
Semburat bahagia tercetak jelas dari wajah tua yang tengah melambaikan tangannya ke arah kami.
Nek Ida tersenyum penuh haru melepas kepergian kami yang akan kembali ke kampung.
hari masih siang, namun Yuda sudah mengajak ku untuk pulang, pria tampan itu mengatakan jika ia ada keperluan mendadak sehingga kami tak bisa berkunjung hingga sore.
mobil melaju dengan kecepatan sedang, menembus kemacetan yang masih saja terlihat di sepanjang jalan besar.
Terdengar helaan nafas pelan dari bibir Yuda, pria itu tampak menyugar rambutnya, seperti ada sesuatu yang tengah ia pikirkan.
"kenapa? " tanya ku pelan sembari menatapnya
Yuda menatap ku sekilas, kemudian kembali menatap jalanan di depan sana.
"nggak apa-apa, sayang, "
"yakin? " tanya ku sembari memicingkan mata
Yuda menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan, ia kembali menatap ku dengan tatapan lembutnya.
"sebenarnya aku nggak nyaman aja di rumah nenek. masak mau deketin kamu aja, harus di omelin panjang lebar dulu, tahu nggak, telinga ku sampai mau copot rasanya dengerin nenek ceramah mulu, "
"jadi dari tadi kamu cuma diem aja, itu karena lagi kesel sama nenek? ya ampun, bisa gitu ya, kamu sama nenek, "
"ya namanya juga anak muda, pengennya kan deketan terus, " gerutunya pelan
aku terbahak mendengar curhatan dari Yuda, Pria yang terlihat dingin dan penuh pesona kini tengah merajuk dan memperlihatkan sisi kekanak-kanakannya.
Ku tatap lekat mata pria yang juga tengah memandang ku,
"lain kali jangan bersikap kayak tadi di depan nenek, beliau kan memang dari dulu sudah menganggap ku sebagai cucunya sendiri, itulah mengapa nenek begitu sangat menjaga ku, harusnya kamu berterima kasih, bukannya merajuk seperti ini, " jelas ku
"ya, baiklah. akan ku coba, " ucapnya kemudian
setelah tenang, Yuda kembali melakukan mobilnya untuk pulang.
***
Hari demi hari pun berlalu, tak terasa sudah hampir satu minggu aku berada di kampung. besok pagi, aku sudah harus kembali ke Jakarta karena masa cuti ku telah usai.
__ADS_1
Aku kembali mengemas barang barang ku. Tak banyak yang ku bawa, hanya beberapa baju ganti dan skincare.
Ibu masuk ke dalam kamar ku dan langsung duduk di pinggiran kasur sembari melihatku yang tengah berlalu-lalang di depannya.
"di cek lagi, siapa tahu ada barang yang lupa di masukkan ke dalam tas, "
aku mengangguk, mulai mengecek kembali barang barang ku, " sudah semua kok, Bu, "
***
Keesokan paginya.
Pagi sekali, Yuda sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah. mobil yang beberapa kali mengatarkan ku pergi, ternyata mobil pribadinya yang di bawakan oleh seseorang dari Jakarta menuju Surabaya.
setelah berpamitan dengan ibu, aku pun segera naik ke mobil sedangkan Yuda masih tampak berbincang dengan ibu.
"maaf lama ya? " Yuda sudah masuk dan duduk di kursi kemudi.
Rencananya hari ini kami akan kembali dengan mengendarai mobil.
"enggak kok, emang tadi ibu bilang apa saja ke kamu? "
ibuku memang perhatian.
Mobil mulai berjalan pelan, menuju ke jalanan yang menghubungkan jalanan desa dengan jalanan besar di depan sana.
"kamu nggak apa apa, nyetir mobil sendirian begini? Jakarta jauh lo Yud, "
"nggak masalah, yang penting nanti kalau lelah langsung melipir ke area istirahat, "
"kenapa nggak bawa supir aja, setidaknya ada yang di ajak bergantian kalau kamu lelah? "
Yuda menggeleng, "nggak enak kalau bawa orang lain, "
aku menggeleng pelan, tak mengerti jalan pikiran Yuda saat ini.
Malam harinya, kami telah tiba di Jakarta, setelah menurunkan tas dan mengantarkan ku sampai di depan pintu kamar kos, Yuda kemudian berpamitan untuk pulang. aku mengangguk, dan melambaikan tangan ke arahnya.
***
__ADS_1
Keesokan paginya,
Aku telah siap untuk berangkat bekerja, setelah memastikan pintu kamar telah ku kunci, aku segera beranjak menuju keluar area kosan.
pagi ini, aku memutuskan untuk berjalan kaki setelah pagi tadi menghubungi Yuda agar tidak menjemputku.
namun siapa sangka, pria yang ku minta untuk tetap istirahat di rumah, kini telah berdiri di samping mobilnya, tengah melambaikan tangan ke arah ku.
aku bergegas menghampiri Yuda yang tengah tersenyum manis, pagi ini.
"kan aku udah bilang, kalau nggak usah di jemput, " gerutu ku
"memangnya kenapa sih, kan semalam aku juga udah banyak tidur, jadi pagi ini udah segeran, "
Yuda membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan aku untuk segera masuk.
"lain kali, kalau di suruh istirahat ya istirahat aja, nggak usah ngeyel. di khawatirin malah nggak sadar, " omel ku ketika Yuda sudah masuk ke dalam mobil
"baik sayang ku, " jawabnya sembari tersenyum manis
hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit, akhirnya kami tiba di parkiran butik. aku segera beranjak membuka pintu, namun Yuda kembali menahan tangan ku
"tunggu, " cegahnya
"nanti malam, aku jemput ya. ibu pengen ngobrol sama kamu, " Aku mengangguk pelan, berpamitan pada Yuda dan keluar dari mobil.
Aku masuk ke dalam butik dengan senyum mengembang, teman teman ku sudah datang dan tengah sibuk bersih bersih.
"cie yang sudah di lamar, " celetuk seseorang dari bekalang, aku menoleh, Kinan tengah tersenyum jahil ke arah ku
"apaan sih Kin, "
"udah jangan malu-malu mau gitu, aku nggak nyangka loh, kalau kamu tunangan sama mas Yuda, padahal kan kemarin dia sempet fitting tuksedo buat nikahan, "
"ya memang, tapi bukan buat dia, buat calonnya kak Tisha yang nggak bisa ikut fitting, " jelas ku
Aku memang tak pernah menceritakan hubungan ku dengan Yuda kepada siapapun, sehingga teman teman kerja ku sangat syok mendapat berita bahwa aku akan menikah dengan keponakan bu Tari.
"ah, begitu rupanya. pantas saja waktu itu, mas Yuda sangat acuh bahkan terkesan santai, eh nggak ternyata mereka cuma sepupuan, "
__ADS_1
aku menggeleng pelan, kembali melanjutkan langkah kaki menuju ruang loker untuk menaruh tas.