BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
46


__ADS_3

Sepulang dari rumah Gita, aku langsung bersih bersih sekaligus menyimpan lauk yang di bungkuskan oleh bu Siti.


selesai, kini saatnya untuk beristirahat sebelum nanti mengerjakan PR yang belum selesai ku kerjakan tadi di sekolah.


ku rebahkan tu buh ku di atas kasur sembari memainkan ponsel untuk berkabar dengan ibu di rumah, alhamdulillah ibu dan Jefri baik baik saja sehingga aku bisa tenang disini.


"ternyata gini ya rasanya jadi anak rantauan" gumam ku pelan.


ketika hendak menutup mata, aku teringat paket dari bu Ima tadi pagi, gegas aku beranjak dari tidur ku menuju meja belajar dan mengambil paket tersebut.


ku teliti kembali paket tadi pagi, benar benar tidak ada nama pengirimnya disana. karena khawatir akan mendapatkan paket yang aneh aneh, aku menelepon Gita untuk menemani ku membuka paket.


tut


tut


tut


panggilan ku tersambung namun belum juga di angkat hingga panggilan berakhir, tak pantang menyerah aku kembali menelepon Gita karena aku benar benar sangat takut untuk membukanya sendiri, biarlah ia yang sedang tidur menjadi terbangun karena panggilan ku.


tut


"Halo Je, ada apa? " akhirnya setelah sambungan telepon yang ketiga, Gita mengangkatnya.


terdengar jelas suaranya yang serak menandakan ia baru saja bangun tidur.


"kamu tidur ya Gita? "


"hm, kan tadi aku udah bilang kalau mau bobok siang, ada apa, perlu bantuan? " tanyanya


"hehe, maaf ya gangguin kamu tidur, kamu bisa kesini sebentar nggak Git, aku butuh bantuan mu sekarang"


"memangnya ada apa sih Je, tau orang ngantuk juga? "


"udah pokoknya kesini dulu, ntar tidurnya di lanjut disini aja, yang penting kamu kesini, aku tunggu loh! "


"iya iya, bentaran, aku mau cuci muka dulu" sambungan telepon di matikan sepihak oleh Gita, aku mengulas senyum senang karena Gita bersedia datang ke kosan ku.


tak berselang lama kemudian terdengar ketukan pintu kamar ku, segera aku beranjak dan membukanya, Gita berdiri di depan pintu dengan mata yang sudah segar, serta di tangannya membawa kantung keresek berwarna hitam.


"makasih Gita sayang" ucap ku langsung memeluknya, ia seketika terkesiap dan langsung melepas pelukan ku.


"ish apaan sih Je, geli banget tau nggak, iihh... " pekik nya langsung ngacir masuk ke dalam kosan ku.


aku tertawa geli melihat Gita yang misuh misuh karena aku sengaja menggodanya.

__ADS_1


"ada apa sih sampe bangunin orang tidur segala? kamu tahu nggak, tadi tuh aku lagi mimpi ketemu pangeran, eh tiba tiba muncul suara deringan ponsel ku, jadi mau tak mau kan aku jadi bangun" tanyanya dengan posisi sudah merebahkan tu buhnya di atas kasur ku.


"aku dapet paket tapi nggak tahu sispa pengirimnya. em, temenin aku buka paket misterius yuk! " ajak ku yang membuat Gita langsung beranjak duduk dari pembaringan


"misterius? maksudnya? "


"iya misterius, ini tadi bu Ima ngasih paket katanya buat aku, tapi pas aku cek nggak ada nama pengirim nya, dan lagipula aku kan nggak pernah beli barang online jadi nggak mungkin juga itu paket ku"


"aku kok jadi penasaran sih, mana paketnya? " tanya Gita semangat


"sebentar aku ambil dulu, nih" ku raih paket yang ada di atas meja kemudian memberikannya pada Gita.


"kira kira apaan ya isinya? " tanya ku pada Gita yang tengah mengguncang guncang paket ku.


"entahlah, tapi ini berat ya. ya sudah mending di buka aja bareng bareng, aku jadi penasaran sama isinya"


aku mengangguk kemudian mengambil gunting untuk membukanya


dengan di bantu Gita, aku membuka paket tersebut, lapisan pertama berupa keresek sudah terbuka, kini lapisan kedua yaitu kardus, kembali ku buka, namun aku sedikit terkejut karena di dalamnya terbungkus rapi kotak kado berwarna merah jambu.


