BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
78


__ADS_3

Pagi telah tiba, aku duduk termenung di teras rumah, menunggu kehadiran Yuda. Ibu datang membawakan sebuah paperbag berukuran sedang, itu berisikan kue tradisional yang Ibu beli dari tetangga rumah.


"jangan berkecil hati, semoga setelah pertemuan hari ini, Nek Ida bisa merestui kalian, " ucap ibu menenangkan.


Aku mengangguk haru, tadi, pagi-pagi sekali aku sudah membangunkan Ibu karena ingin meminta izin untuk mengunjungi nek Ida, aku juga telah menceritakan semua kegundahan hati ku kala Yuda mengatakan jika sang nenek tak merestui hubungan kami.


"bertemu saja dulu, nanti kamu akan mendapatkan jawabannya secara langsung, " itulah kata kata yang di ucapkan ibu kala aku merasa kurang percaya diri.


Beberapa menit menunggu, akhirnya Yuda tiba di pelataran dengan menggunakan mobil yang kemarin ia bawa.


Setelah berpamitan pada ibu, kami pun segera bertolak menuju kediaman nek Ida di kota.


Di dalam mobil, aku tak bisa tenang, pikiran ku kembali berkelana, khawatir jika apa yang aku pikirkan menjadi kenyataan.


setelah menempuh perjalanan yang cukup lama karena macet, akhirnya kami tiba dipelataran rumah nek Ida.


Yuda menggenggam tangan ku mencoba memberi kekuatan, "kamu tenang saja, aku jamin semua akan berjalan seperti yang kita harapkan, " ucapnya.


aku menganggguk, mencoba menghilangkan rasa gugup yang tiba tiba mendera.


Yuda mengetuk pintu, tak lama kemudian seorang art membuka pintu dan mempersilahkan kami untuk masuk.


lama sekali kami menunggu duduk di sofa, namun nek Ida tak kunjung keluar, Yuda pun akhirnya berinisiatif untuk menyusul sang nenek ke dalam rumah.


Aku masih duduk dengan cemas, meremas jari jemari ku untuk menghilangkan rasa gugup.


"nenek tetap tak memberi kalian restu, Yuda. nenek sudah pilihkan calon yang cocok buat kamu, nenek jamin kamu juga akan menyukai gadis pilihan nenek, " terdengar samar suara nek Ida tengah berbicara dengan Yuda.


"tapi Yuda sayang dan cinta dengan gadis pilihan, Yuda, Nek. nenek jangan egois dong, Yuda sudah dewasa, bisa menentukan pilihan Yuda sendiri, " protes Yuda

__ADS_1


"kenapa kamu jadi keras kepala seperti ini, Yuda. nenek hanya ingin memberikan yang terbaik buat kamu, nenek jamin, pilihan nenek pasti tepat buat kamu, " sentak nenek


"baiklah, tapi setidaknya temui dia dulu nek, kasihan dia, " lirih Yuda.


"baik, nenek akan keluar, tapi jangan paksa nenek untuk memberikan kalian restu, paham? "


Setelah itu tak terdengar lagi kasak kusuk dari dalam. hatiku kian panas, sakit rasanya kala hubungan yang hampir menginjak ke pelaminan justru di tentang oleh orang yang kita sayang.


terlihat Yuda kembali, menyusulku di ruang tamu dengan wajah yang kusut, namun sedetik kemudian ia merubah ekspresi nya menjadi hangat dan tersenyum lebar.


Sementara nek Ida, datang beberapa detik segelah Yuda duduk di samping ku.


Aku segera berdiri kala melihat nek Ida muncul dari balik pintu, tersenyum hangat dan menyapa nya.


"assalamu'alaikum, Nek, " salam ku.


Nek Ida yang belum menatap ke arah ku pun seketika menoleh, ia terlihat terkejut dan terburu buru mendatangi ku.


"kenapa baru mengunjungi nenek, kamu nggak kangen sama nenek, sudah berapa tahun nggak kesini, nenek kangen sama kamu, " ucapnya sembari kenepuk punggungku.


Ku lepas pelukan ku, dan menatap wanita tua di hadapan ku dengan mata berkaca kaca.


"Jasmin juga kangen banget sama nenek, "


"kamu kesini sama siapa, jangan bilang kalau-" ucapan nenek terhenti dan menatap sekeliling.


"jadi kamu, calon istrinya, Yuda? "


Aku sejenak terdiam, kemudian mengangguk ragu, sebagai jawabannya.

__ADS_1


"astaga, maafkan nenek ya nak, kamu pasti sudah mendengar ucapan nenek sama Yuda tadi. nenek benar-benar tidak tahu jika kamu calon istri Yuda, kalau nenek tahu, sudah sejak awal nenek merestui kalian. maafin nenek ya, "


Aku melongo, bagaimana bisa, bukankah nek Ida sudah memiliki calon cucu mantu, tapi kenapa setelah melihat ku, nek Ida justru seperti ini.


"bu-bukankah nenek sudah mempunyai calon buat Yuda ya, Nek? " tanya ku ragu


Nek Ida mengangguk, wajah tuanya tersenyum hangat kearah ku, "gadis itu adalah kamu, Nak, " ucapnya.


Yuda yang sedari duduk memperhatikan kami pun seketika beranjak dari duduknya


"maksud nenek? " tanyanya


"ya ini, Jasmine. calon yang sudah nenek siapkan buat kamu, " jawab nek Ida


"itu berarti nenek? "


"ya, nenek merestui kalian, dan benar, dulu Jasmine ini lah yang sudah menemani nenek selama 3 tahun sebelum dia memutuskan untuk pergi ke luar kota, "


"jadi gadis manis yang nenek maksud itu, Jasmine. kenapa nggak bilang dari dulu sih nek, tahu gitu kan Yuda bisa sering sering pulang ke sini, " gerutu Yuda terlihat kesal.


nek Ida mendekati sang cucu dan memberikan cubitan di perutnya. "bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau sedang menunggu sahabat sekolah mu dan nggak mau melirik siapapun? "


Yuda menggaruk tengkuknya, merasa salah tingkah, "iya juga sih, tapi kenapa aku sampai nggak tahu kalau Jasmine pernah tinggal disini, ya? padahal kan, kalau lebaran, aku sering pulang?" gumamnya


"kamu pulang, dia pun juga pulang ke kampung, kami ini bagaimana sih, " gerutu nenek.


Akhirnya pagi itu kami tertawa lepas menertawakan tingkah Yuda yang kebingungan.


Hari itu kami menikmati kebersamaan kami, bercerita banyak hal dan menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


tak lupa, aku juga memberikan bingkisan dari Ibu untuk Nek Ida, yaitu kue cucur.


__ADS_2