
"aarrggh.."
Rumi memekik kesakitan kala balok kayu yang di pegang Nina tiba tiba mendarat di kepalanya.
aku terperangah sedikit kaget kala melihat adegan bak sinetron, yang tiba tiba datang seorang pahlawan yang akan menolong korbannya.
Dar ah segar mengalir dari pelipis Rumi yang rupanya berasal dari paku berkarat yang tertancap pada ujung balok tersebut. aku begidik ngeri membayangkan efek dari paku berkarat itu.
ku alihkan pandangan ku pada seseorang yang tiba tiba datang dan menendang lengan Nina sehingga balok kayu yang ia pegang menjadi salah sasaran.
dengan tangan dan kaki yang masih gemetaran, aku mencoba mundur untuk menjaga jarak dari jangkauan Nina dan Rumi, sembari memperhatikan pria yang tengah menatap sengit ke arah Nina dan Rumi.
"apa yang kau lakukan hah! " pekik Nina emosi kepada pria misterius yang tiba tiba datang. namun pria itu hanya diam membisu tanpa mrnjawab pertanyaan dari Nina
"ya ampun Rumi, Rumi kamu masih sadar kan, maafkan aku, ini semua salah Jasmin, kita mengalami kesial an gara gara gadis jelek itu" ucapnya mendekati Rumi yang terduduk sembari memegangi kepalanya yang masih mengeluarkan darah.
"arrgghh Jasmin sia*an, akan ku balas kamu nanti! " pekik Rumi di sela kesakitan nya.
pria itu mendekat ke arah Nina dan Rumi, merebut ponsel Nina dan membanting nya tepat di sebelah mereka duduk. Tak tersisa, ponsel itupun langsung pe cah seketika dalam sekali sentak.
pria itu mendekati Nina dan Rumi kemudian membisikkan sesuatu di telinga mereka.
entah apa yang pria itu katakan, tetapi dapat ku lihat jika kedua gadis itu tersentak kaget bahkan mereka langsung berdiri dan berjalan sambil tergopoh gopoh meninggalkan bangunan kosong ini tanpa sedikit pun menoleh ke arah ku.
setelah kepergian mereka, Pria itu kemudian membuka penutup hoodie nya dan berbalik berjalan ke arah ku.
aku memperhatikan wajah itu, rasanya begitu tak asing di mata ku kala manik mata itu bersirobok dengan ku.
"Jasmin... " panggilnya pelan
"ba-bagaimana kamu bisa tahu nama ku? " tanya ku terbata bata
"kamu, tak mengenali ku? " tanyanya terdengar seperti kekecewaan.
ku gelengkan pelan kepala ku, meski ada satu nama di pikiran ku, namun aku tak ingin menerka nerka, biarkan saja ia memperkenalkan diri agar aku tak salah mengenali seseorang.
__ADS_1
"kalung liontin" ucapnya
aku terdiam sesaat, kalung liontin, bukankah itu kado pemberian dari Wiliam, jadi dugaan ku tak salah sedari tadi, pria di depan ku adalah Liam, teman masa kecil ku.
"Liam? "
ia menyunggingkan senyumannya, ku rasa memang benar, ia adalah Wiliam.
"kamu ingat? "
"aku melihat dari manik mata mu.mata itu mengingatkan ku pada teman masa kecil ku, dan kalung liontin, aku memiliki satu dan itu dari mu" jawab ku sembari memperlihatkan kalung yang bertengger manis di le her ku.
"aku senang kamu mengingat ku"
aku hanya mengangguk, meski ini pertemuan pertama kami setelah berpisah cukup lama, namun aku tak merasa canggung sebab dulu kami sangat dekat dan Liam pun masih tetap sama, ia bersikap hangat dan sangat suka mengajak ku mengobrol.
setelah merapikan paka ian ku, Liam mengajak ku untuk pergi dari bangunan kosong ini dan membawa ku menuju kedai bakso yang tak jauh dari sekolah ku.
setelah memarkirkan motornya, kami berjalan beriringan menuju kedai bakso yang lumayan ramai.
ku tolehkan pandangan ku pada teman masa kecil ku, rupanya setelah berpisah cukup lama, ia mengalami banyak perubahan, bahkan tinggi badannya yang dulu sama dengan ku pun sekarang telah berubah, ia jauh lebih tinggi dari ku yang hanya sebatas pundaknya saja.
