya, makanya butuh kasih sayang dari kamu." Ucap Ruzen.
"Emh, Tia cuma becanda tadi kak." Ucap Tia merasa bersalah.
"Tapi kakak serius, itu benar dan kakak memang butuh kasih sayang dari kamu." Ucap Ruzen seraya membelai pipi mulus sang istri.
Tia hanya tersenyum menanggapi ucapan Ruzen, ia tak tau lagi harus menanggapi bagaimana selain dengan senyuman.
Tia juga menggenggam tangan Ruzen yang ada di atas pipinya.
__ADS_1
"Kak Zen punya keinginan apa gitu nggak?" Tanya Tia.