BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
71


__ADS_3

Yuda dan Ibu tampak berbincang ringan, begitu pula dengan Jefri yang terkadang ikut bertanya kepada Yuda. Aku sendiri memilih untuk masuk ke kamar, menyimpan tas ransel ku, sembari melepas rindu dengan kamar tidur ku yang sudah lama aku tinggalkan.


"ah nyamannya... " gumam ku merebahkan diri di atas kasur tidur ku.


Masih terdengar samar, gurauan ibu dan Yuda di luar, akan tetapi, ingin keluar pun enggan karena terlalu nyaman rebahan melepas penat.


Tiba tiba dari arah luar, Yuda, membuka gorden yang menutupi pintu, hingga membuatku seketika langsung beranjak dari posisi tidurku.


"a-ah maaf Jasmin, aku nggak tahu kalau kamu lagi tiduran, "


"nggak apa-apa kok Yud, memangnya ada apa? "


"ibu ngajakin kita makan siang bersama, Jefri sedang membeli kerupuk di warung jadi ibu meminta ku untuk memanggil kamu di kamar, maaf, aku sudah membuat mu kaget, "


"nggak masalah, ya sudah, ayo kita keluar. " ajak ku sembari menarik lengan Yuda untuk keluar dari kamar ku, jujur saja aku sangat malu, apalagi kala aku melihat tas ransel ku yang tadi ku buka, disana tampak jelas beberapa helai pakaian dalam ku yang masih menyembul disana. sebelum pandangan Yuda semakin liar, lebih baik aku ajak saja dia keluar.


Siang ini kami makan dengan nikmat, apalagi aku yang sudah lama tidak merasakan masakan ibu, langsung saja membuat ku merasa terharu dan hampir saja menangis.


"masakan ibu masih sama seperti dulu, bikin nagih " celutuk Yuda tiba tiba


mata ku memicing, "memangnya kapan kamu nyicipin masakan, Ibu? "


"Dulu beberapa kali, pas aku mampir kesini, Ibu selalu ngajakin aku buat makan, di kasih makan gratis nggak mungkin dong, kalau aku nolak, "


"kok ibu nggak pernah cerita sama, Jasmin?"


"buat aja juga Ibu cerita, kan sudah lama juga. Sudah-sudah, di lanjutkan makannya, "


selesai makan siang, Yuda mengajak ku untuk berjalan jalan sekalian mengunjungi rumah kakeknya yang sudah lama di tinggalkan.


beberapa kali kami berpapasan dengan para tetangga, mereka tampak kaget melihat perubahan kami, apalagi ketika melihat Yuda, yang sangat jauh berbeda dari Yuda yang dulu ketika masih Menengah Pertama.


"Jasmin, kapan sampai, pulang pulang langsung bawa calon ya? " tanya bu Parni kala kami berpapasan di perempat an jalan.

__ADS_1


"Baru pagi tadi, Bu. " ucap ku sembari mencium punggung tangannya, begitu juga dengan Yuda.


"bu Parni sepertinya juga lupa, Dia Yuda bu, anaknya bu Ayu, tetangga kita, " jelas ku


"ah yang bener, tapi kok beda sekali ya. dulu Yuda kurus loh, sekarang jadi berisi begini, jadi gagah, " pujinya membuat Yuda tersipu malu


"Ibu bisa aja, " ucap Yuda salah tingkah


"panas-panas begini mau kemana kalian? ayo mampir ke rumah Ibu, "


"mau ke rumah lama kakek, Bu, sudah lama Yuda nggak kesana. lain kali kami mampir ke rumah, Ibu, " ucap Yuda


"Ya sudah, Ibu lanjut jalan lagi ya, mau ke warung grosir, " pamit bu Parni.


kami berdua mengangguk, kemudian melanjutkan langkah menuju rumah lama kakeknya Yuda yang kurang beberapa ratus meter lagi.


Sesampainya disana, kami mengedarkan pandangan, meskipun telah lama di tinggal, namun rumah ini masih sama seperti dulu, masih rapi dan terawat, Yuda bilang, jika bu Ayu meminta tetangga untuk membersihkan rumahnya.


