
Sesuai dengan prediksi nek Ida, bu Tari tiba pukul 2 siang bersama sang suami dengan mengendarai mobil dari Jakarta.
Aku segera berlari keluar untuk membukakan gerbang menyambut putri majikan ku itu.
Terlihat nenek Ida keluar rumah menghampiri mobil yang baru saja terparkir di depan rumahnya, beliau menyambut anak menantunya dengan tangis bahagia sedangkan aku membantu supir untuk menurunkan barang bawaannya.
"bu, ini kopernya langsung di taruh di kamar? " tanya ku sembari mendorong koper masuk ke dalam rumah
"iya langsung saja taruh ke kamar, nanti yang di kardus kamu taruh di dapur saja nak" ucapnya terdengar sangat halus.
Aku mengangguk segera membawa koper miliknya menuju kamar yang sudah di sediakan.
selesai menurunkan barang bawaannya, aku segera membuatkan minuman untuk anak majikan ku itu.
Empat cangkir teh hangat telah siap di atas nampan, dengan penuh hati hati aku membawanya menuju ruang tamu.
"silahkan di minum pak, bu... "
"terima kasih Jasmin"
aku mengangguk "sama sama bu.. "
aku beranjak untuk segera pergi dari sana, namun bu Tari meminta ku untuk duduk bergabung bersama mereka.
"sebentar Jasmin, duduk dulu. kita ngobrol-ngobrol dulu, tante sering denger ibu cerita tentang kamu, tapi belum pernah lihat kamu secara langsung" cegahnya, begitu pula nenek Ida yang turut meminta ku untuk duduk.
"ada apa ya bu? " aku sedikit tegang, takut jika selama bekerja disini aku terlalu merepotkan nenek Ida.
"jangan tegang begitu, tante cuma pengen tanya tanya kamu aja. oh iya, sekolah kamu kurang satu tahun ya? "
"iya bu, benar"
"rencananya setelah ini kamu mau lanjutin kemana?, kata ibu, kamu sekolah ambil jurusan tata busana ya? "
"mungkin tidak melanjutkan lagi bu. saya mau kerja saja biar bisa bantu ibu"
"sayang sekali. kata ibu, sketsa desain kamu bagus bagus, sayang kalau tidak di kembangkan. bagaimana kalau nanti kamu ikut tante ke Jakarta, buat mengurusi butik tante disana? " tawarnya terdengar menggiurkan.
jujur saja aku sangat ingin mengambil kesempatan itu, karena kata nenek Ida, selain butik, bu Tari juga memiliki konveksi sendiri. tetapi jika aku menyetujuinya, itu berarti aku akan meninggalkan ibu dan Jefri. masih satu daerah saja aku sering pulang karena rindu, bagaimana nanti jika aku ke Jakarta, apa aku bisa selalu pulang, pasti akan sangat sulit apalagi aku bekerja penuh waktu disana.
"kamu pikirkan dulu baik baik, kami tidak akan memaksa, hanya kami sangat suka dengan kepribadian kamu yang sangat baik dan ramah.
jika kamu berkenan kamu bisa bilang ke ibu agar memberitahu kami jika kamu setuju, nanti untuk transportasi, akan kami bantu" sambung pak Rizal, suami dari bu Tari
"nanti Jasmin pikirkan dulu ya bu, pak. karena ada ibu dan adik Jasmin di rumah jadi Jasmin harus merundingkan semuanya dengan mereka, terlebih ini juga masih lama" jawab ku.
__ADS_1
bu Tari tersenyum menatap ku "ibu tak salah memilih mu untuk tinggal bersamanya... "
Setelah sedikit berbincang, aku pamit undur diri, karena sore nanti aku akan pulang ke kampung.
sembari menunggu nenek Ida dan anaknya menyelesaikan makannya, aku memilih untuk berkemas pakaian yang akan ku bawa pulang nanti sore.
pintu kamar ku di ketuk dari luar, nek Ida memanggilku meminta ku untuk keluar sebentar.
"iya nek? "
"Nanti kamu pulangnya biar di antar supir saja ya, hari sudah terlalu sore, nenek khawatir sama kamu"
"nggak usah nek, itu terlalu merepotkan nenek sekeluarga, nanti Jasmin naik angkot saja, biasanya jam tiga sore masih ada yang lewat" tolak ku.
"sudah jangan menolak, nenek dan Tari khawatir akan keselamatan kamu, kamu itu perempuan, nggak baik jalan sendiri apalagi hari sudah sore.
ya sudah nenek tunggu di depan ya"
"iya nek, terima kasih banyak"
"iya sama sama... "
***
30 menit sudah aku di perjalanan, sebentar lagi sampai di rumah.
mobil berhenti di pelataran rumah, aku segera turun dan mengucapkan terima kasih kepada pak Budi karena telah berkenan mengantarkan aku untuk pulang.
