BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
38


__ADS_3

selesai makan siang, kami pun bergegas pergi.


sejak tadi Liam hanya terdiam, tak banyak bicara setelah aku menanyakan perihal ia akan pergi atau tidak dari kehidupan ku setelah ini.


aku merasa tak enak hati sebab khawatir jika pertanyaan ku mrnyinggung perasaannya hingga ia menjadi pendiam seperti ini.


di perjalanan, tangan ku memegang erat jaket hoodie yang ia pakai, aku ingin menegurnya namun takut jika Liam akan semakin kesal dengan ku.


setelah banyak pertimbangan akhirnya aku membuka suara


"Liam! " panggil ku


"ya? ingin mampir ke suatu tempat? " tanyanya


"ah tidak - tidak. kamu kenapa sedari tadi diam saja, apa ada kata kata ku yang menginggung kamu sehingga kamu sedari tadi diam saja? " tanya ku langsung tanpa basa basi.


"aku nggak apa apa kok, biasa aja"


Liam menghentikan motornya di pinggir jalan, padahal kami belum sampai di rumah kos ku.


"sejak kapan kamu di buli sama mereka? " tanya Liam kala ia selesai melepaskan helm yang ia kenakan.


aku menghembus kan nafas ku pelan, haruskah aku bercerita padanya. huh...


"sudahlah, aku sudah tahu. kenapa kamu nggak pernah bilang sama ibu kalau kamu di ganggu mereka, jika kamu diam saja, mereka akan semakin brutal buli kamu! " serunya tegas membuat bulu kuduk ku mere mang.


tak ku sangka jika Liam mendengar semua ucapan dari Nina dan Rumi, itu berarti Liam sudah sejak lama berada di rumah kosong itu.


"a-aku, aku nggak mau buat ibu kepikiran, aku nggak mau semua orang tahu masalah ku Li"


"kalau kamu diam saja, mereka akan semakin gencar ganggu kamu, apalagi kamu nggak ada perlawanan sama sekali" Liam mendunduk sebentar kemudiam kembali mendongak dan menoleh ke arah ku

__ADS_1


"maafin aku ya, gara gara aku, kamu yang jadi kena imbasnya" lirih Liam


"aku nggak bisa bersikap sama seperti mereka Li, aku pikir dengan aku diam, mereka akan sadar dan berhenti mengganggu, namun sepertinya dugaan ku salah.


ini semua bukan salah kamu, aku sendiri yang rela di buli sama mereka karena memang aku yang terlalu lemah dan lembek"


"ya sudah biarkan saja Li, suatu saat mereka pasti akan mendapatkan karmanya"


setelah itu Liam kembali melakukan motornya, dan aku sebegai penunjuk jalannya.


"oh ya, kamu kok tadi bisa berada disana sih Li, kan itu bangunan kosong, sepi pula? " tanya ku


"karena aku baru disini, setelah pulang sekolah aku coba buat jalan jalan sekalian cari cari jalan tikus, tapi ketika aku masuk gang dan melewati bangunan kosong itu, aku melihat 3 gadis yang tengah berjalan ke sana, tapi aku melihat ada yang janggal dari tingkah mereka, akhirnya aku ikutin, dan tak ku sangka rupanya mereka akan berbuat kejahatan, dan lebih kagetnya lagi ternyata korbannya adalah kamu, maaf aku terlambat menolong mu"


"kamu datang di saat yang tepat Liam, aku nggak tahu lagi jika nggak ada kamu, mungkin aku akan dua kali lebih malu dari masa sekolah dasar ku dulu, dan mungkin juga aku tak berada disini tapi di rumah sakit" ucap ku


setelah mengantarkan ku ke rumah kos, Liam langsung berpamitan untuk pulang, ketika aku hendak masuk ke dalam kamar, Gita berlari menuju ke arah ku sembari berteriak teriak memanggil nama ku.


