BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
70


__ADS_3

Selepas makan, Yuda langsung mengantarkan aku pulang ke kosan karena hari sudah sangat malam.


setelah Yuda tak terlihat oleh pandangan, barulah aku masuk ke dalam kos kosan ku.


Hari ini cukup melelahkan, aku menghempaskan tu buh ku di atas kasur busa, sembari terus memikirkan kejadian demi kejadian yang sudah ku lalui seharian ini.


teringat sewaktu di kedai bakso tadi, aku dan Yuda saling bertukar cerita mulai dari semasa sekolah hingga saat ini.


tak lupa aku juga menceritakan bagaimana sikap Haris kepada ku hingga aku memutuskan untuk tetap di Jakarta meskipun sudah lebih dari 2 tahun aku tak pulang ke kampung halaman ku.


***


1 bulan kemudian


Matahari mulai menampakkan senyumannya, memberikan cahaya setelah kegelapan malam pergi.


Aku duduk di depan teras kamar kos ku dengan tas ransel berukuran sedang berada di sisi kanan kaki ku.


berulang kali aku menatap jam pada ponsel ku, namun hingga 15 menit, seseorang yang ku tunggu tak kunjung datang, padahal ia sudah mengatakan jika ia dalam perjalanan dan akan segera tiba.


"eh mbak Jasmin, mau kemana pagi-pagi sudah rapi? " tanya tetangga kos ku


"mudik mbak, mumpung dapat cuti, " jawab ku sembari tersenyum.


"ke Surabaya ya? jangan lupa oleh olehnya ya mbak,"


"insyaallah mbak Lela, "


Aku dan mbak Lela berteman sejak beliau pertama kali ngekos disini beberapa bulan yang lalu. ia juga anak perantauan sama seperti ku.


setelah ia pamit ke dapur, aku kembali menyalakan ponsel ku, hendak menghubungi seseorang


namun baru saja aku mencari nomor ponselnya, tiba tiba suara yang sangat aku kenal memanggil ku.


"Jasmine." panggilnya seraya mendekat ke arah ku.


"akhirnya kamu datang juga Yud, aku kira kamu nggak jadi nganterin aku pulang, " ucap ku bernafas lega


"maaf ya, tadi setelah balas pesan kamu, aku mampir ke minimarket sebentar. Sudah siap? yuk berangkat, "


aku mengangguk dan meraih tas ransel di samping kaki ku, namun Yuda dengan sigap merebutnya "Biar aku saja. " katanya

__ADS_1


2 minggu yang lalu, setelah berakhirnya kesalahpahaman antara aku dan Yuda, ia mengajak ku untuk pulang ke Surabaya.


selain untuk melihat rumah peninggalan kakeknya di kampung, ia juga ingin menemui ibu dan juga mengantarkan aku pulang. karena jujur saja aku sedikit enggan untuk pulang ke rumah karena Haris semakin menjadi jadi kepada ku. bahkan hubungan persahabatan ku dengan Rania terpaksa putus karena ia menganggap aku tak bisa tegas terhadap suaminya.


Perjalanan kali ini terasa singkat karena kami memilih jalur udara, hanya di tempuh dengan waktu 1 jam 30 menit akhirnya kami tiba di Surabaya.


Dari bandara, kami menaiki mobil jemputan yang telah di siapkan Yuda. pria itu bahkan memikirkan hal hal sekecil apapun secara detail, ia bahkan membawakan banyak oleh oleh untuk Jefri dan ibu di rumah.


ah Yuda, kamu memang pria idaman...


1 jam sudah kami di perjalanan, akhirnya kami memasuki gapura kampung ku. rupanya beberapa tahun tidak pulang, sudah banyak sekali perubahan.


tiba di depan rumah, aku melihat ibu dan Jefri yang tengah duduk di teras rumah, ibu tengah menjahit sedangkan adik ku tengah memainkan ponselnya.


Yuda menggenggam tangan ku, dan mengajak ku untuk segera turun dari mobil.


"ayo turun, "


aku mengangguk dan turun dari mobil, segera setelah turun, aku berlari menghampiri ibu tanpa menunggu Yuda di belakang ku.


