BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
Rasa ku


__ADS_3

Sampai di rumah aku langsung menuju kamar untuk meletakkan kado dari Iqbal kemudian membantu ibu menyiapkannya makan malam di dapur.


"masak apa bu? " tanya ku sembari memeluknya dari belakang


"e-eh kaget ibu... ibu lagi bikin nasi goreng kak, adik mu kangen nasi goreng ibu katanya" jawabnya sembari mengaduk nasi di atas wajan


"huummm, harum sekali bu, pasti sangat lezat. oh iya, Jefri mana bu? " tanya ku mengedarkan pandangan ku ke segala arah


"tuh di kamar mandi, dari tadi main air nggak mau berhenti"


aku terkekeh mendengar jawaban ibu, memang adik ku itu suka sekali bermain air, apalagi ke kamar mandi dengan membawa mobil mobilannya, ia pasti akan sangat lama di dalam kamar mandi.


aku melepas pelukan ku dari ibu kemudian duduk di kursi makan.


"Senin depan Jasmin udah mulai masuk sekolah bu, hari ini hari terakhir Jasmin kerja sama bu Parni, tadi beliau ngasih gaji pertama dan terakhir buat Jasmin" ku hela nafas ku pelan, jujur aku sudha nhaman bekerja di tempat bu Parni, selain sabar, bu Parni juga memperlakukan ku dengan baik layaknya cucunya sendiri, berbeda dengan nenek ku yang justru terang terangan tak menyukai keluarga ku.


"alhamdulillah, itu rezeki kamu kak, jangan lupa di tabung ya... "


"siap bu bos! "


***


Hari senin pun tiba, aku telah siap dengan seragam biru putih ku, setelah berpamitan pada ibu, aku bergegas menuju ke sekolah dengan berjalan kaki.


sebenarnya ibu meminta ku untuk membawa motor ayah saja sebab motor itu telah mangkrak di teras rumah sejak kepergian ayah.


akan tetapi karena aku belum sepenuhnya bisa mengendarai motor pun memilih untuk berjalan kaki.


ku sapa beberapa tetangga yang berpapasan dengan ku dengan senyum mengembang.


beberapa tetangga juga mempertanyakan hal yang sama mengenai motor milik ayah, dan segera ku jawab seperti jawaban ku pada ibu.

__ADS_1


sesampainya di sekolah, aku menghampiri teman teman ku yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kelas.


"hei Jasmin, sini... " pekik Naila sembari melambaikan tangannya.


gegas aku berjalan cepat menghampiri ketiga sahabat ku itu dan duduk di bangku yang berada di samping Naila.


"kalian cepet banget datengnya" ucap ku setelah meletakkan tas ke dalam laci.


"iya dong, hari pertama kan biasanya berebut tempat duduk, jadi harus gerak cepat! " seru Vidya bersemangat.


"oh iya, nih aku punya oleh oleh buat kalian" Rania mengeluarkan tiga paperbag dan membagikan kepada aku, Naila dan Vidya.


"makasih Ran"


***


Hari berganti hari, Uang gaji ku dari bu Parni sudah ku berikan kepada ibu.


uang satu juta rupiah itupun ku berikan semuanya pada ibu, kemudian aku teringat ketika dulu sempat menjanjikan adik ku untuk membeli mainan, akhirnya aku meminta seratus ribu untuk mrngajak adik ku ke toko mainan.


aku juga sudah membuka kado dari Iqbal, rupanya ia memberikan ku sebuah hoodie berwarna krem yang sedikit kontras jika ku pakai mengingat kulit ku yang sedikit gelap karena setiap hari terkena sengatan cahaya matahari .


namun meski begitu aku tetap berterima kasih karena Iqbal juga peduli kepada ku, ia bahkan menuliskan alamat rumahnya dan meminta ku untuk mampir jika suatu hari nanti aku pergi ke kotanya.


