BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
52


__ADS_3

Hari yang ku kira akan menjadi manis karena bisa berkumpul kembali dengan ketiga sahabat ku pun berubah menjadi pahit.


aku mendengus kesal namun mencoba untuk tak terlihat oleh mereka.


segera ku rubah ekspresi ku dari yang semula kesal menjadi begitu manis karena tak ingin membuat ketiga sahabat ku curiga.


aku menghampiri ketiga sahabat ku kemudian kami saling berpelukan, melepas segala kerinduan yang menggunung.


"maaf ya nunggu lama" ucap ku ketika pelukan kami telah ku lerai.


"enggak, kita juga baru sampai kok" kata Vidya


"oh iya Jas, aku ajak Haris nggak apa apa kan? " tanya Rania.


aku menggeleng pelan, mana mungkin aku bilang jika Haris seharusnya tak perlu ikut, itu pasti akan membuat Rania kecewa pada ku.


"terserah kamu aja Ran, aku sama siapa nih? " tanya ku, padahal di awal rencana, aku akan berangkat bersama Rania, sedangkan Vidya bersama Naila.


"sama aku aja Jas. ayok berangkat sekarang, keburu rame tempatnya" ajak Naila. sebelum berangkat kami berpamitan pada ibu.


Sedari tadi aku banyak diam, aku juga tak ingin bertegur sapa dengan Haris si muka dua karena aku tak ingin berurusan dengan pria itu.


selama beberapa bulan terakhir ini memang Haris selalu menghubungi ku, berkirim pesan bahkan terkadang meminta untuk melakukan sambungan telepon


Namun aku hanya abai, bahkan tak ada sedikitpun niat ku untuk membalas pesan pesan yang ia kirimkan.


aku heran dengan sikapnya yang plin plan, padahal ia masih berpacaran dengan Rania, namun entah karena apa dirinya tiba tiba mulai menghubungi ku, bahkan yang ku ingat aku tak pernah memberikan nomor telepon ku padanya.


sejenak aku merenungi hal apa yang membuat Haris menghubungi ku namun tetap saja aku tak paham. entah itu niat baik atau buruk pun aku tak tahu.


padahal dulu ketika aku menyatakan perasaan ku padanya, ia menolak mentah mentah bahkan ia juga seakan jijik pada ku.


entahlah, aku semakin bingung di buatnya, yang pasti sekarang perasaan ku padanya telah menguap bersama kekecewaan dahulu


1 jam perjalanan akhirnya kami sampai di tempat tujuan, tempat pertama yang kami tuju adalah sebuah toko es krim yang baru baru ini tengah ramai di perbincangkan karena banyak sekali cabangnya


sedikit mengantre akhirnya kami bisa mendapatkan semua pesanan kami dan kami akan memakannya di taman kota sembari bercerita disana.

__ADS_1


***


Aku duduk lesehan beralaskan rumput taman bersama Naila dan juga Vidya sedangkan Rania memilih untuk duduk di salah satu kursi bersama Haris.


padahal niat kami keluar ingin menghabiskan waktu bersama namun Rania justru memilih bersama kekasihnya


"Sejak pacaran sama si Haris, Rania jadi berubah ke kita" gerutu Vidya


"iya, katanya pengen temu kangen tapi malah mojok sama Haris, aku semakin was was deh sama gaya pacaran mereka! " seru Naila, ia terlihat dongkol namun dari sorot matanya ia terlihat khawatir.


"memangnya Rania kenapa sih, bukannya dia cuma ngobrol doang sama Haris? " tanya ku penasaran.


memang setelah aku bekerja pada nenek Ida, aku jarang sekali pulang dan sekalinya pulang, aku akan menghabiskan wsktu di rumah bersama ibu dan Jefri


"kamu sih jarang pulang kayak bang toyib. Gini ya Jas, selama Rania sekolah di kota, hampir tiap hari si Haris itu ngedatengin kos kosannya si Rania, bikin aku khawatir, takut mereka salah jalan aja gitu" pungkas Naila yang memang satu sekolah dengan Rania


"bukan hanya di sana, di rumah pun si Haris rutin banget ngapel, padahal dulu Rania nggak seperti itu, ya kamu tahu lah dulu Rania kayak gimana, dan sekarang beda jauh sama yang dulu, kamu lihat aja sekarang contohnya" timpal Vidya


aku manggut manggut, ternyata selama kami berpisah banyak sekali cerita yang mereka pendam dan banyak perubahan dari ketiga sahabat ku terutama Rania.


apa sebegitu bucinnya dia sampai sampai di waktu yang seharusnya kita berempat kumpul, dia malah asik berduaan.


kami menyudahi pembahasan tentang Rania dan memilih menceritakan hari hari kami setelah kami lulus dari SMP.


tak terasa waktu sudah sangat siang dan kami memilih untuk ke masjid terdekat sebelum pulang.