"Je tunggu Je! " serunya tergopoh gopoh


"Je kamu kemana aja, hampir dua jam kamu nggak balik balik, padahal katanya cuma sebentar ke minimarket nya, dan itu tadi siapa, kamu pupang di anter siapa Je? " tanyanya ngos ngosan, ia membungkuk, mengatur deru nafasnya yang memburu akibat berlari.


"a-aku tadi memang ke minimarket, terus ketemu teman lama ku, dan dia mengajak ku makan siang di kedai bakso, kamu nungguin aku? "


"iyalah, aku khawatir, takutnya kamu di ganggu sama dua orang yang masuk kelas tadi! " serunya


rupanya Gita lebih peka daripada aku sendiri, padahal kami baru saja berteman, tapi ia lebih cepat memahami situasi ku, sedangkan aku bahkan tidak pernah berpikiran hingga kesana padahal Nina dan Rumi sebelumnya telah mengancam ku ketika di kelas tadi.


"aku baik baik saja kok Git, udah ah yuk masuk aku mau ganti seragam dulu" akhirnya aku mengajak Gita untuk mampir ke kosan ku.


untung saja Gita tak terlalu banyak bertanya sehingga aku juga tak akan terlalu banyak berbohong, aku khawatir jika aku berkata jujur, maka Gita akan murka dan bisa saja ia akan mendatangi Nina dan Rumi untuk menuntut balas.

__ADS_1


sore ini setelah Gita pulang aku berencana keluar untuk membeli makanan di warung depan kosan.


aku keluar tak lupa ku kunci pintu kamar ku dan melangkah menuju ke depan, tiba tiba bu Ima, ibu kos ku memanggil ku dari arah dapur rumahnya.


"Mbak Jasmin, mau kemana? " tanyanya.


aku mendekat dan mencium punggung tangannya "mau beli lauk di depan bu" jawab ku.


"owalah, nggak usah beli, ini ibu ada lauk, kebetulan ibu masak banyak, ayo masuk dulu" ajaknya, aku hendak menolak namun beliau langsung menarik tangan ku untuk masuk ke dalam dapurnya.


beliau meminta ku untuk duduk di kursi makan dan beliau mengambil piring di rak.


"sebentar ya, ibu ambilkan dulu" ucapnya kemudian menyendokkan tumisan kangkung dsn juga ayam goreng. "nasinya masih ada? " tanyanya


"masih kok bu" jawab ku sungkan.


"skamu kalau sama ibu nggak perlu sungkan, ibu dulu juga pernah jauh dari keluarga, jadi tahu rasanya bagaimana, meskipun nanti bakalan aering pulang, tapi kan tetap saja, rasanya beda" ucapnya yang mengetahui kegelisahan ku yang tak enak hati dengan beliau.


"maaf ya bu, Jasmin selalu merepotkan bu Ima" ucapku


"nggak kok Jasmin, ibu justru senang membantu kamu, karena anak anak ibu sudah pada kerja, jadi ibu sering kesepian di rumah, suami serta anak anak ibu sering kali kerja lembur dan pulang malam. tapi setelah ada kamu, ibu merasa ada temannya meskipun hanya bertemu kamu di sore atau pagi hari saja"


"terima kasih ya bu" ucap ku.


"sama sama"


setelah sedikit berbincang dengan bu Ima, aku pun pamit untuk kembali ke kosan sebab langit sudah mulai gelap.


aku sebenarnya agak heran sebab bu Ima bilang jika anak dan suaminya sering lembur dan pulang malam, lalu untuk apa ia masak sangat banyak jika anak dan suaminya pulang malam, meskipun mereka makan, bukankah lebih baik di masak ketika mendekati mereka akan pulang sehingga makanan masih hangat dan segar.


namun aku tak ingin terlalu ambil pusing memikirkan hal itu karena sudah di berikan makanan yang nikmat saja aku sudah sangat bersyukur.

__ADS_1


__ADS_2