BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
39


__ADS_3

Setelah pertemuan ku dengan Liam, hampir setiap hari kami brkirim pesan untuk sekedar bertukar kabar setelah terakhir kali bertemu dan kami bertukar nomor telepon.


saat itu, setelah memutuskan untuk kos di kota, ibu membelikan ku ponsel agar aku bisa selalu berkomunikasi dan berkabar dengan orang rumah hal itu tentu membuat ku sangat bahagia sebab meski jarak kami berjauhan namun aku tetap bisa selalu bertukar kabar dengan ibu dan adik ku.


uang hasil dari menjual kedua sapi peninggalan ayah, ibu gunakan untuk membayar biaya sekolah ku dan juga adik ku, dan sisanya ibu tabung untuk keperluan darurat.


sedangkan untuk sehari hari, ibu mengandalkan dari hasil menjahit dan juga hasil ladang.


Hari - hari ku jalani seperti biasanya, berangkat dan pulang sekolah selalu bersama Gita, kami melakukan segala hal bersama sama bahkan tak jarang beberapa teman ku yang lain mengatakan bahwa kami adalah titisan upin dan ipin.


untuk Rumi dan Nina, meskipun mereka masih menampakan wajah bengis kala berpapasan dengan ku, namun mereka berdua tak berani mendekati dan membuli ku lagi, entah apa yang di katakan Liam sehingga mereka berdua langsung kicep dan tidak mengganggu ku lagi.


namun aku tetap bersyukur, setidaknya mereka tak kembali menyerang ku secara fisik maupun mental.


tak terasa sudah satu bulan aku disini, rencananya besok hari sabtu aku akan pulang ke rumah untuk melepas rindu dengan ibu dan Jefri.


"eh Je, Besok pagi jalan jalan yuk di Car Free Day deket alun alun mumpung hari libur" ajak Gita. aku yang tengah fokus pada langkah kaki ku menuju kosan pun seketika menoleh ke arah Gita.


"kapan kapan aja ya Git, kebetulan besok aku mau pulang ke rumah. kamu kan tahu sendiri, sudah satu bulan lebih aku nggak pulang" tolak ku halus


"kok nggak bilang bilang sih kalau mau pulang. eemm, gimana kalau aku ikut kamu aja, sekalian mau kenalan sama ibu, boleh kan Je? " pintanya memelas


aku menggeleng "ya jangan tanya aku, tanya sama ibu kamu dulu, boleh ikut apa enggak, kalau beliau ngizinin boleh boleh aja kamu ikut"


"iya deh, ntar sampai rumah aku langsung izin sama ibu, semoga aja di izinin"


aku langsung melanjutkan langkah ku menuju kosan sementara Gita berbelok ke rumahnya.


sampai di depan gerbang kos, nampak Liam tengah duduk di atas motornya sembari memainkan ponselnya.


"Hei! " seru ku menepuk pundaknya

__ADS_1


"eh, Jasmin, kenapa lama sekali? " tanyanya, ia turun dari motor dan berdiri di depan ku.


ku dongakkan kepala ku menatap wajahnya yang bersemu merah karena matahari, wajah yang bersih, putih nan rupawan kini seperti udang rebus karena sengatan matahari.


"iya, habis mampir ke minimarket sebentar tadi. tumben kamu kesini nggak ngabarin dulu, ada apa? " tanya ku


"enggak ada apa apa, hanya pengen ketemu kamu aja. Besok kan hari sabtu, rencananya aku mau ngajak kamu keluar"


"wah, sayang sekali aku nggak bisa ikut, besok aku mau pulang, rindu sama ibu dan Jefri! " ucap ku.


kenapa di akhir pekan kedua teman ku kompak mengajak ku keluar sih, padahal biasanya mereka tampak anteng saja ketika akhir pekan, kini giliran aku hendak pulang, mereka tiba tiba mengajak ku keluar.


"yah kok gitu, ya sudahlah, mungkin lain waktu aku ajak kamu keluar. kamu sudah makan? " tanyanya.