"kayak kado" gumam Gita


"coba buka Je" perintahnya


srak


srak


'Yuda... '


"eh ini foto siapa? " tanya Gita meraih sebuah foto seorang lelaki mengenakan seragam SMA tengah tersenyum sangat tampan.


aku tak sanggup menahan air mata ku yang tiba tiba lolos begitu saja, kerinduan yang begitu besar membuat ku menjadi lemah seketika. Gita yang melihat aku menangis pun kebingungan.


"loh Je, kamu kenapa nangis, apa aku menyakiti mu? " tanya nya panik,


"di-dia, dia Yuda Git, teman baik ku yang selalu ku ceritakan pada mu, aku nggak nyangka dia masih mengingat ku, ku pikir setelah dia pindah, dia akan melupakan ku begitu saja, huhu... "


"ya ampun, jadi pria ini namanya Yuda, waduh kenapa tampan sekali, inimah lebih tampan dari si Haris itu Je" Gita langsung memeluk ku mencoba menenangkan ku yang masih sesenggukan.


"sudah sudah, jangan di tangisi lagi Je, itu tandanya jika si Yuda beneran tulus sama kamu, buktinya meskipun berjauhan ia masih mengingat kamu"


aku mengangguk membenarkan ucapan Gita, Gita benar, Yuda memang pria yang tulus, bahkan ia mau berteman dengan ku ketika yang lain menjaga jarak dengan ku.


"nih lihat ada banyak barang di dalem" ucap Gita setelah melerai pelukannya dan kembali melihat isi di dalam kotak tersebut.

__ADS_1


karena penasaran aku pun turut melongok melihat isi di dalamnya, ternyata selain foto, Yuda juga mengirimkan beberapa coklat serta sebuah cincin di dalam kotak beludru.


"wih, dapet cincin Je" pekik Gita kala aku membuka kotak beludru itu.


"iya nih, Yuda berlebihan banget sampe ngirim kayak gini" aku meraih sebuah surat yang terselip didalam kotak beludru itu "ada suratnya"


"buruan baca! "


"ah malah di baca sendiri, aku kan jadi penasaran. sini aku juga mau baca. di suruh baca malah di baca sendiri, pake senyum senyum segala lagi" ucap Gita seraya merebut kertas dari tangan ku.


"untuk Jasmin


hai Jas, apa kabar? aku harap kamu baik ya disana.


aku disini juga baik baik saja kok. oh iya, maaf ya baru bisa berkabar sekarang, karena ada beberapa urusan jadi waktu ku sangat padat, untung saja di hari bahagia mu, aku ada sedikit waktu.


Jasmin, HAPPY BIRTHDAY....


semoga semua yang kamu impikan segera terwujud ya, dan semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali.


maaf hanya bisa memberikan sesuatu yang sederhana, jauh di kata istimewa.


jika nanti kita bertemu lagi, ku harap rasa ku akan terbalas oleh mu.


Jasmin, jaga diri baik baik disana karena aku juga akan menjaga diri ku baik baik disini.


salam sayang, YUDA"


Dengan gamblang Gita membacanya sangat keras sehingga membuat ku sangat malu, ah rasanya ingin sekali aku menghilang dari hadapannya saat ini juga


"kenapa di baca sih, nggak penting juga, orangnya juga nggak tahu di mana rimbanya" dusta ku


"alah, bilang nggak penting tapi tuh pipi udah merah kayak tomat rebus, bilang aja kalau kamu baper, gitu aja kok repot! "


"dih, siapa yang baper, enggak loh, ini cuma panas aja, gerah.... " alibi ku.


namun bukan nya berhenti, Gita terus menerus mengg oda ku, bahkan ia yang tadinya ingin kembali tidur pun akhirnya urung karena keasyikan mengganggu ku.


"iya deh percaya aja aku mah" ucapnya kemudian.


Gita meraih keresek yang ia bawa kemudian mengeluarkan semua isinya.


"astaga, banyak banget, habis borong apa gimana nih? " tanya ku kala melihat banyaknya camilan yang di bawa oleh Gita.


"enggaklah, dapet dari ayah ini tadi, lumayan kan buat temen ngobrol" ucapnya kemudian membuka salah satu camilannya.

__ADS_1


__ADS_2