
Aku pun urung mengucapkan salam karena rupanya Iqbal, cucu bu Parni datang dan menyapa ku dari arah belakang. senyum tersungging dari bi birnya kala ia mendekat ke arah ku.
"eh mas Iqbal, habis dari mana? ... " sapa ku
"habis jalan jalan tadi. siapa? " tanyanya sembari menunjuk ke arah Gita
"teman sekolah ku mas, namanya Gita. Gita kenalin, dia namanya Iqbal, cucu bu Parni"
"Gita" ia mengulurkan tangannya pada Iqbal kemudian di sambut dengan ramah.
"Iqbal..."
"kamu kesini pasti mau ketemu sama nenek ya? ya sudah ayo kita masuk" ajaknya kemudian langsung masuk ke dalam rumah.
Sebelum masuk, aku melirik ke arah Gita yang rupanya tengah memperhatikan Iqbal secara diam diam, dapat ku lihat pancaran kekaguman darinya kala menatap Iqbal.
"sadar neng" senggol ku pelan agar Gita tak terus terusan memandang Iqbal
"ish, apaan sih Je, aku kan sedang mengagumi ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa... " lirihnya di telinga ku.
aku tak menggubris, hanya menggelengkan kepala kemudian mengikuti Iqbal masuk ke dalam rumah.
"assalamu'alaikum... " salam ku dan Gita bersamaan kala kami masuk ke ruang tamu.
sebenarnya tadi kami sudah saling bertatap muka dengan anak anak bu Parni. namun karena panggilan dari Iqbal lah yang membuat ku akhirnya urung menyapa mereka.
"wa'alaikumsallam... " jawab mereka serempak.
"ibu sedang di belakang, sebentar lagi pasti kesini" ucap om Iwan.
__ADS_1
"iya om... "
"ayo duduk dulu, ajak temannya juga" tante Ruri, istri om Iwan atau ibu dari Iqbal, mempersilahkan kami untuk duduk sembari menunggu bu Parni datang.
aku dan Gita duduk berseberangan dengan om Iwan dan tante Ruri, sedangkan Iqbal sudah langsung masuk ke dalam ruang keluarga, mungkin ia juga tengah mrmanggil bu Parni di belakang.
sembari menunggu bu Parni, aku sedikit berbincang bincang dengan kedua orang tua Iqbal, rupanya mereka sekarang selalu pulang ke kampung halaman setiap seminggu sekali di hari libur sekolah.
"tante Yula kemana tan, perasaan tadi mobilnya ada di luar deh? " tanya ku pada tante Ruri. tante Yula adalah menantu kedua bu Parni, istri dari om Tio.
"lagi di dalem, tadi di panggil sama Amanda" jawabnya.
tak berselang lama kemudian bu Parni datang bersama pak Ahmad, aku langsung berdiri dan mencium punggung tangan keduanya begitu juga dengan Gita.
"kata ibumu kemarin, kamu nggak jadi pulang Jasmin, kok tiba tiba udah di rumah aja? " tanya bu Parni sembari duduk di kursi yang masih kosong.
dari arah dapur, Iqbal datang dengan membawa nampan berisikan beberapa cangkir teh dan meletakkannya di atas meja.
"iya, makasih mas~" jawab ku dan Gita.
"iya bu, awalnya mau pulang nanti aja, tapi nggak tahu kenapa, jadi pengen pulang. apalagi pas kemaren Jefri telepon katanya bilang kalau kangen, jadi aku langsung prepare buat pulang, mungkin karena nggak pernah berjauhan, jadi sekalinya jauh, orang rumah pada nyariin" jawab ku.
bu Parni menggut menggut, wajah tua itu mengingatkan ku pada nenek di rumah, jangankan menanyakan keberadaan ku, menanyakan kabar ku pun tidak, beda sekali dengan bu Parni, beliau yang hanya orang lain namun sikapnya melebihi seorang nenek kepada cucunya.
cukup lama aku bertamu di rumah mantan majikan ku itu. setelah waktu menujukan pukul lima sore, aku pun segera berpamitan untuk pulang.
***
Malam harinya
__ADS_1
Denting suara sendok dan piring saling bersautan, malam ini aku sangat bahagia karena dapat kembali merasakan makan bersama dengan keluarga ku.
selesai makan malam dan merapikan meja makan, aku dan Gita segera menyusul ibu yang sudah lebih dulu beranjak ke ruang keluarga.
"alhamdulillah udah kenyang tinggal nonton tv ya dek" ujar ku pada adik ku yang tengah fokus menatap layar televisi di hadapannya.
ia mengangguk "iya dong, mumpung besok libur kak, jadi bisa nonton tv sepuasnya, iya kan bu... "
"tapi nggak boleh begadang, nonton tv seperlunya saja, kalau sudah waktunya istirahat ya harus di matikan tv nya" jawab ibu ku.
"ah ibu, kok gitu sih jawabnya" gerutu Jefri.
aku dan Gita duduk bersandar pada tembok sedangkan Jefri, ia tengah mencari posisi paling nyaman karena ia terlihat sudah mengantuk.
"minggu lalu Rania datang kesini nyariin kamu, tapi karena kamu nggak ada, dia langsung pamit pulang kak" ucap ibu membuat ku seketika menoleh
"Rania? tumben bu. bukankah dia juga sekolah di kota ya, kami biasanya bertukar kabar lewat pesan, tapi tumben Rania nggak tanya aku dulu kalau mau ke rumah"
"ibu juga nggak tahu, tapi yang ibu tangkap, sepetinya Rania sedang dalam masalah, karena ia datang dalam kondisi mata sembab"
"ya ampun, ada apa dengan Rania, kenapa dia nggak ngabarin apapun ke aku.
tapi dari minggu lalu dia memang udah jarang banget berkirim pesan ke aku bu. pernah sih tapi hanya sesekali dan itu cuma menanyakan kabar aja, dia nggak ada bilang kalau habis dari rumah"
"mungkin dadakan kak. coba deh besok kamu ke rumahnya siapa tahu dia ada di rumah"
"iya deh, coba besok aku kesana"
***
__ADS_1
Di dalam kamar, aku tidur bersama Gita. waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 wib namun baik aku maupun Gita tidak ada yang mengantuk satupun
"oh, jadi Rania itu sahabat kamu..." sedari tadi aku menjelaskan kepada Gita tentang siapa Rania, bahkan aku juga menceritakan mengenai Haris yang notabene nya adalah kekasih Rania, pria yang dulu pernah menolak ku.