Sebelumnya aku telah mengajak beliau untuk mampir namun beliau menolak karena memang hari sudah sore, beliau khawatir nyasar jika pulang terlalu gelap.
beberapa tetangga yang mengetahui aku pulang dengan di antar mobil. mewah pun berlari. menghampiri ku dan mencegat ku yang hendak masuk ke dalam rumah.
"eh Jasmin, tunggu dulu" ucap bu lek Gani, tetangga ku
"ada apa bu lek, mau cari ibu? "
"bukan. tapi itu tadi siapa, kok tumben pulang di antar mobil mewah, jangan bilang kalau kamu - " ia memicingkan matanya sembari menujuk ke arah ku, beberapa ibu ibu juga terlihat sangat penasaran akan kebenaran nya.
"oh yang tadi ya. itu pak Budi, supirnya Bu Tari anak dari nenek Ida bu Lek" jawab ku.
beberapa tetangga ku memang sudah mengetahui jika aku sekolah sambil bekerja. makanya mereka tak asing dengan nama majikan ku itu.
"jangan bohong kamu! " serunya tak percaya
"nggak lah bu Lek. itu beneran supir anak majikan ku"
__ADS_1
"oh begitu ya... ya sudah sana masuk kalau begitu"
setelah itu aku kembali melanjutkan langkah ku untuk masuk ke dalam rumah. tak lupa mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum memanggil ibu.
ku lihat ibu tengah berada di dapur bersama Jefri, segera ku hampiri mereka dan memeluknya dengan erat.
"astaga kak, ibu pikir tadi siapa. katanya pulang besok, kok hari ini sudah pulang? "
"iya, nek Ida bilang aku boleh pulang, jadinya ya aku pulang aja, udah kangen banget sama ibu"
"naik apa tadi? di antar lagi sama Liam? " tanya ibu. memang beberapa kali Liam mengantarkan aku pulang ketika libur sekolah, katanya ia rindu dengan ibu makanya ikut aku pulang ke rumah dan sorenya akan kembali ke kota
"enggak bu, Liam udah pulang ke rumahnya. tadi pulang di antar supirnya bu Tari anaknya nek Ida. ya ampun bu, mobilnya bagus banget! " pekik ku heboh.
"loh masak, kok ibu nggak kedengeran sih? "
"namanya juga mobil mewah bu, mana kedengeran mesin mobilnya! " seru ku.
sore ini aku menumpahkan segala kerinduan ku kepada ibu dan Jefri. aku juga memberitahu ibu jika bu Tari memberikan tawaran yang menarik, dan ibu bilang jika semua keputusan ada di tangan ku, ibu ingin aku memilih jalan yang memang sesuai dengan apa kata hati ku sendiri.
***
Keesokan paginya.
Hari ini aku dan ketiga sahabat ku berencana untuk berjalan jalan di sekitar taman kota.
Sudah lama sekali kami tidak berkumpul dan membagi cerita, pasti banyak sekali yang akan kami bahas nanti.
aku telah siap dengan pakaian terbaik ku pemberian dari nenek Ida bulan lalu. long tunik berwarna putih dengan rok dan hijab berwarna krem terlihat sangat cantik, tak lupa tak selempang pemberian bu Tari juga ku pakai.
ibu masuk ke dalam kamar, beliau menyunggingkan senyumnya kala melihat ku
"bagaimana bu? " tanya ku sembari memutar badan ku.
"anak ibu sangat cantik, baju ini sangat cocok sama kamu.
ya ampun, ibu sampai nggak nyadar jika anak perempuan ibu sudah menjadi gadis remaja yang sangat cantik" ungkap ibu penuh kekaguman.
aku tersenyum sangat manis, kemudian memeluk ibu dengan sangat erat "anak siapa dulu dong! " seru ku.
ibu melerai pelukan ksmi dan memberitahukan jika teman teman ku sudah sampai.
"sudah itu teman teman kamu sudah nungguin kamu di luar" kata ibu kemudian berlalu keluar.
segera ku raih helm yang berada di atas meja dan membawanya keluar untuk menghampiri teman teman ku.
__ADS_1
Sampai di teras, ku lihat ada tiga sepeda motor, padahal seharusnya hanya ada dua karena kami akan berangkat berboncengan.
namun pandangan ku teralih pada seseorang yang tengah duduk bersebelahan dengan Rania, ia tersenyum aneh kala aku menatap ke arahnya tanpa ada yang mengetahuinya.