
Cahaya rembulan mulai datang, menggantikan sang fajar yang mulai tenggelam. Aku duduk termenung di ruang tamu mengingat kembali kilasan masalalu yang telah ku lalui.
Rupanya menjadi dewasa tak semudah bayangan ketika masih kanak kanak, beban yang di pikul sangat berat, bukan hanya keluarga melainkan juga diri sendiri.
Aku kembali teringat percakapan Naila dan Vidya tadi siang.
"kalian sadar nggak sih, tadi penampilan Rania kayak orang habis bangun tidur, padahal dia nggak biasanya loh nerima tamu dalam keadaan masih berantakan kayak tadi, aku jadi curiga dia nyembunyiin sesuatu ke kita, " ujar Naila kala kami sampai di rumah ku
"kirain cuma aku doang yang ngerasa aneh, apalagi dia tadi sempet gugup beberapa saat kan, pas kita ajak bicara, " timpal Vidya
rupanya kedua sahabat ku juga merasakan seperti yang aku rasakan, namun aku tak ingin membuat fikiran buruk terhadap Rania, meski bagaimana pun, dia tetaplah sahabat kami, dan kami harus memaklumi dirinya.
"aku sebenarnya juga curiga, tapi kita nggak boleh negatif thinking dulu, kan kita juga nggak ada yang tahu tentang apa yang di lakuin Rania di dalam rumah. sudahlah, mungkin lain waktu kita main kerumahnya dan coba ngasih tahu dia pelan pelan. "
Pikiran ku kembali melanglang buana, terbang melayang tak tentu arah, kepingan masalalu kembali hadir.
"lagi ada masalah kak? " ibu datang dan langsung duduk di samping ku, meneliti wajah ku dengan seksama
"apa bu? " aku gelagapan karena ibu tiba tiba sudah berada di samping ku
"kamu lagi ada masalah? ibu perhatikan, sejak Naila dan Vidya pulang, kamu banyak melamun? " tanya ibu kembali
"nggak ada kok bu, Jasmin hanya nggak nyangka aja kalau sebentar lagi Jasmin akan lulus, "
ibu membelai lembut puncak kepala ku, entah beliau percaya atau tidak, aku hanya tak ingin membuat ibu kepikiran.
"kamu jadi terima tawaran dari bu Tari? "
aku menggeleng pelan, jujur aku mulai bimbang dengan keputusan yang akan aku ambil
"Jika Jasmin terima, nanti bagaimana dengan ibu dan Jefri? "
"kan ibu sudah bilang, lakukan apapun yang ingin kamu lakukan kak, masalah ibu dan Jefri, kamu nggak usah ambil pusing, kami bisa jaga diri dengan baik,"
"tapi kalau Jasmin pergi, ibu janji harus selalu jaga kesehatan ya, Jasmin berharap jika nanti Jasmin bekerja, ketika Jasmin pulang ke rumah, ibu menjadi orang pertama yang Jasmin temui. "
__ADS_1
"iya, kak... "
***
Minggu sore aku sudah kembali ke kota karena esok, aku akan melaksanakan Ujian Nasional.
sebelum pergi, terlebih dahulu aku menyambangi makam ayah dan meminta doa restu kepada ibu.
ibu memelukku dengan erat, beliau juga menyematkan doa agar aku di lancarkan dalam segala hal.
***
Keesokan paginya, aku sudah rapi dengan seragam putih Abu-Abu ku, hari ini dan beberapa hari ke depan, nek Ida melarang ku mengerjakan pekerjaan rumah, "fokus belajar dulu saja" itulah kalimat yang beliau katakan ketika aku menanyakan alasan mengapa aku tak di perbolehkan mengerjakan pekerjaan ku.
Aku sudah rapi, ketika akan keluar kamar, Nek Ida sudah terlebih dahulu memanggil ku
"Jasmin ayo makan dulu nak! " panggilnya dari arah dapur. Aku segera membuka pintu dan berlari menghampiri beliau.