"ish jangan ke pedean dulu napa, aku tuh cuma heran aja sama kamu. perasaan dulu kamu itu tingginya sama deh kayak aku, kenapa sekarang jadi lebih tinggian kamu sih" jawab ku dengan masih sesekali menoleh ke arahnya.
"makanya tumbuh tuh ke atas, bukan ke samping. jadinya pendek kan! " serunya mengejek
aku mengulum senyum ku, sejak pertemuan pertama dengan Liam aku sedikit melupakan kejadian yang baru saja menimpa ku.
"pak bakso dan es jeruk dua ya, makan sini" pesan Liam, setelah itu ia membawa ku untuk duduk di kursi paling ujung.
"kamu apa kabar Liam, sudah lama sekali ya kita nggak ketemu, memangnya sekarang kamu tinggal dimana, bagaimana kabar om dan tante? " tanya ku beruntun kala kami sudah duduk
"seperti yang kamu lihat, aku masih bernafas dan duduk di depan mu. ayah dan bunda alhamdulillah sehat,
aku tinggal di rumah nenek, nanti aku ajak kamu berkunjung kesana. kamu sekolah di SMK 1? " tanyanya.
__ADS_1
"hu um, aku pengen banget jadi desainer jadi sekolah di sana ambil jurusan ta ta bu sana. oh iya, ngomong ngomong kamu tinggal di rumah nenek kamu, sama om dan tante kan ya? duh kangen banget aku sama beliau! "
"pasti karena sering lihat tante Hana jahit kan, makanya kamu pengen jadi desainer.
kebetulan ayah sama bunda masih tinggal di luar kota Jas jadi kamu gabisa nemuin mereka.
sebenarnya aku mutusin buat tinggal ikut nenek karena pengen ketemu kamu, sudah lama sekali aku nggak berkunjung ke rumah mu, sebenarnya ada, rencana mau kesana, tapi belum kesampaian, eh udah ketemu sama orangnya"
"sayang banget kita nggak satu sekolah, kalau tahu kamu bakalan sekolah disana, mungkin aku juga akan milih sekolah ditempat mu"
"memangnya kamu sekolah dimana? "
"di SMA 2, deket juga dari sini. oh iya, gimana kabar om dan tante? " tanya Liam.
"ibu baik Liam" jawab ku pelan sembari menunduk
"lalu om? " tanyanya
"eh kamu kenapa, kok tiba tiba nangis? " panik Liam kala melihat ku yang tiba tiba menangis, ia mengambar tisu dan langsung mengusap pipi ku pelan.
padahal aku sudah sekuat tenaga untuk tidak menangis, namun tetap saja, kala teringat oleh ayah, hati ku akan langsung lemah dan lelehan bening itu kembali keluar.
"ay-ayah sudah nggak ada Liam, ayah sudah meninggal satu tahun yang lalu" jawab ku lirih
"innalillahi wa inna Illahi rojiun, maaf aku benar benar nggak tahu Jas, maaf sudah buat kamu mengingat tentang ayah lagi, sudah ya, kamu harus tegar dan kuat, maafin aku udah buat kamu sedih lagi" lirih Liam.
"bukan salah mu Li, aku hanya belum mampu kuat jika kembali teringat ayah, maaf ya, sekian lama tak bertemu, aku justru malah kasih kamu tangisan" kekeh ku di sela tangisan.
"sudah sudah, kamu tenangin diri dulu ya... "
beberapa saat kemudian, pesanan kami datang.
aku menatap antusias pada satu porsi bakso jumbo yang sudah terhidang manis di depan ku.
namun sesaat kemudian aku terdiam, di momen ini aku kembali teringat pada Yuda yang kala itu mengajak ku memakan bakso setelah kehujanan dan rupanya hari itu adalah hari perpisahan kami.
__ADS_1
aku langsung menoleh ke arah Liam yang tengah menuang sambal pada mangkok nya.
"Liam, setelah ini kamu nggak bakalan ninggalin aku lagi kan? " tanya ku langsung.