
5 bulan kemudian
"sayang..." lirih Yuda tepat di belakang ku. Aku yang tengah mengaduk sayur pun tersentak kaget, terlebih lengan kokohnya melingkar erat di pe rut ku yang sudah membuncit.
ya, aku sudah mengan dung, dokter mengatakan jika aku tengah mengan dung bayi kembar, itu sebabnya di usia yang baru menginjak 4 bulan, pe rut ku sudah jauh lebih besar daripada pe rut ibu hamil pada umumnya.
"sebentar Mas, masakan ku belum matang, " aku mencoba melepas pelukan suami ku, namun bukannya terlepas, ia justru mempererat pelukannya, Aku mendengus kesal, selalu saja seperti ini.
"bisa tidak kamu berhenti memasak, aku sudah menyiapkan asisten rumah tangga, buat apa kamu capek capek menyiapkan makanan buat aku, aku nggak mau kamu kelelahan, sayang " cerocos Yuda semakin membuat ku gemas.
"tapi aku suka melakukannya, Mas. lagipula aku hanya memasak, nggak mengerjakan pekerjaan lainnya. ya sudahlah, kalau kamu nggak mau aku masakin lagi, "
Aku mematikan kompor, melepas apron dan meletakkan asal di atas meja dapur, pergi meninggalkan Yuda yang melongo menatap kepergian ku.
entah kenapa, perasaan ku semakin hari semakin sensitif saja. jangankan Yuda, akupun bingung.
Aku berjalan menjauh, menuju ruang tengah kemudian mulai menyalakan televisi
"sayang, tunggu! " pekik Yuda yang setengah berlari menghampiri ku di ruang tengah
"apa lagi sih mas, katanya nggak boleh masak, ya sudah, aku nggak masak. " ucap ku merajuk
"boleh kok, kamu boleh masak. masak apapun yang kamu mau,"
"dasar menyebalkan! "
Aku memang merajuk, namun itu hanya berlaku beberapa menit saja, setelah itu kami selalu kembali berdamai.
Hari ini, hari Minggu, biasanya kami akan berjalan-jalan pagi keliling komplek, akan tetapi tidak untuk pagi ini, hujan turun sedikit deras membuat kami hanya bisa berdiam diri di rumah.
"sebentar, aku lanjutin masak ku dulu, " Aku hendak beranjak, namun Yuda langsung meraih lengan ku, meminta ku untuk duduk kembali.
"sudah biarkan, biar bibi yang lanjutkan memasak, kamu hari ini cukup berdiam diri bersama ku, mengerti! "
aku mengangguk pasrah, semakin di tentang, Yuda akan semakin keras meminta ku untuk istirahat.
__ADS_1
***
langit yang semula hitam pekat, kini sudah berganti cerah, hujan telah berhenti, menyisakan rintik-rintik kecil, membawakan hawa dingin.
Aku membawa nampan berisikan secangkir teh dan su su hangat serta kudapan menuju ruang kerja Yuda.
Ku ketuk pelan pintunya, sebelum aku membukanya.
"apa aku mengganggumu? " tanya ku sembari menyembulkan kepala, menatap Yuda yang masih sibuk dengan layar laptopnya
"sayang, ada apa? " tanya Yuda sembari beranjak dari duduknya, menghampiri ku
ku buka lebar pintu ruang kerja Yuda dan masuk ke dalamnya, ku letakkan nampan yang ku bawa di atas meja kemudian mendudukan diri di sofa.
Yuda turut mendudukan dirinya di samping ku, sesekali tangannya mengelus pe rut ku.
"apa kamu sibuk? aku sedang ingin minum bersamamu, "
Mungkin karena hawa hari ini sangat dingin, sehingga aku ingin sekali bermanja-manja dengan Yuda
"lebih baik selesaikan dulu pekerjaan mu, aku akan menunggu mu disini, janji tidak mengganggu, "
Yuda mengelus puncak kepala ku, "ya sudah, aku selesaikan pekerjaan ku dulu, setelah itu kamu bisa sepuasnya bermanja dengan ku, "
Aku mengangguk, menyandarkan punggung ku di sandaran sofa sembari mengamati Yuda yang kembali menghadap layar laptopnya.
Entah sudah berapa lama aku berada di ruang kerja Yuda, namun setelah aku tersadar, aku sudah berada di dalam kamar ku sendiri, dengan Yuda yang tertidur sembari memelukku dari belakang.
rupanya siang tadi aku ketiduran karena menunggu Yuda.
Aku mencoba merenggangkan pelukannya dan beranjak dari tidur ku, aku ingin ke kamar mandi.
"mau kemana? " gumam Yuda setengah mengantuk
"ke kamar mandi sebentar, mas tidur saja lagi, "
__ADS_1
Yuda segera membuka mata, menyandarkan punggungnya pada sandaran kasur.
"aku menunggumu, "
Ku anggukkan kepala ku, berjalan menuju kamar mandi, beberapa menit kemudian, aku kembali menyusul Yuda yang masih menunggu ku di atas kasur.
Ku lirik jam kecil di atas nakas, rupanya hari sudah beranjak sore, aku akan mengajak Yuda untuk Berjalan-jalan di depan rumah.
"jalan-jalan yuk, Mas, " ajak ku sembari duduk di pinggiran kasur
"aku siap siap dulu, " Yuda segera melompat dari atas kasur menuju kamar mandi, ia akan mencuci wajahnya.
***
Kini aku dan Yuda sudah berada di taman komplek, taman yang di tanami bunga warna warni serta terdapat beberap kursi disana.
Aku mengajak Yuda untuk duduk di kursi yang terletak tak jauh jari tempat ku saat ini, dengan membawa satu keresek kecil berisikan camilan, aku dengan semangat berjalan menuju kesana.
Sore ini langit tampak sangat cerah, menggantikan pagi yang sudah di terpa hujan, aku duduk sembari memakan camilan ku, bercerita banyak hal dengan Yuda suami ku.
"mas, terima kasih ya, sudah selalu sabar menghadapi sikap ku yang selalu kekanak-kanakan, terima kasih juga, sudah mencintai dan menyayangiku, menjadi sosok pelindung dan pelengkap kekurangan ku.
Maaf jika selama ini aku selalu menyusahkan kamu, tapi percayalah, aku, Jasmine Zainisa, akan selalu dan selamanya mencintai kamu,"
Yuda mengelus lengan ku, sembari tersenyum hangat,
"aku yang beruntung mendapatkan gadis cantik dan baik seperti kamu sayang, terima kasih telah menunggu, dan percaya pada ku, entah apa jadinya jika gadis itu bukan kamu, mungkin ia akan memilih menyerah dalam menunggu ku. sekali lagi, terima kasih, "
Kecu pan demi kecu pan ia labuhkan ke wajahku, aku sangat bahagia, terlepas dari apapun masalah yang pernah kami hadapi, baik aku maupun Yuda akan tetap bersama.
Aku bersyukur dengan takdir Tuhan yang maha baik, dengan segala kekurangan dan trauma di masa lalu, kini Tuhan menghadirkan sosok pendamping yang begitu menyayangi ku melebihi apapun.
Kini aku telah sembuh dari rasa sakit yang dahulu pernah ku rasakan, menyisakan rasa bahagia memiliki keluarga kecil yang saling melengkapi.
'Ayah, pilihan mu sanagt tepat, dan aku sangat bersyukur akan hal itu, terima kasih sudah mengajarkan banyak hal untuk ku, aku harap di kehidupan selanjutnya, aku akan tetap menjadi putri mu'
__ADS_1
TAMAT