"ibu... " panggil ku


ibu yang tengah fokus pada benang jahitnya pun menoleh, ia langsung berdiri, meletakkan jahitannya di atas meja dan menghambur ke pelukan ku, begitu juga dengan adik ku yang langsung meletakkan ponselnya dan ikut memelukku.


"Jasmin kangen sama, Ibu,"


ibu melerai pelukannya dan menciumi pipi ku secara bergantian, Tak ku sangka, adik ku, Jefri, ia juga turut menangis hari ini.


"Dia siapa kak? " tanya Jefri sembari menunjuk ke arah belakang ku.


Astaga, hampir saja aku lupa jika aku datang bersama Yuda. Aku menoleh ke bekalang, sembari tersenyum bersalah.


"kamu lupa sama, Dia? " tanya ku padanya


"memangnya siapa? kakak nggak pernah ajak temen cowok ke rumah loh? " ucapnya, sedangkan ibu tengah mengamati sosok yang kini berada di samping ku.


"assalamu'alaikum, Bu"


"wa'alaikumsallam, ini? "


"saya Yuda bu, anaknya bu Ayu, ibu lupa ya sama Yuda? "

__ADS_1


"astaga, kamu sudah besar sekarang nak, ibu sampai pangling loh. ibu kira anak ibu bawa artis ibu kota, " ibu terkekeh sembaru menepuk pundak Yuda.


"ayo masuk ke rumah. Jef, buatkan kakak- kakak mu minum, mereka pasti haus, " titah ibu dan langsung di laksanakan oleh adik ku.


Aku menenteng tas ransel ku sedangkan Yuda menarik koper besar miliknya dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Aku duduk di ruang tamu bersama Yuda sedangkan ibu menuju dapur menemui Jefri yang tengah membuatkan kami minum.


Aku menatap bangunan rumah ku, yang masih sama seperti terakhir kali aku pulang, ibu merawat rumah peninggalan ayah dengan baik, meskipun tak semewah milik tetangga yang lainnya.


Yuda beranjak dari duduknya, memilih duduk di lantai dan meraih koper nya.


"mau ngapain, Yud? " tanya ku ketika Yuda mulai membuka kopernya.


"sini, bantuin aku, " ucapnya.


Aku segera mendekat dan duduk di samping Yuda, aroma mint tercium sangat kuat ketika aku berdekatan dengan Yuda.


"astaga, banyak banget, Yud? " aku terkejut bahkan sampai menatap Yuda tak percaya, bagaimana tidak, di dalam koper besar yang ia bawa, hanya berisikan camilan dan beberapa baju yang masih terlihat baru.


"buat ibu mertua sama adik ipar, " selorohnya


bluss


pipi ku terasa panas ketika Yuda mengatakan hal itu, "jangan bikin baper bisa nggak sih, Yud, " gerutu ku kesal


"lah, emang beneran kok, ini buat ibu sama Jefri. sebentar lagi kan kita mau nikah, otomatis aku juga akan jadi bagian dari keluarga kamu, "


"idih, kata siapa? emang siapa yang mau nikah sama kamu hm? "


"ya sama kamu lah, sama siapa lagi, nggak mungkin kan kalau sama Jefri, jeruk makan jeruk dong, "


Aku menggeleng,namun segera membantu Yuda mengeluarkan isi koper sesuai perintahnya, bertepatan dengan Ibu dan Jefri yang keluar dari area dapur.


"astaga, apa ini, Jasmin, kamu mau jualan di rumah? " tanya ibu ketika melihat banyaknya barang memenuhi meja


"enggak lah bu, tuh, tanya aja sama Yuda, "


"ini Yuda bawain oleh oleh buat Ibu sama Jefri,"


ibu tersenyum dan duduk di kursi yang sama dengan Jefri, "harusnya nggak perlu repot repot bawa seperti ini, kalian sudah mau datang pun ibu sudah lebih dari cukup, nak Jefri, terima kasih ya, "

__ADS_1


"iya sama sama, Bu. nggak merepotkan sama sekali kok, "


__ADS_2