
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. setelah menyelesaikan pelajaran terakhir, aku pun bergegas untuk pulang sebab ada hal penting yang hendak ku katakan pada ibu.
aku memisahkan diri dari rombongan teman teman ku karena mereka harus menuju ke tempat parkir sedangkan aku menuju jalan umum untuk berjalan pulang.
meski siang tengah terik namun semangat ku masih berkobar, selain karena telah terbiasa berjalan kaki dengan jarak yang lumayan panjang, aku juga tengah berbahagia.
20 menit berjalan kaki akhirnya sampailah aku di rumah, setelah mengucapkan salam aku bergegas masuk ke dalam rumah untuk langsung mengganti pakaian.
selesai berganti pakaian aku langsung menghampiri ibu di kamar karena tak ada suara mesin jahit menyala, aku yakin jika ibu tengah beristirahat di dalam kamar.
ceklek
pintu kamar ibu ku buka perlahan, namun di atas kasur hanya ada Jefri yang tengah tertidur pulas, lalu di mana ibu berada.
"bu, ibu... "
"ibu dimana bu? " panggil ku mencari keberadaan ibu dari depan hingga belakang rumah, tempat menjemur pakaian. namun nihil, ibu tak ada di rumah.
lelah mencari aku memutuskan untuk menunggu ibu saja di ruang tamu karena aku yakin sebentar lagi ibu pasti akan pulang
dan benar saja, baru lima belas menit aku duduk di ruang tamu, ibu sudah kembali dari luar.
__ADS_1
"assalamu'alaikum... " salam ibu ketika membuka pintu, beliau tampak kaget ketika mendapati aku duduk di ruang tamu dengan raut cemas dan bingung menjadi satu.
"wa'alaikumsalam... ya ampun ibu dari mana aja sih, dari tadi Jasmin nyariin ibu tapi ibu nggak ada, malah cuma ada Jefri yang tidur pulas di kamar, ibu dari mana, kalau butuh apa apa atau mau belanja biar Jasmin aja yang keluar, ibu nggak ucap capek capek berjalan keluar rumah" tanya ku memburu
jujur aku sangat khawatir ketika ibu tak ada di rumah, pikiran buruk sempat berkecamuk sebelum kedatangan ibu.
ibu mengampiri ku yang masih mengatur nafas hingga stabil, "ibu dari rumah bu Parni kak, udah ah jangan khawatir begitu, ibu nggak apa apa kok" jawab ibu seraya tersenyum.
melihat ibu yang terlihat biasa saja, aku mengucapkan syukur dalam hati, setidaknya ibu baik baik saja dan tidak kelelahan.
"ibu ngapain siang bolong ke rumah bu Parni? cuaca hari ini lagi terik banget loh, ibu nggak pusing? "
biasanya di siang hari ibu akan fokus dengan jahitannya namun entah kenapa hari ini ibu bisa keluar rumah di siang hari yang terik ini.
kasihan sekali ibu ku, disaat yang lain bisa keluar rumah menggunakan motor agar mempercepat waktu, ibu masih berjalan kaki karena tidak ada motor di rumah.
ah iya, aku baru teringat jika tadi mencari ibu ingin mengatakan sesuatu
"mungkin belum jodohnya bu" timpal ku.
aku dan ibu sudah duduk di atas kasur lantai lusuh di ruang keluarga, setelah mengambilkan minum aku berniat untuk menceritakan beberapa hal yang ku terima tadi di sekolah.
__ADS_1
"lagi bu? " tanya ku ketika ibu menandaskan air di dalam gelas
"sudah cukup kak, oh iya, tadi mau ngomongin apa sama ibu? " tadi sebelumnya, aku memang telah mengatakan jika ada yang ingin aku bicarakan, maka dari itu ibu tak langsung beranjak ke kamar dan menunggu ku untuk berbicara.
"begini bu, ibu tahu bu Hanum yang dari kota itu? "
ibu berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk "ada apa dengan bu Hanum? " tanya ibu
"tadi beliau menawarkan sekolah gratis buat kami bu, orang tuanya baru saja membangun sekolah baru dan membutuhkan murid, jadi beliau menawarkan sekolah gratis mulai dari uang gedung sampai ke spp selama satu tahun untuk kami bahkan disana juga di sediakan mess jika ada yang kejauhan dan tidak ada kendaraan"
Bu Hanum adalah guru bahasa Indonesia yang sangat baik, beliau kerap kali mentraktir kami kala bertemu di kantin kadang kala beliau juga memberi kan beberapa kebutuhan penting kami secara mendadak, beberapa bulan belakangan ini kami baru mengetahui faktanya jika beliau adalah putri sulung dari pengusaha kaya di kota, jadi tak kaget jika beliau memiliki banyak uang untuk mentraktir kami semua.
ibu sedikit tercengang mendengar penjelasan dari ku, bukan hanya ibu, aku pun kaget ketika tadi bu Hanum memberikan kabar ini, beberapa teman ku yang juga sama seperti ku juga turut bahagia karena mereka bisa melanjutkan sekolahnya secara gratis.
"lalu kamu maunya gimana kak, ikut di sekolah bu Hanum atau menerima tawaran bu Parni, untung tadi ibu belum ketemu sama beliau"
"Jasmin belum memikirkannya bu, makanya Jasmin bilang sama ibu, sekalian buat rundingan sama ibu"
"coba kamu pikir berulang kali, antara menerima tawaran bu Parni atau bu Hanum, rezeki memang udah ada yang mengatur kak, tapi kamu juga harus memikirkan dampak baik buruknya buat kamu, jadi selagi ada waktu, kamu pikir baik baik, ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik buat anak anak ibu agar memiliki masa depan yang baik dan bisa sukses di kemudian hari" Jelas ibu.
ku anggukkan kepala ku menyetujui saran ibu, lagipula masih ada waktu untuk berpikir matang agar tidak berdampak buruk suatu hari nanti.
__ADS_1
selesai berdiskusi, ibu kembali ke ruang jahit sedangkan aku membersihkan dapur yang belum sempat di bersihkan oleh ibu.