"Rania sama Haris mana? " tanya ku kala melihat bangku yang di duduki mereka berdua telah terganti oleh orang lain.


"sebentar aku telepon dulu" Naila segera mengambil ponselnya dan menghubungi Rania, namun berulang kali menelepon, Rania tak kunjung mengangkat nya.


"nggak di angkat" ujarnya


"kemana tuh anak, dari tadi nggak ikut gabung, sekarang malah ngilang" gerutu Vidya. memang sedari tadi, Rania hanya bersama Haris dan tak berniat untuk menghampiri kami barang sebentar saja.


"kirim pesan aja, bilang kalau kita ke Masjid sebentar, setelah itu pulang, jadi dia nggak akan nyariin kita" saran ku di balas anggukan oleh Naila.


"iya gitu aja, lagipula dia lagi pacaran sama si Haris jadi biarkan saja, toh dia yang memilih pergi sama Haris kan, bukan sama kita"

__ADS_1


Setelah selesai mengirim pesan kepada Rania, kami segera menuju Masjid kemudian di lanjut pulang ke rumah masing masing.


***


Sesampainya di rumah aku segera membersihkan diri dan menghampiri ibu yang tengah menonton televisi bersama Jefri.


tak lupa ku bawa satu keresek camilan untuk di makan bersama yang ku beli tadi sebelum pulang.


"ini buat ibu" ucap ku menyodorkan amplop putih setelah aku memberikan camilan pada Jefri.


"apa ini kak? jangan bilang ini gaji kamu? " tanya ibu penuh selidik


"hehehe, iyalah bu, apalagi. kan ibu bundahara, jadi ibu pegang saja uangnya, kalau Jasmin yang bawa takut khilaf bu"


"kamu sudah besar masak begini saja harus ibu yang simpan, mulai sekarang belajar menyimpan uang sendiri karena ibu belum tentu bisa selalu menyimpan uang mu" ucapan ibu terengar ambigu, namun aku mencoba untuk menepisnya.


"apaan sih bu, uang Jasmin kan juga uang ibu, jadi ibu aja yang pegang, Jasmin terima beres aja! "


"ya sudah ini ibu tabung, kamu kalau butuh apa apa langsung bilang sama ibu, jangan di pendem sendiri, mengerti! "


"mengerti ibu ku sayang.... ". " oh ya bu, bu Tari anaknya nek Ida ngasih tawaran sama Jasmin"


aku teringat tawaran dari bu Tari, lebih baik aku tanya pendapat ibu saja supaya hatiku bisa mantap memilih.


"tawaran apa? "


"bekerja di butiknya bu... "


"loh, bukannya bu Tari itu tinggal di Jakarta ya, kok bisa nawarin kamu kerjaan, kamu kan masih sekolah juga kak"


"iya bu, tahu. bu Tari bilang setelah lulus aku bisa bekerja di butiknya, itung itung sambil belajar. tapi ya itu, harus ke Jakarta. Jasmin mana tega ninggalin ibu dan Jefri di rumah sendirian"


ibu tersenyum ke arah ku, senyum yang sangat menyejukkan. "ibu bagaimana kamu saja kak, kalau kamu tertarik kamu boleh ambil dan jangan mengkhawatirkan ibu dan adik mu di rumah. dengan kamu bisa menggapai apa yang kamu mau, itu sudah lebih dari cukup untuk ibu bahagia"


Aku tak menyangka jika jawaban ibu di luar dari perkiraan ku. ku kira ibu akan menolak mentah mentah karena aku harus merantau jauh, namun rupanya beliau malah mendukung ku.


"beneran bu? "

__ADS_1


"kamu pikirkan dulu matang matang, masih ada satu tahunn buat memikirkannya" ucap ibu.


__ADS_2