BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
67


__ADS_3

Aku duduk temenung di depan teras kamar kos ku, menatap tetes demi tetes air hujan yang tengah membasahi bumi.


Gerimis malam ini cukup menyejukkan hati ku yang tengah gundah gulana. alam seakan tahu, jika malam ini aku membutuhkan ketenangan.


pikiran ku mulai berkelana, mengingat kata demi kata tersirat dari tante Ayu. entah apa yang ia ucapkan, namun yang jelas, itu bukan sesuatu yang buruk.


siang tadi, ketika aku hendak berpamitan, tante Ayu mengajak ku makan siang bersama, disana hanya aku dan tante Ayu, sedangkan Yuda, ia sejak pulang dari luar bersama ku belum ada keluar kamar sama sekali.


"Kamu pasti rindu masakan mbak Hana kan, makan yang banyak, nanti tante bungkusin buat makan malam ya. " ujar tante Ayu sembari menyendokkan nasi di piring ku


"iya, Tante. "


"tante senang sekali bisa bertemu kembali sama kamu, nanti kalau sudah menikah, sering sering kesini ya, biar tante nggak kesepian, "


"a-ah... Jasmin belum kepikiran untuk menikah, Tante. Jangankan menikah, mempunyai kekasih pun belum, "


"Sudah, nggak usah pacaran segala. kalau mrkang sudah kenal dan cocok, lebih baik di segerakan saja, "


aku hanya mengangguk lemah, sedari tadi tante ayu selalu membahas tentang pernikahan, jujur saja aku sedikit risih, karena saat ini aku tengah menyembuhkan luka menganga yang ku buat sendiri.


namun tak mungkin jika aku akan protes karena aku tak enak hati menyela ucapannya. yang bisa ku lakukan hanyalah menerima setiap kata kata yang keluar dari bibir nya.


Ku hembuskan nafasku, aku sangat gusar hingga kepala ku terasa berdenyut nyeri.


malam aemakin larut, aku putuskan untuk kembali ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran ku yang sama sama lelahnya.


"lebih baik aku istirahat saja, siapa tahu, esok, hati ku akan sembuh dengan sendirinya. semangat Jasmin! ayo kita lalui hari hari seperti biasanya! " gumam ku menyemangati diri sendiri.


***


Selepas hujan semalam, kini, sang surya mulai menampakan eksistensi nya, memeberikan cahaya seeta kehangatan di pagi hari yang dingin ini.

__ADS_1


setelah mengunci kamar kos ku, aku bergegas untuk langsung berangkat ke butik, sekaligus membeli sarapan di sana.


"eh mbak Jasmin, sudah mau berangkat aja, biasanya jam segini masih molor, " sapa tetangga kos ku.


"iya mbak, Ana. saya mau sarapan nasi uduk di depan butik, makanya saya berangkat agak pagian, biar kebagian, "


setelah sedikit berbasa basi, aku pun melanjutkan langkah kaki ku untuk menyusuri jaln trotoar yang membawa ku menuju butik.


namun, kala aku keluar area kosan, disana terlihat seorang pria dengan perawakan tinggi, besar, tengah duduk bersandar pada kap mobilnya.


Yuda, pria itu sepagi ini sudah berkunjung di kediaman orang lain.


"Hai Jas, " sapanya dengan senyum manisnya, senyum yang sedari dulu ku rindukan kala kami berjauhan.


"mau apa kamu kesini? kalau mau ngajakin keluar kayak kemarin, maaf, aku menolaknya karena aku mau bekerja! " seru ku datar. aku tak ingin memperlihatkan tatapan memuja ku padanya karena aku tak ingin di anggap sebagai pelakor karena berdekatan dengan tunangan orang lain.


"sok tahu kamu. aku kesini cuma mau jemput kamu, ayo, aku antar kamu ke butik! " serunya sembari membukakan pintu mobil untuk ku.


"nggak usah Yud, lebih baik aku jalan kaki saja, "


"BIAR SEHAT! " Pekik ku kemudian berbalik, namun Yuda menarik kembali tangan ku dan membawa ku untuk duduk di kursi samping kemudi.


"kamu apa apaan sih Yud, jangan kurang ajar ya, "


"aku cuma mau nganter kamu ke butik, apa itu salah? "


"SALAH. kamu salah besar Yud, bagaimana bisa, orang mau menikah malah deketin cewek lain, kmu kira, aku apaan Yud? "


"siapa yang--"


"sudah deh, nggak usah banyak alasan, minggir, aku mau turun! " seru ku kesal

__ADS_1


"No! kamu tetap disini dan aku akan mengantarkan kamu berangkat kerja, "


Yuda segera menutup pintu dan berlari menuju pintu kemudi.


aku tak banyak protes, Yuda yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Yuda yang dulu, Yuda yang sekarang sangat pemaksa dan arogan, apalagi mata elangnya yang membuat siapa saja yang melihatnya merasa terintimidasi.


mobil melaju dengan kecepatan sedang, hingga tiba tiba Yuda membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan yang terletak di seberang butik tempat ku bekerja.


"kita sarapan dulu, ya, "


di sepanjang jalan, hingga tiba di rumah makan, aku memilih diam, selain tak ingin mendebat Yuda, aku juga tak punya cukup tenaga karena aku sudah sangat lapar.


Yuda memilih tempat duduk di dekat jendela agar bisa menghirup udara segar, katanya.


beberapa saat menunggu, makanan pesanan kami pun akhirnya datang dan aku segera menyantapnya tanpa menunggu Yuda terlebih dahulu.


namun, kala aku tengah fokus pada makanan ku, Justru Yuda lebih banyak diam, aku melirik sekilas untuk melihat apa yang tengah Yuda lakukan, rupanya pria itu tengah menatap ke arah ku.


"kenapa? malu ya, bawa cewek yang makannya banyak? " tanya ku ketika melihat Yuda sedari tadi diam.


"enggak, siapa bilang? aku tuh cuma sedang menikmati ciptaan Tuhan ku saja, "


"maksudnya? "


"kamu, cantik! " puji nya


"nggak usah kebanyakan ngegombal, nanti kalau tuh bibir menghayal ketinggian, takut kesangkut pesawat! "


"idih, siapa juga yang ngegombal, aku bicara apa adanya, paham?"


"yaa, terserah kamu saja, yang penting jangan libatkan aku kalau kamu berantem sama nona Tisha"

__ADS_1


"oke, baiklah... "


***


__ADS_2