BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
73


__ADS_3

"Jasmin, tunggu! " serunya men-sejajarkan langkah kakinya dengan ku.


"ada apa, Haris? bukankah aku sudah pernah bilang, jauhi aku, kamu paham nggak sih? " ucap ku setengah emosi


"tunggu dulu, Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, ini soal Rania, " ucapnya langsung pada intinya.


aku yang ingin melanjutkan langkah ku pun akhirnya urung kala mendengar nama Rania di sebut, jangan bilang kalau Rania masih saja cemburu karena suaminya ini selalu mengganggu ku


"kenapa? " tanya ku datar


"kamu masih sama seperti dulu ya, cuek sekali dengan ku, " lirihnya


"sudahlah Ris, kamu mau ngomong apa, aku buru-buru, ada urusan, "


"Rania, dia berubah Jas, dia sekarang suka marah marah dan selalu manggil nama kamu, aku nggak tahu dia kenapa, tapi sepertinya dia pengen ketemu kamu. Kamu bisa nggak nemuin Rania, barangkali setelah ketemu, dia bisa seperti dulu lagi? "


Aku tak bisa membaca raut wajah Haris, namun, ucapannya terdengar begitu meyakinkah, tapi aku masih ragu, untuk datang menemui Rania, terlebih terakhir kali kami bertemu, ia bak kesetanan menyerang ku karena tak sengaja bertemu suaminya.


namun disisi lain, aku juga turut prihatin jika itu memang benar terjadi.


Aku tahu, di usia yang masih sangat muda, ia harus menjalani biduk rumah tangga yang tak mudah, terlebih dulu ia melahirkan secara cesar sampai membuatnya babay blues karena cemoohan dari mertuanya.


Sejenak aku menimbang, keputusan terbaik yang harus ku pilih.


"nanti aku akan kerumah kalian, sekarang, aku tak bisa karena ada keperluan lain, " putus ku kemudian


"apa tidak bisa sekarang? Rania tadi sempat menangis di kamarnya dan aku tak tahu harus berbuat apa lagi, "


"baiklah, aku akan ikut kamu sekarang, tapi aku tak bisa lama, "

__ADS_1


Haris mengangguk dan meminta ku untuk masuk ke dalam mobil. Tak nyaman rasanya satu mobil dengan laki laki, namun demi Rania, aku mencoba untuk bersikap biasa saja.


Aku mengirim pesan kepada Naila untuk mengabari jika aku akan mengunjungi Rania di rumah suaminya terlebih dahulu sebelum menemui mereka.


Setelah berbalas pesan, tak lama, mobil pick up itupun berhenti di sebuah rumah minimalis yang sedikit jauh dari tetangga, mungkin karena bangunan baru dan tanah milik keluarga Haris sangat luas sehingga rumah ini sedikit berjauhan dari pada yang lain.


Haris meminta ku untuk segera turun, dan mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumahnya.


Rumah ini sangat sepi, bahkan aku tak mendengar apapun selain bunyi langkah kaki kami dan suara jam dinding.


Kemana Rania dan anaknya, harusnya, rumah yang ada balitanya akan sangat ramai, namun disini benar benar sepi.


begitu aku masuk, tiba tiba Haris menutup pintu dan mengunci nya. hal itu membuat ku langsung menoleh ke arahnya dan panik seketika kala kunci rumah itu ia cabut dan di masukan ke dalam kantong celananya.


"kenapa di kunci? " tanya ku mencoba tenang


"kamu masih bertanya? tentu saja aku ingin bersenang-senang dengan mu, Jasmin, " jawabnya dengan senyum mengerikan.


"ck, kenapa harus mencari wanita sia*an itu hah, dia nggak ada di sini, kamu paham? "


"ja-jadi, kamu bohongin aku, Ris? kenapa kamu begitu asing sekarang? "


"bukan aku yang asing, tapi kamu, kamu yang belum sepenuhnya tahu tentang aku. ah, bukankah kamu menyukai ku ya? mari kita bersenang-senang, Sayang, " bisiknya di akhir kalimat.


aku menggeleng kuat, mencoba menepis tangan Haris yang mencoba meraih jilbab yang ku kenakan.


"kenapa menghindar, hm? "


"Haris, ingat. kamu sudah punya anak dan istri, kamu nggak boleh ngelakuin ini sama aku, "

__ADS_1


Sekuat tenaga aku mempertahankah semua yang melekat di tu buh ku, aku benar benar tak sudi jika Haris menyentuh ku, lebih baik aku m*ti saja dari pada di sentuh lelaki brengs*k seperti Haris.


Haris menghentikan langkahnya dan mendadak tertawa keras, aku bingung dengannya, sepertinya ia terkena ganguan mental.


"JANGAN BICARAKAN ANAK DAN ISTRI SIA*AN ITU, PAHAM! " Bentaknya membuat ku langsung menutup mata dan telinga ku.


Ada apa ini, kenapa Haris seolah tak memperdulikan keluarga kecilnya.


Saking lamanya tak pulang ke rumah, aku jadi tak mengetahui apapun yang sudah terjadi di kampung ini.


Sraakk


Karena masih terkejut, aku sampai tak menyadari jika Haris telah berhasil melepas jilbab hitam yang ku kenakan, ia bahkan menarik kuncir rambut ku hingga semuanya tergerai.


"wow, kamu sungguh sangat menggoda, Jasmine. Apalagi dengan rambut panjang mu itu, rasanya sungguh tak sabar ingin segera mencicipi mu, " ucapnya dengan senyum mengerikan.


"Haris tolong hentikan semua ini. aku akan segera menikah, jadi ku mohon, jangan mengganggu ku lagi! " aku naik pitam kala ia berhasil melepas jilbab yang ku kenakan hingga aku dengan berani membentaknya.


"dengan siapa? ah dengan si Yuda itu ya, dasar teman sial*n, bisa bisanya dia nikung cewek temannya sendiri, "


"aku tak peduli, meskipun kamu akan menikah dengan Yuda, aku pastikan dia akan menerima bekas dari ku, PAHAM! "


Haris meraih tangan ku dan menarik ku menuju salah satu kamar disana, ia menghempaskan tu buh ku di atas kasur, ia sendiri langsung melucuti pakaian atasnya dan langsung menyergap ku, kala aku hendak turun dari sana.


"mau kemana, hm? bukankah kita akan bersenang senang, sayang? " bisiknya di telinga ku


ia mengunci pergerakan ku, sehingga aku kesulitan untuk meronta, ia menciumi wajah ku namun aku selalu menghindarinya.


sudah tak terhitung seberapa banyak air mata yang ku keluarkan, jika saja aku bisa bela diri, aku pasti sudah mematahkan lehernya.

__ADS_1


'akankah ini akhir dari kisah hidup ku? '


BERSAMBUNG


__ADS_2