***


ku jalani hari hari ku dengan belajar dan membantu ibu mempersiapkan jahitannya ketika pulang sekolah, aku bersyukur setidaknya kami masih ada pemasukan yang dapat mencukupi semua kebutuhan kami meskipun kami harus berhemat.


motor ayah sudah di jual ibu kepada pak de Somad karena tak ada yang bisa mengendarainya, terlebih waktu itu kami sangat membutuhkan uang karena stok beras dan kebutuhan dapur lainnya telah habis, jadi aku meminta ibu untuk menjualnya saja.


selain membantu ibu menjahit aku juga masih merawat sapi sapi ku sampai hari dimana mereka akan di jual untuk kebutuhan sekolah ku.

__ADS_1


***


Di kelas sembilan ini aku belajar dengan bersungguh sungguh agar nanti nilai ujian ku memuaskan.


meski sampai di rumah aku di sibukkan dengan pekerjaan rumah, akan tetapi aku tak ingin abai dengan sekolah ku apalagi mengingat ibu yang memberi ku semangat untuk tetap bersekolah.


bulan demi bulan pun berlalu, meski begitu rupanya perasaan ku terhadap Haris masih sama seperti dulu, apalagi hampir setiap minggunya aku menyempatkan diri menonton ia dan teman temannya latihan voli. hal itu membuat rasa penasaran serta rasa suka terhadapnya semakin menggebu gebu.


berulang kali Yuda memperingati ku, akan tetapi perkataannya hanya ku anggap angin lalu sebab dari semua ucapannya, tak ada yang terbukti satupun.


"lebih baik kamu hentikan perasaan mu terhadap Haris sebelum terlambat Jas" entah datang dari mana, ketika aku tengah fokus menatap Haris yang sedang asyik bermain voli, tiba tiba Yuda sudah berada di samping ku.


segera ku toleh kan wajah ku menatap Yuda dengan mata memicing. "kamu kenapa sih Yud, perasaan Haris nggak pernah macem macem deh, lagipula dia itu teman kamu, nggak sepantasnya kamu ngejelek jelekin dia kayak gitu! " jawab ku datar.


"aku hanya memperingati kamu aja Jas, karena menjaga perasaan kamu jaih lebih penting dari rasa mu padanya sekalipun"


setelah mengatakan hal itu, Yuda pun beranjak pergi meninggalkan aku yang termenung sendirian di sudut bangunan. ya, aku tak terang terangan menonton Haris bermain voli, melainkan aku mencuri lihat dari arah jauh seperti seorang mata mata.


tak ingin ambil pusing, akupun segera berbalik untuk pulang, ku rasa hari ini sudah cukup aku mencuri lihat Haris yang tengah bermain, aku tak ingin berlama lama karena pekerjaan ku di rumah tengah menanti ku.


"ayo aku antar pulang" Yuda datang dengan membawa motornya menghampiri ku yang hendak menyeberang jalan.


"eh nggak usah Yud, aku jalan kaki saja" tolak ku, aku masih kesal karena Yuda menjelek jelekan Haris pada ku, tapi sepertinya pria itu tak menyersh hingga akupun pasrah untuk di antar pulang.


"lain kali nggak usah terlalu baik sama aku Yud, kamu membuat aku jadi semakin nggak enak di perlakukan seperti ini sama kamu" ucap ku ketika kuda besi milik Yuda mulai berjalan.


"aku hanya peduli sama kamu Jas, meski kamu tak secantik Rania setidaknya kamu gadis manis dan baik hati, sayang aja kalau sampai kamu terluka karena ulah Haris hang nggak bertanggung jawab, lagipula Haris sedang mendekati Rania, emang kamu masih mau maju? "


aku tak menyanggah di katakan jelek secara tersirat akan tetapi bagaimana bisa aku menghentikan laju hati ku untuk berhenti menyukai Haris dengan tiba tiba.


"entah lah Yud, semakin lama bukannya menghilang, rasa itu semakin tumbuh subur seperti di beri pupuk di dalam hati ku, apa ini yang di namakan jatuh cinta ya Yud? "

__ADS_1


__ADS_2