BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
55


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, setelah selesai liburan kenaikan kelas, aku sama sekali belum pernah pulang ke rumah padahal sudah hampir tiga bulan lamanya aku belum pulang.


Bukan karena tak rindu, hanya saja aku tak ingin berurusan dengan Haris jika sewaktu aku pulang dan ia kembali menganggu ku.


Ku pikir setelah kejadian aku meninggalkan dia di pinggir jalan ketika pulang bersama Gita pertama kali, ia akan berhenti mengganggu ku. namun ternyata tidak, itu adalah awal dari semua ini, dan sampai sekarang ia masih sering kali menampakan wajahnya di sekitar sekolah ku meskipun aku enggan menemuinya.


***


Hari sabtu ini aku kembali melakukan aktivitas ku sedari pagi bersama nek Ida. karena aku tak pulang ke rumah, alhasil nek Ida mengajak ku membuat kue kue tradisional untuk camilan kami menonton televisi sekaligus menikmati waktu luang bersama.


nek Ida juga meminta untuk menghubungi Gita untuk datang ke rumah, ia rindu dengan Gita, katanya.


"kita mau buat apa nek? " kami sudah berada di dapur dan nek Ida tengah sibuk menyiapkan bahan bahan masakannya.


"dadar gulung kesukaan mu, kemarin kamu bilang pengen dadar gulung?"


"seriusan nek? " tanya ku dengan mata berbinar


padahal kemarin aku hanya asal bicara karena melihat sebuah acara televisi yang sedang berkulineran di pasar. tak ku sangka rupanya nek Ida justru mengabulkan keinginan ku itu.


"iya serius, nenek juga sudah sangat lama tidak makan dadar gulung. kamu tahu, itu adalah makanan kesukaan kakek mu, Jasmin. "


Kakek yang di maksud nek Ida disini adalah almarhum suaminya yang meninggal beberapa tahun yang lalu bernama, Seno.


"uwah... Dadar gulung memang yang terbaik nek, jadi siapa saja pasti suka! " nenek Ida tersenyum simpul dan melanjutkan aktivitas nya, begitu juga dengan aku yang turut membantunya.


aku tak menyangka jika di usia yang sudah senja, nek Ida masih begitu terampil di dapur, bukan hanya memasak makanan menu harian, beliau juga terampil memasak jajanan tradisional.


tok


tok


tok


terdengar suara pintu depan di ketuk, aku pamit dan segera membukakan pintu untuk tamu yang ku perkirakan adalah Gita.

__ADS_1


benar saja, Gita sudah berdiri di depan pintu dengan senyum manisnya.


"pagi bestie, "


"tumben cepet datengnya? "


"iyalah, kan mau makan-makan, makanya langsung gerak cepat. "


aku langsung mengajak Gita menuju dapur. biarkan saja ia melongo sebab apa yang ia lihat tak akan sesuai yang ia harapkan.


"lho, " Gita menoleh ke arah ku "katanya mau makan makan? "


"iya makan makan, tapi nanti kalau sudah selesai baru kita makan makan, sekarang kita masak dulu biar cepat matang"


meski mendengus namun Gita tetap mengangguk dan menghampiri nek Ida. ia langsung mencium punggung tangannya dan berbasa basi sebentar.


***


waktu sudah menujukkan pukul 15.00 wib. Gita pamit pulang karena memang hari sudah sore.


tak ada rasa canggung dengan nek Ida karena kami sudah menganggap beliau seperti nenek kami sendiri, pun dengan nek Ida yang juga menganggap kami sebagai cucunya.


sepulangnya Gita, nek Ida meminta ku mengikuti beliau ke kamarnya, awalnya aku ragu karena selama tinggal disini aku tak pernah masuk ke dalam kamar beliau. namun karena nek Ida memaksa ku sehingga aku menuruti perintahnya.


"duduk nak, " nek Ida meminta ku duduk di samping beliau yang tengah duduk di kasurnya.


"ada apa nek? "


"sebentar lagi kamu lulus sekolah kan, jadi bagaimana keputusan mu soal tawaran dari Tari?"


"ibu bilang semua keputusan ada di tangan Jasmin nek, mungkin jika berjodoh, Jasmin akan menerima tawaran dari bu Tari. tapi nanti bagaimana dengan nenek jika aku ke Jakarta? "


"itu masalah gampang, nenek bisa mencari pegawai lagi, yang terpenting kamu bisa menentukan jalan mu tanpa harus terbebani oleh nenek. kamu itu cucu nenek, jadi apapun keputusan dan keinginan mu, nenek harap kamu bisa mewujudkannya. "


"terima kasih ya nek. disaat nenek kandung Jasmin abai dengan keberadaan Jasmin, nenek mengulurkan tangan nenek untuk memeluk Jasmin, memberikan kasih sayang seorang nenek yang belum pernah Jasmin rasakan sedari dulu, "

__ADS_1


"sama sama, nenek juga senang punya cucu perempuan seperti kamu" nek Ida memeluk ku dengan erat, menyalurkan rasa nyaman ketika berada di dalam dekapan beliau.


setelah pelukan kami terlepas, nek Ida memberikan ku sebuah kotak kecil berwarna putih. "bukalah, "


sebuah cincin bermata satu terlihat sangat berkilau, aku menatap nenek untuk meminta jawaban.


"itu untuk cucu perempuan nenek, di jaga ya, nenek percayakan cincin itu sama kamu. "


nek Ida bercerita jika cincin itu pemberian dari almarhum suaminya, sejak dulu beliau ingin memberikannya kepada ku namun baru bisa memberikan nya sekarang dengan banyaknya pertimbangan, dengan harapan suatu saat aku bisa menemukan pendamping yang memiliki sifat seperti kakek yang penyayang dan peduli dengan orang lain.


bukan kepada anak atau pun menantu perempuannya, beliau justru memberikan barang berharganya kepada ku yang pada dasarnya hanyalah orang lain.


"i-ini berlebihan nek, aku disini juga sudah di gaji dengan penuh, ku rasa nenek tak perlu seperti ini"


"terima dan jangan di tolak, nenek sangat menyayangi mu nak" ucapnya tanpa menerima penolakan. ia menggenggam kedua tangan ku seakan menyalurkan kekuatan agar aku dapat tetap kuat menjalani hari hari ku yang melelahkan.


ku anggukan kepala ku "terima kasih banyak nek. "


***


Beberapa bulan telah berlalu, ujian nasional sudah berada di depan mata.


Aku masih tak menyangka jika aku telah melewati berbagai macam ujian hingga pada akhirnya kini di hadapkan dengan ujian nasional sebagai ujian terakhir ku di bangku sekolah ini.


sebelum ujian di mulai, aku menyempatkan diri untuk pulang dan mengunjungi rumah ayah, tak lupa aku juga meminta restu kepada ibu agar aku di permudah dalam melaksanakan ujiannya.


biaa di hitung dengan jari, dalam satu tahun ini aku hanya pulang tiga kali karena harus menghindari Haris.


hubungan persahabatan ku dengan ketiga sahabat ku pun mulai renggang. bukan, lebih tepatnya Rania. karena Rania yang memilih sibuk dengan kebucinannya dari pada kami para sahabat nya.


rencananya pulang ini aku ingin menemui Rania, aku ingin jujur padanya agar ia bisa lebih menjaga diri ketika bersama Haris.


Aku sudah berada di kampung halaman, rencananya siang ini aku, Naila dan Vidya akan mengunjungi rumah Rania.


disana nanti aku ingin mengungkapkan semua yang telah ku sembunyikan dari ketiga sahabat ku.

__ADS_1


__ADS_2