"belum sih, habis ini mau masak dulu buat makan siang, kamu mau? " jawab ku


"boleh! " serunya kemudian aku mempersilahkan Liam untuk masuk setelah aku membuka pintu pagar kosan.


setelah mempersilahkan Liam untuk duduk, aku mampir ke rumah bu Ima untuk meminta izin karena sudah membawa Liam untuk masuk ke dalam area kosan meskipun sebatas ruang tamu.


setelah selesai meminta izin aku bergegas menuju kamar kos ku dan berganti pakaian setelah itu memasak makan siang.


30 menit berkutat di dapur, kini masakan ku telah selesai dan akan ku bawa ke ruang tamu untuk menjamu Liam yang sedari tadi menunggu ku.


"maaf ya lama" ucap ku.


aku segera menghidangkan masakan ku, yaitu sayur bayam, tempe goreng dan sambal bawang, tak lupa kerupuk yang sering ku jadikan lauk ketika aku tak memasak.


"maaf kalau hanya ini" lirih ku kala Liam mengambil nasi serta sayur dan lauknya


"tak masalah, aku penasaran dengan masakan mu, apakah seenak masakan tante Hana, atau malah lebih enak masakan mu! " serunya kemudian mulai menyuapkan nasi ke mu lutnya

__ADS_1


aku harap harap cemas. khawatir jika Liam akan mengeluarkan kembali makanannya karena tidak sesuai dengan selera nya, namun ternyata tidak, Liam justru terlihat begitu lahap, bahkan sesekali mengusap keri ngat nya yang keluar karena kepedesan dengan sambal bawang buatan ku.


"ini enak loh Jasmin, teman ku memang juarakkk!" serunya dengan mengacungkan jempol tangan kanannya ke arah ku.


aku terkekeh geli, saking terlalu fokusnya pada Liam aku sampai lupa untuk mengambil makanan ku sendiri.


"makan Jasmin! " serunya sembari menyodorkan sendok yang terisi nasi dan tempe goreng


"ng-ngak usah Liam, aku bisa makan sendiri kok" tolak ku


"sudah ayo, aa dulu" karena Liam terus terusan menyodorkan sendokan, mau tak mau aku jadi mela hap nya. setelah itu Liam kembali menyuapi dirinya.


aku bergegas mengambil porsi ku sendiri dan langsung memakannya meski tangan ku terasa sangat gemetaran karena perlakuan istimewa dari Liam.


***


sore harinya, Gita datang ke kamar kos ku, ia bahkan membawa tas ransel dengan isi yang terlihat penuh.


aku hanya menggelengkan kepala ketika melihat Gita yang keberatan membawa tas ranselnya hingga ia letakkan begitu saja di lantai kamar ku.


"kamu bawa apa itu? jadi ikut aku pulang? " tanya ku


"iyalah Je, yakali aku mau pindahan ke sini padahal rumah ku di sebelah. ini tadi ada baju ganti, terus ibu bawain banyak camilan katanya buat Jefri, oleh oleh dari tantenya, katanya"


"Duh, jadi merepotkan tante Siti nih, harusnya nggak usah bawa apa apa Git" ucap ku pelan


"apaan, orang ibu seneng banget, katanya, ibu bersyukur banget karena aku mau keluar rumah, kan jarang jarang anak gadisnya ini keluar rumah, karena keluarnya sama kamu, jadi ibu percaya"


"sebenarnya ibu juga pengen ketemu sama ibu dan adik kamu, tapi mungkin belum berjodoh jadinya belum bisa ketemu, makanya ibu nitipin ini buat adik kamu" jelasnya panjang lebar.


"ya sudah, terima kasih ya. tapi ngomong ngomong, kamu kok udah kesini dan bawa tas ransel juga, kan kita berangkatnya besok. jangan bilang kalau kamu... " aku menyipitkan mata ku menatap Gita penuh selidik.

__ADS_1


__ADS_2