BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
60


__ADS_3

Sesampainya di rumah, ku lihat ibu tengah mondar mandir di depan rumah dengan ekspresi cemas. aku segera berlari menghampiri ibu karena khawatir dengan beliau


"assalamu'alaikum, Bu, " salam ku kemudian mengecup punggung tangannya.


"wa'alaikumsalam, ya ampun Jasmin, ibu khawatir sekali sama kamu. " Ibu langsung memeluk ku, rasa cemas nya kini terganti dengan rasa lega setelah kepulangan ku.


"khawatir kenapa sih bu, Jasmin kan cuma pergi sebentar, tadi kata Naila sama Vidya, mereka sudah pamit ke Ibu? "


"iya, sudah. tapi Ibu nggak tahu kalau ada kejadian seperti ini, ibu takut kamu di amuk ayahnya Rania. mau bagaimana pun kan kalian bersahabat, pasti sedikit banyak kalian tahu satu sama lain, " jelasnya


"Ibu, tahu? "


ibu mengangguk, "makanya Ibu khawatir sekali sama kamu, Ibu juga nggak nyangka kalau Rania bisa hamil setelah lulus sekolah, "


"Ibu tahu dari mana, bahkan Jasmin saja baru denger tadi pas kesana?"


"ada tadi ibu-ibu tetangganya Rania, dia ada denger pas ayahnya Rania ngamuk-ngamuk dan minta Rania gugu rin kandung annya, "


astaga, aku tak menyangka jika berita yang baru saja ku dengar langsung menyebar di seluruh kampung, bagaimana dengan Rania, dia pasti syok dan malu jika banyak yang membicarakan dirinya.


"ya ampun, bagaimana ini, " lirih ku dengan perasaan gamang.


"sudah lebih baik kamu masuk dan fokus dengan diri kamu sendiri. untuk Rania, pasti kedua orang tuanya lebih tahu mana yang terbaik buat putrinya, Ibu harap kamu bisa menjadikan ini sebagai pelajaran hidup agar tidak mudah tergoda apalagi berbuat di luar batas, "


aku mengangguk, ibu benar, setiap kejadian pasti selalu ada pesan di dalamnya.


***


1 minggu kemudian

__ADS_1


berita kehamilan Rania telah menyebar keseluruhan penjuru kampung yang akhirnya membuat om Eko langsung meminta pertanggungjawaban pada Haris yang menjadi ayah biologis dari anak yang sedang di kandung oleh Rania.


Dan hari ini adalah hari pernikahan antara Rania dan Haris.


sedari pagi aku sudah datang ke rumah Rania bersama Naila dan Vidya untuk menemani Rania yang sebentar lagi akan melaksanakan ijab qobul.


1 jam sebelum acara di mulai, kami banyak mengobrol di dalam kamar Rania. menceritakan semua kisah pilu yang di alami Rania hingga ia bisa sampai hamil seperti ini.


"Jasmin, maafin aku ya, maaf karena sempat marah dan menganggap kamu ingin merebut Haris dari aku. maaf karena aku nggak dengerin apa kata kamu waktu itu sampai akhirnya hal ini terjadi, " lirih Rania sembari menatap ke arah ku.


"sudah aku maafin kok Ran, jadikan ini sebagai pelajaran ya, agar kamu bisa mendengarkan orang lain. Kadangkala perkataan orang lain yang menurut kita menyebalkan justru itu sebagai pengingat dan pertimbangan untuk kita.


semua sudah terjadi Ran, kamu juga sebentar lagi akan menikah dengan Haris, semoga dia bisa menjaga hati dan perasaan kamu ya. semoga dia bisa menjadi suami serta ayah yang baik untuk kamu dan anak kamu, "


Rania mengangguk, senyum tersungging dari bibirnya. "makasih ya Jas, " kami berempat berpelukan, meluapkan segala kerinduan yang selama ini hanya bisa di pendam karena persahabatan kami sempat renggang.


"makasih ya kalian, "


***


Acara pernikahan Rania dengan Haris berjalan dengan lancar meskipun hanya di hadiri oleh keluarga dari kedua belah pihak saja dan tanpa adanya resepsi seperti pernikahan pada umumnya.


selesai acara, aku, Naila, dan Vidya pun berpamitan untuk pulang karena memang acara telah selesai.


tiba di rumah ibu menghampiri ku dan menyodorkan ponsel ku yang tadi tengah ku cas di dalam kamar.


"Jasmin, tadi ada telpon dari bu Tari, katanya mau ngomong sama kamu. coba kamu telepon balik, mungkin dia ingin ngomongin soal pekerjaan yang ia tawarkan, "


aku menerima ponsel ku dan langsung menghubungi bu Tari.

__ADS_1


"Makasih ya, Bu, " ibu mengangguk kemudian pergi


tak berselang lama kemudian panggilan ku di terima, dengan segera aku mengucapkan salam kemudian berbasa basi sebentar.


"...... "


"baik, baik, bu Tari, saya akan urus semuanya, sekali lagi terima kasih, bu, "


"...... "


"wa'alaikumsalam, "


selesai mengobrol singkat dengan bu Tari, aku bergegas menghampiri ibu di dapur untuk memberitahu kabar bahagia yang baru saja ku terima hari ini.


"Bu, Ibu, " teriak ku dengan berlari tergopoh gopoh menghampiri ibu yang tengah memasak untuk makan siang kami


"Jasmin, kebiasaan kamu itu, ini bukan di hutan, jadi nggak usah teriak-teriak seperti itu, " gerutu ibu.


aku hanya nyengir kuda karena salah tingkah di tegur ibu, padahal sudah berulang kali ibu memberitahu dan berulang kali pula aku melakukannya.


"ya maaf, bu. bawaan seneng jadi lupa segalanya,"


"seneng? jadi benar kamu sudah boleh bekerja? " Ibu terlihat antusias, ia bahkan meninggalkan masakannya dan menghampiri ku yang tengah duduk di kursi makan.


"alhamdulillah bu, kata bu Tari, minggu depan Jasmin sudah bisa masuk kerja dan Jasmin di minta hari sabtu untuk berangkat ke Jakarta, "


"alhamdulillah, ibu ikut seneng kak. ya sudah sana siapkan keperluan kamu biar nanti nggak ada yang ketinggalan, "


aku mengangguk, setelah mengecup kedua pipi ibu, aku langsung kembali ke kamar untuk menyiapkan semuanya. Tak sabar rasanya menunggu dua hari sampai keberangkatan ku ke Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2