BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
74


__ADS_3

Ketika Haris lengah, aku mulai berteriak, berharap ada tetangga yang mendengar teriakan ku, namun dengan cepat pula Haris menutup mulut ku dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegangi kedua tangan ku.


Bagus, setidaknya kini kaki ku dapat dengan mudah untuk menendang Haris karena pria itu terlalu fokus ingin menciumi ku.


Wajahnya kian mendekat, aku segera melayangkan tendangan tepat di bawah pusarnya, Ia mengersng kesakitan dan itu bagus untuk ku.


Dengan cepat, aku beranjak dari kasur, berlari menuju pintu dan menutupnya dari luar, aku berteriak, kala teringat pintu utama sudah di kunci terlebih dahulu oleh Haris, dan saat ini, kunci itu berada dalam kantung celananya.


Sekuat tenaga aku berteriak meminta pertolongan hingga tenggorokan ku terasa sakit, namun tak satupun bala bantuan datang membantu ku.


"tolong... siapa pun tolonglah aku, " aku berteriak sembari memukul pintu dari dalam rumah.


Klek


Seketika aku langsung menoleh ke kebelakang, rupanya Haris telah berhasil bangkit dan menyusul ku.


"mau kemana kau jal*ng, kau harus jadi milik ku hari ini, hahaha, "


Haris kembali mendekat dan menarik tangan ku, sekuat tenaga aku mencoba melawannya, meronta, meraih apapun yang bisa ku pergunakan untuk menghindari Haris.


"KAU SUDAH GIL* YA, AKU INI SAHABAT ISTRI MU, BAGAIMANA BISA KAMU SETEGA INI, HAH! " bentak ku menatap nyalang Haris.


"KARENA ITULAH, AKU INGIN MENCICIPI TU BUH MU, PAHAM! "


aku menggeleng, sungguh tak menduga saat ini Haris begitu jahat.


"DASAR BRENGS*K! "


Haris terlihat tak terima, ia kembali mendesak ku hingga menabrak dinding di belakang, dengan cepat ia kembali mengunci pergerakan ku sehingga aku hanya bisa berteriak meminta tolong.

__ADS_1


Ia mulai mendekat kan wajahnya ke arah ku, membuat ku seketika langsung memalingkan wajah, namun tiba tiba, pintu utama terdengar di dobrak dari luar dan akhirnya terbuka, seseorang langsung menerobos masuk dan langsung menerjang Haris saat itu juga.


Aku langsung ambruk ketika telah berhasil lepas dari kungkungan Haris, kakai ku gemetaran, air mata ku telah menganak sungai. Naila dan Vidya tiba tiba datang dan langsung memeluk ku, mereka menangis terisak. Naila bahkan langsung melepaskan jaket yang ia kenakan dan memasangkan ke tu buh ku.


"Nai, Vid... " tangis ku pecah seketika dalam dekapan kedua sahabat ku, aku fikir hidup ku akan berakhir hari ini, namun Tuhan masih menunjukkan kuasanya.


"Jas, maafin aku, maaf karena aku terlambat berpikir sehingga kamu terjebak disini bersama Haris, huhuhu... "


"Jasmine, maafin kita... " kedua sahabat ku menangis sesenggukan, aku mengangguk, hal ini bukan salah mereka, ini salah ku karena terlalu gegabah mengambil keputusan sehingga terjebak dalam permainan Haris.


Aku mulai melerai pelukan ku, untuk melihat siapa yang tengah menghajar Haris.


Yuda, ia datang menolong ku...


"Yud... " panggil ku lirih,


pria tampan yang menjadi kekasih ku itu langsung menubruk dan memeluk ku begitu erat. memindai setiap inci bagian tu buh ku. Aku merasa malu karena kini aku tampak berantakan, bahkan jilbab ku pun entah kemana.


"Mana yang sakit, bagian mana saja yang sempat di sentuh bajingan itu, biar ku patahkan semua jari jarinya, " tanyanya dengan raut wajah khawatir,


Aku melepas genggaman tangannya, merasa begitu buruk karena beberapa bagian tu buh ku sempat di sentuh oleh Haris.


"Yud, maaf... " ucap ku menunduk, aku sangat malu terhadap Yuda dan merasa begitu sangat buruk.


"kamu nggak salah, aku yang salah karena tak langsung membuka pesan dari mu. maaf karena terlambat menolong mu, sayang, " Aku kembali memeluk Yuda dengan erat, memangis kencang, hingga sebuah deheman kembali menyadarkan ku.


Ehem...


Aku langsung melerai pelukan ku, merasa bersalah kepada dua gadis di samping ku yang melongo melihat ku berpelukan dengan Yuda.

__ADS_1


"maaf, " cicit ku pelan


"kamu hutang penjelasan ke kita! " ujar Vidya


Setelah itu, Naila segera menelepon pak RT, untuk melaporkan tindakan kriminal yang di lakukan oleh Haris kepada ku.


Haris di bawa ke rumah pak RT oleh beberapa tetangga yang sudah di panggil oleh Vidya.


tak berselang lama kemudian, kediaman pak RT yang tadinya sepi, kini menjadi ramai, apalagi ada keluarga Rania dan Haris yang juga turut datang. Ibu juga sudah datang bersama bude Eni, yang tentu saja dengan keadaan yang kurang baik, apalagi kabar itu menyangkut anaknya.


Aku memeluk Ibu dengan erat, menyalurkan semua energi positif ku untuk Ibu, berharap keadaan beliau membaik. aku menenangkan dan meyakinkan Ibu bahwa aku baik baik saja saat ini.


beberapa saat menunggu, kini suasana yang tadinya ramai mendadak hening ketika pak RT mulai angkat bicara.


Pak RT menanyakan bagaimana kejadian awal sehingga aku berakhir di rumah Haris, aku langsung menjelaskan secara detail dari awal hingga akhir tanpa mengurangi apapun.


"Jadi begitu ceritanya pak, saya yang terlalu khawatir dengan Rania, sehingga tak berpikir jauh dan langsung menerima ajakan Haris, padahal saya tahu, Haris sering menganggu saya, "


pak RT mengangguk, Ibu, Rania, dan kedua sahabat ku tampak menangis, Rania bahkan sampai sesenggukan kala aku menceritakan kronologi kejadian naas yang menimpa ku.


Hampir 1 jam lamanya kami berunding di kediaman pak RT, kini aku bisa bernafas lega setelah sampai di rumah. Ibu meminta Jefri untuk mengambilkan kami minum.


"Yud, tadi kamu keren banget pas ngehajar si Haris, aku nggak tahu kamu bisa begitu beringas sama teman kamu sendiri, " puji Naila.


"iya loh, aku aja nggak nyangka, dulu kalian temenan akrab, tapi hari ini, kamu tega juga sama si Haris, sampai buat wajahnya babak belur begitu, " timpal Vidya


"apapun akan aku lakukan untuk kekasih ku," jawabnya dengan tatapan lurus ke arah ku.


"nikahin dulu akhi, baru boleh pandang pandangan begitu, " celutuk Naila

__ADS_1


__ADS_2