BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
42


__ADS_3

Di dalam kamar, aku tidur bersama Gita. waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 wib namun baik aku maupun Gita tidak ada yang mengantuk satupun


"oh, jadi Rania itu sahabat kamu..." sedari tadi aku menjelaskan kepada Gita tentang siapa Rania, bahkan aku juga menceritakan mengenai Haris yang notabene nya adalah kekasih Rania, pria yang dulu pernah menolak ku.


aku mengangguk "iya dan kedua teman ku lainnya. kami bertemu waktu kelas satu SMP, saat itu aku tengah sendiri dan tiba tiba mereka bertiga datang dan mengajak ku untuk bergabung dengan mereka hingga sekarang"


"aku salut sama pertemanan kalian, meski ada konflik tapi kalian masih bersama bahkan hubungan kalian tampaknya sangat erat"


"tapi ngomong ngomong, mereka bertiga nggak ada yang tahu kalau aku pernah suka dan juga pernah nembak si Haris, tapi entahlah kalau di Haris cerita sama Rania bisa saja Rania kesini lantaran tahu kalau aku pernah nembak pacarnya"


"seriusan? " tanya Gita melotot, ia bahkan langsung duduk dari rebahan nya.


"kenapa kaget begitu? "


"ya siapa yang nggak kaget, kalian udah berteman tahun tahunan, masak rahasia kamu nggak sedikit pun bocor ke mereka. ku pikir ketiga sahabat mu itu tahu kalau kamu pernah suka sama pacar Rania"


"nggak ada yang tahu kecuali satu orang selain Haris Git" lirih ku kembali teringat pada Yuda, dimana dis sekarang, bahkan ia tak mrninggalkan nomor ponselnya agar aku bisa berkabar dengan nya.


"siapa? "


"ada lah, dia teman ku, tapi sekarang sudah pindah ikut ayahnya ke luar kota"


"hm sayang banget, padahal kalau dia ada disini, aku mau wawancara dia"


"wawancara? buat apa? " tanya ku tak mengerti.


"ya kan dia yang tahu semua rahasia kamu Je, jadi pengen lah tahu kamu dulunya gimana pas ngejar ngejar si Haris, apakah kamu sebucin yang ku pikirkan atau enggak"


"ish apaan sih, enggak lah, aku tuh hanya sekedar mengagumi dan memupuknya menjadi rasa suka. lagipula pas dia nolak aku, aku nggak segalau yang ada di pikiran mu"


"iya deh percaya... " akhirnya dengan cibiran.


***


pagi harinya setelah membantu ibu menyiapkan sarapan dan kami makan bersama, aku mengajak Gita dan Jefri untuk jalan jalan, aku mengajak Gita melihat pemandangan desa sekalian pergi ke sungai yang tak jauh dari rumah.


tak henti hentinya Gita berdecak kagum, ia bahkan turut mengabadikan semua yang ia lihat dengan ponselnya.

__ADS_1


"kak Gita, Jefri juga mau dong di foto" ucap adik ku tiba tiba.


"lah, ku pikir kamu nggak mau di foto Jef, nih tadi kakak sampai foto kamu diam diam. ya sudah kamu pose dulu nanti kakak fotokan" ucap Gita. ia bahkan mengarahkan Jefri harus berpose seperti apa. sungguh ia selayaknya fotografer profesional saja.


tiba di sungai, Gita segera melepas alas kakinya kemudian buru buru turun je sungai, ia mengajak Jefri bermain air sedangkan aku memilih duduk di sebuah batu besar sembari memperhatikan Gita dan Jefri.


"hati hati main airnya" teriak ku pada mereka dan hanya di balas acungan jempol


hampir satu jam kami berada di sungai, Gita fan Jefri yang sudah kedinginan pun langsung beranjak dan mengajak ku untuk kembali ke rumah.


"ayo kita pulang Je, aku udah kedinginan ini, biasanya kegerahan eh sekarang malah kedinginan"


"ayo... " ajak ku.


kami pulang dalam keadaan ba sah kuyup, karena sebelum pulang tadi Gita dan Jefri menyeret ku menuju sungai hingga aku tercebur disana.


sesampainya di rumah, ibu sangat terkejut melihat anak anaknya pulang dalam keadaan ba sah kuyup, bahkan airnya pun masih sesekali menetes.


"astaga, kalian dari mana saja, kenapa bisa ba sah kuyup begini? " tanya ibu.


"dari sungai bu, enak tadi main main sama kakak Gita, terus waktu mau pulang, kak Jasmin kita ceburin ke sungai" jawab Jefri polos, sementara Gita hanya nyengir tanpa dosa.


***


siang harinya aku dan Gita mulai bersiap siap karena kami akan kembali ke kota.


"dek, ibu mana? " tanya ku pada Jefri yang tengah sibuk makan camilan dari Gita


"di dapur kak, lagi nyiapin bekal kakak"


aku menyusul ibu, rupanya beliau telah selesai dan hendak membawa kotak bekal itu ke ruang tengah


"bu... "


"sudah selesai berkemasnya? " tanya ibu


"sudah..., ternyata gini ya bu, rasanya jadi anak rantau, meskipun nggak jauh jauh amat, tapi kalau udah nggak bisa selalu di rumah, kerasa juga rindunya" ucap ku.

__ADS_1


ibu kembali duduk kemudian menatap ku " namanya juga kehidupan kak, meskipun kamu memilih bertahan di rumah, ibu yakin suatu saat kamu akan meninggalkan kampung ini, entah bekerja ataupun mendapatkan jodoh dari luar kota"


"nanti kalau ada apa apa kabari Jasmin ya bu, ibu harus tetap sehat dan jangan banyak pikiran"


"kamu tenang saja, ibu baik baik saja"


***


Aku dan Gita pamit pada ibu dan Jefri, terlihat mata adik ku berkaca kaca padahal sedari pulang hingga tadi, kami masih saling mengejek, namun tumben sekali siang ini ia terlihat murung dan sedih, atau jangan jangan ia baru merasakan tidak adanya kakaknya di rumah ia menjadi kesepian.


"kamu baik baik di rumah dek, jangan banyak main dan bantuin ibu di rumah" pesan ku di balas anggukan.


setelah selesai, aku dan Gita kembali berjalan menuju pinggir jalan untuk menunggu angkot.


"itu siapa Je, kok kayak ngeliatin kita gitu? " tanya Gita tiba tiba, aku yang melihat ke arah jalanan menunggu angkot pun menoleh ke arah Gita.


"siapa? "


"tuh" tunjuknya pada warung yang tak jauh dari tempat ku berdiri.


ku tajamkan mata ku menatap seseorang yang sedang di tunjuk oleh Gita.


perlahan di bangkit dan sepertinya ia akan menghampiri kami karena sedari tadi Gita mrnunjuk nunjuk ke arahnya yang membuat ia seakan terpanggil.


aku tersentak kaget ketika wajah orang itu semakin jelas terlihat.


aku memegang telunjuk Gita dan menyuruhnya untuk menurunkan jarinya.


"udah jangan di lihatin terus Git"


"emangnya dia siapa sih Je, kamu kenal? “


" nggak penting Git"


aku meminta Gita untuk fokus menunggu angkot, ku kira lelaki itu akan pergi ketika kami tak menghiraukannya lagi, namun dugaan ku salah, rupanya lelaki itu malah semakin dekat.


"Jasmin! "

__ADS_1


deg


__ADS_2