
Sembari menunggu adzan maghrib, aku dan Gita berbaring di atas kasur. sedari tadi Gita terus menerus mengg oda ku karena mendapatkan surat cinta dari Yuda, sebenarnya bukan surat cinta, hanya sebuah ungkapan selamat karena esok aku akan berulang tahun, namun tetap saja, Gita menganggap ucapan selamat hanyalah alasan, yang lebih tepatnya ialah perasaan yang di tunjukkan oleh Yuda kepada ku melalui paket yang ia kirimkan untuk ku.
sedari tadi Gita masih bertahan di dalam kosan ku, padahal ia berkata jika akan langsung pulang setelah selesai menemani ku membuka paket, namun karena terlalu asik berbincang akhirnya ia urung untuk pulang.
"kamu kok nggak ngasih tahu aku sih Je, kalau besok kamu ulang tahun? "
"buat apa juga aku ngasih tahu kamu, kayak anak kecil aja"
"ya tahu gitu kan aku bisa nyiapin kado buat kamu, ya nggak mewah mewah sih, kalau tahu lebih awal kan aku bisa nyari kodok atau belut sebagai hadiah buat nemenin kamu tidur disini, aku tahu kalau kamu sebenarnya sedang kesepian" ucapnya pelan namun berhasil membuat mata ku melotot ke arahnya
"weehh, tenang dulu bos, jangan marah dulu, aku cuma kasihan sama kamu, udah mah sendirian di kosan, nggak ada tv nya pula, aku yakin kamu disini pasti kebosanan karena nggak ada hiburan" pungkasnya
"tapi ya nggak gitu juga kali Git, kamu kira aku apaan di kasih begituan, ngasih tuh mbok ya yang bermanfaat, mobil kek misalnya" ucap ku
kini giliran Gita yang mendelik ke arah ku "kenapa? "
"ente kadang kadang ente ya, di kasih hati minta jantung, tau sendiri dirumah ku kagak ada mobil, ini malah request minta mobil"
"ya kali aja mau ngabulin... "
adzan maghrib berkumandang, segera aku dan Gita beranjak menuju kamar mandi untuk wudhu.
setesai sholat maghrib aku bergegas menuju dapur umum untuk menghangatkan makan malam ku bersama Gita.
***
__ADS_1
hari demi hari berlalu, aku menjalani rutinitas ku seperti biasanya, namun kala pulang sekolah, aku tak langsung pulang melainkan berkeliling mencari lowongan pekerjaan yang sekiranya bisa ku kerjakan setelah sepulang sekolah.
sepulang dari rumah waktu itu, pikiran ku terus tertuju pada kesehatan ibu, ibu yang kini menjadi tulang punggung keluarga, setiap hari menerima pesanan jahitan untuk membiayai kehidupan ku serta adik ku.
akhirnya aku kepikiran untuk mencari pekerjaan agar setidaknya beban ibu tidak terlalu berat untuk membiayai ku disini.
namun rupanya mencari pekerjaan tidak semudah itu, apalagi aku masih sekolah dan di bawah umur.
setiap mampir ke sebuat minimarket, mereka selalu mengatakan jika mencari pekerja yang sudah lulus agar bisa bekerja secara fulltime.
hari ini hari sabtu, kebetulan nanti sepulang sekolah aku, Gita dan teman teman lainnya akan latihan upacara untuk besok hari senin bersama pak Adi, jadi hari ini aku libur untuk mencari pekerjaan.
Aku duduk sendirian di taman sembari menunggu Gita yang tadi pamit ke kantin.
"maaf lama... " ucapnya dengan nafas yang tak beraturan.
"takut kamu keburu lapar, bukannya makan nasi malah makan aku nanti! " serunya.
aku hanya menggeleng, kadang Gita bicara tanpa filter sehingga aku harus memperbanyak stok sabar ku.
kami. makan dengan tenang, bukan hanya aku dan Gita, ditaman ini juga ada beberapa siswi yang juga turut memakan bekal mereka sehingga kami terlihat seperti tengah makan bersama.
"gimana pekerjaan, udah dapet belum Je? "
aku menggeleng lesu, "belum, ternyata mencari. pekerjaan itu susah banget Git, apalagi aku belum lulus"
__ADS_1
"yang sabar aja ya, nanti aku bantu cari... " begitulah Gita, meski terkadang bicara tanpa filter, ia sangat peduli pada ku.
***
Bel pulang sekolah berbunyi, aku dan Gita bersiap siap menuju. lapangan karena sebentar lagi kami akan latihan upacara.
meski sebuah hukuman, kami akan menjalaninya dengan ikhlas agar upacara hari senin berjalan dengan lancar.
"ganti baju di toilet deket lapangan aja Je, biar kalau ada yang sudah kumpul kita bisa tahu" ucap Gita.
"tapi disana biasanya ramai Git, kamu nggak takut? " biasanya di sekitar toilet dekat lapangan, para siswa akan berkumpul disana, entah sedang mendiskusikan apa tapi yang jelas disana selalu ramai orang ketika pulang sekolah.
"alah tenang aja kan ada aku! " serunya sok pemberani.
selesai berganti baju olahraga, Gita menarik tangan ku menuju cermin yang terletak di sudut ruang kamar mandi, ia mengeluarkan sebuah krim dari tasnya kemudian mulai mengaplikasikan ke wajah ku.
"ini apaan Git? " tanya ku, jujur meski sudah remaja, namun urusan yang satu ini aku ssngat awam sekali karena setiap harinya aku hanya memakai bedak bayi untuk wajah ku agar tidak terlihat kusam saja.
"sunscreen Je, buat ngelindungi kulit dari paparan matahari. hari ini kita bakalan panas panasan di lapangan, jadi jangan sampai kulit kamu kebakar" jelasnya
"biasanya aku juga selalu panas panasan Git, nggak pernah pakai begituan"
"mulai sekarang usahain pake Je, biar kulit ku tetap terjaga dari paparan sinar matahari"
aku mende sah pelan, jangankan untuk beli skincare, untuk makan saja aku sudah sangat kerepotan.
__ADS_1
"iya deh, ntar kalau udah dapet kerjaan dan dapet gaji, aku usahain beli itu" ucap ku kemudian.
"udah, yuk keluar! "