"sebentar, aku minta kunci ke bu Ami " Yuda segera berjalan menuju rumah di sebelah rumah kakeknya sementara aku memilih untuk menunggu di teras.


"ayo masuk, " ajaknya


kami masuk, Yuda langsung berjalan menuju salah satu kamar disana, aku memilih untuk duduk di ruang tamu sebab disini sangat sepi, apalagi hanya ada kami berdua di dalam rumah, aku takut jika yang kami lakukan bisa menimbulkan fitnah


"kamu dari mana? " tanya ku ketika Yuda kembali dengan membawa kotak berbahan dari rotan


"dari kamar ku, dulu waktu aku pergi, aku lupa membawa ini, jadi sekarang aku mengambilnya, "


"pasti barang penting ya? "


"tentu, isinya sangat penting. " Ucapnya sembari membuka kotak tersebut


ia meraih sebuah bingkai dengan foto anak kecil di dalamnya, namun yang membuat aku terkejut, yang berada di dalam foto itu adalah aku, aku semasa kecil dulu.

__ADS_1


"Yud, itu? "


"ayahmu dulu yang memberikan ini pada ku, " ucapnya dengan senyum mengembang memandang bingkai foto di tangannya


"kok bisa? kapan kamu bertemu ayah? " tanya ku tercekat, aku tak menyangka jika ayah pernah sedekat itu dengan Yuda


"kamu ingat nggak, dulu aku pernah bilang sama kamu, kalau aku pernah janji sama seseorang buat selalu ngejagain kamu? "


Ya, aku ingat, dulu Yuda pernah mengatakan hal itu, aku pikir ia berbohong, tapi ternyata ia jujur.


aku mengangguk "iya, "


"aku dulu pernah berjanji sama ayah kamu buat jagain kamu. Dulu, aku beberapa kali bertemu ayah kamu ketika di ladang, dan disana kami disana saling bertukar cerita. Suatu ketika, ayah mu menemui ku di rumah, beliau meminta ku untuk menjaga kamu untuknya. Awalnya aku pikir ayah kamu hanya sedang bercanda, mana mungkin aku yang masih remaja kala itu menjaga mu seperti yang ayah mu lakukan, tetapi, beberapa hari setelahnya, aku mendapati kabar kalau ayah kamu meninggal dunia, dan disitulah aku mulai paham maksud ayah kamu meminta ku untuk menjaga mu, "


aku tak menyangka jika ayah telah mempersiapkan semuanya, bahkan ia juga mencarikan aku pelindung agar aku tetap merasa jika ayah masih ada, pantas saja setelah itu, Yuda semakin dekat dengan ku.


"jadi selama ini, kedekatan ini hanya karena janji mu pada ayahku? "


"ya, awalnya aku memang melakukan semua itu karena janji ku pada ayahmu, tapi lambat laun, aku semakin penasaran hingga timbul rasa suka pada mu, dan itu bertahan sampai akhirnya aku merasa jika aku tak hanya menyukai mu, tapi aku sudah mencintaimu, Jasmin, "


Yuda meletakkan Figura di atas meja, ia meraih kedua tangan ku dan menggenggamnya.


"Menikahlah dengan ku, Jasmine Zainisa, " ucapnya tegas tanpa keraguan sama sekali.


Aku menangis sesenggukan, tak menyangka dengan apa yang sudah ku lalui selama ini, Yuda, mengusap lembut pipi ku yang basah dengan jari jarinya.


"maaf membuat mu bersedih, " lirihnya


Aku menggeleng. bukan, ini bukan tangis kesedihan, tetapi ini tangis bahagia, aku sangat bahagia hari ini.


"aku bahagia, Yud. aku tak menyangka, kesedihan ku yang dulu, kini terbayar dengan rasa bahagia yang berlebihan hingga aku tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, "


"Jadi? "

__ADS_1


aku mengangguk "Aku mau menikah dengan kamu, Yuda Arya Pratama, " ucap ku mantap


__ADS_2