"iya nek" balas ku di sela langkah ku menghampiri beliau.
Ujian hari ini berjalan lancar seperti harapan ku, semoga saja besok dan seterusnya selalu di permudah.
***
1 bulan kemudian
LULUS, satu kata yang membuat kristal bening keluar dari pelupuk mata ku.
Sedari tadi aku tengah berharap harap cemas di dalam kamar karena tak kunjung mendapatkan kabar dari wali kelas ku. padahal dari informasi yang aku dapat bahwa lulus atau tidaknya siswa akan di umumkan pukul 1 siang, sedangkan wali kelas ku mengumumkannya pukul 2 siang.
Aku segera keluar kamar untuk mencari nek Ida. ya, memang sampai saat ini aku masih di rumah beliau hingga urusan sekolah ku selesai, beliau pun tak keberatan karena beliau ada yang menemani di rumah.
"Nek, " aku berlari ke arah nek Ida yang tengah duduk di sofa ruang tengah, segera ku berhambur ke pelukan beliau.
"Lulus kan? " tanya nya dengan senyum bahagia seolah tahu jika aku benar benar akan lulus
__ADS_1
ku anggukkan kepala ku dan menatap beliau "iya nek, alhamdulillah... "
setelah memberitahu nek Ida, barulah aku menghubungi ibu untuk memberitahu berita baik hari ini. aku tak khawatir jika ibu menunggu karena aku tak memberitahu kapan pengumuman kelulusan itu di umumkan.
Selepas pengumuman kelulusan, biasanya akan di adakan acara perpisahan di sekolah.
aku menerima pengumuman jika acara perpisahan akan di adakan satu minggu kedepan.
segera ku hubungi ibu di rumah untuk mengabari beliau tentang acara tersebut, karena memang di acara perpisahan nanti, kami akan membawa salah satu orang tua kami.
***
1 minggu kemudian,
Pagi pagi sekali aku sudah berada di rumah Gita karena kami akan berhias sebelum berangkat ke sekolah, dan kebetulan MUA yang di sewa Gita adalah tetangganya.
Meskipun hanya acara kelulusan, akan tetapi kami di minta untuk mengenakan dresscode, yaitu mengenakan kebaya untuk perempuan, sedangkan Jas untuk laki laki.
aku kembali menghubungi ibu karena beliau juga akan datang ke kota pagi pagi sekali agar tidak terlambat. Aku bersyukur karena ibu sudah di perjalanan sehingga aku bisa berfas lega.
hampir satu jam kami di rias, hingga kami terlihat begitu berbeda dari biasanya. apalagi dengan mengenakan kebaya, kami terlihat sangat dewasa.
bu Siti, ibunya Gita sudah lebih dulu berangkat ke sekolah bersama ibu ibu yang lain, sedangkan aku dan Gita akan menyusul karena memang tadi kami belum selesai di rias.
Selesai di rias, aku dan Gita bergegas menuju ke sekolah dengan berjalan kaki karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh.
dari kejauhan aku dapat melihat gerbang sekolah yang mulai sepi, namun ada satu orang yang membuat ku terenyuh.
ibu, beliau tengah berdiri di pinggir gerbang sendirian dengan kepala yang menoleh ke kanan ke kiri seolah tengah mencari sesuatu.
Aku segera menghampiri ibu dan memeluknya erat, sungguh tak ada niat ku membuat ibu harus menunggu ku lama di luar sekolah sedangkan yang lain sudah lebih dahulu masuk.
"ibu, maaf, " lirih ku menahan laju kristal bening yang hendak keluar dari pelupuk mata ku. aku seolah menjadi anak yang kejam yang membiarkan ibunya menunggu sendirian di luar sekolah.
"sudah tidak apa apa, ibu juga baru saja sampai kok" ibu menepuk pelan pundak ku mencoba menguatkan ku.
__ADS_1