BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
25


__ADS_3

Sore harinya aku membantu ibu menyelesaikan jahitannya, walau hanya sekedar memotong atau mengukur kain, setidaknya pekerjaan ibu sedikit berkurang.


tok


tok


tok


suara pintu di ketuk dari luar, aku yang masih memotong bahan kain segera bergegas menuju ke depan.


"iya sebentar... " teriak ku dari dalam rumah, kebetulan tadi siang setelah aku membereskan barang belanjaan ku, hujan turun lumayan deras sehingga aku memutuskan untuk menutup pintu saja sedangkan Jefri sedang tertidur karena suasana sejuk selepas hujan.


ceklek


"eh bu Parni, mari silahkan masuk bu" sapa ku ramah kemudian mempersilahkan beliau untuk masuk dan duduk di ruang tamu.


"iya nduk, ibu mu mana? " tanya nya setelah duduk.


"lagi di ruang jahit bu, kalau ibu mau ke dalam juga boleh kok, atau Jasmin panggilkan saja? " tanya ku.


"biar ibu nyusul ibumu ke dalam saja nduk" beliau pun beranjak dari duduknya kemudian masuk ke salah satu ruangan yang di gunakan untuk ibu menjahit.


aku mengantarkan beliau hingga di depan pintu, setelah ibu mengetahui jika ada bu Parni yang datang, aku segera menuju ke dapur untuk membuatkan minuman.


ku buatkan teh hangat untuk bu Parni, selain karena cocok dengan cuacanya, di rumah hanya ada stok teh saja, tidak ada kopi ataupun minuman manis yang lainnya.

__ADS_1


teh telah siap di atas nampan, dengan langkah pelan aku berjalan menuju ruang jahit ibu.


nampaknya bu Parni tengah membicarakan hal serius dengan ibu, aku menghentikan langkah kaki ku di depan ruangan sembari menunggu ibu dan bu Parni selesai berbicara, rasanya sungkan jika harus tiba tiba masuk dan mengganggu pembicaraan mereka.


hampir lima menit aku berdiri di depan ruang jahit ibu, setelah tak ada suara kasak kusuk pembicaraan ibu, aku pun melangkah masuk dan menghidangkan teh hangat untuk bu Parni.


"silahkan di minum bu, maaf karena hanya teh hangat saja yang bisa saya hidangkan" ucap ku.


"ndak apa apa nduk, dingin dingin begini memang enaknya minum yang hangat hangat, makasih ya buat minumannya, ibu minum ya" ucapnya kemudian meraih cangkir berisikan teh hangat kemudian menengguknya beberapa kali.


setelah hampir lima belas menit bu Parni bertandang ke rumah dan berbincang bincang ringan dengan ibu, ia kemudian pamit untuk pulang karena langit kembali mulai menggelap.


"tumben bu Parni kesini lagi bu, ada apa, apa beliau sedang mau jahit baju? " aku yang baru saja dari luar setelah mengantarkan bu Parni pun menghampiri ibu yang kembali berkutat dengan mesin jahit nya.


"bu... " tegur ku pelan ketika melihat ibu hsnya terbengong dengan tatapan kosong.


"setelah ini kamu ada keinginan untuk melanjutkan sekolah kemana kak? " tanya ibu tiba tiba.


"belum tahu bu, atau mungkin Jasmin nggak usah nerusin sekolah aja kali ya bu, biar pengeluaran kita nggak membengkak, Jasmin takut nanti ibu kerepotan" jawab ku


ibu menghela nafasnya pelan kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri ku yang tengah duduk di kursi yang tadi di duduki oleh bu Parni


"begini kak, tadi bu Parni kesini sebenarnya mau konfirmasi ke ibu, kemarin pas beliau kesini sebenarnya ada suatu hal yang beliau katakan ke ibu, dan hal itu harus ibu bicarakan ssma kamu, tapi sampai saat ini ibu belum ngasih tahu kamu tentang apa itu.


sebenarnya bu Parni kasihan lihat kamu yang harus kerja banting tulang hanya untuk membantu ibu menyambung kebutuhan sehari hari kita, padahal di usia kamu sekarang, kamu hanya perlu fokus sama sekolah kamu saja"

__ADS_1


"lalu? " tanya ku semakin penasaran


"kemarin bu Parni menawarkan ke ibu, kalau kamu mau kamu bisa sekolah di kota, nanti untuk biayanya, bu Parni yang akan menanggung nya. kamu hanya perlu fokus sama sekolah mu agar nanti cita cita mu terwujud"


"kenapa mendadak bu, maksud ku kenapa nggak sejak dulu aja bilang seperti ini, apa ini nggak terlalu beresiko bu, atau nanti bu Parni minta ganti rugi atau timbal balik ke Jasmin? "


sejujurnya aku senang karena bisa melanjutkan sekolah ku ke jenjang menengah atas, namun aku sedikit ragu untuk menerima pemberian dari bu Parni karena ini juga menyangkut harga diri ibu.


bagaimana jika nanti aku mengecewakan bu Parni, Apa beliau tidak akan marah dan memutus biaya sekolah ku, atau jika nanti aku tak memiliki nilai yang memu askan, akankah beliau juga menghentikan sekolah ku.


"sebenarnya bu Parni sudah lama berniat mengatakan hal ini, tapi berhubung kamu masih satu tahun sekolah disini, jadi beliau menundanya, dan sekarang hanya tinggal menunggu waktunya kamu ujian dan lulus jadi beliau rasa sudah saatnya mengatakan niat baiknya.


kamu jangan berpikiran terlalu jauh, bu Parni hanya tidak ingin kamu berhenti sekolah, bu Parni juga edang tidak menyekolahkan anak anaknya jadi beliau pikir tidak ada salahnya beliau membiayai sekolah kamu.


awalnya ibu menolak karena merasa tak enak hati, tapi karena selama ini beliau sangat baik bahkan sering membantu kita, ibu jadi meras tak enak menolaknya, apalagi hal itu tentang sekolah kamu, masa depan kamu kak"


"Jasmin ikut saja seperti maunya ibu, jika ibu izinkan, maka Jasmin akan terima, jika tidak pun Jasmin nggak masalah bu"


bu Parni dan pak Ahmad memang terkenal baik, beliau juga mempunyai panti asuhan yang mereka dirikan sejak setelah anak anaknya menikah, hal itu karena beliau merasa kesepian setelah kedua anaknya memutuskan untuk tinggal di kota yang jauh dari desa.


meski panti asuhan itu berada di daerah kota yang jauh dari desa, namun kami warga desa tak ada yang tak mengetahui kebaikan yang mereka lakukan.


"ya sudah, besok ibu akan temui bu Parni untuk membahas masalah ini" aku mengangguk pasrah, antara senang dan sedih bercampur jadi satu.


di satu sisi aku senang karena dapat melanjutkan sekolah ku, namun di satu sisi aku merasa sedih karena jika aku melanjutkan sekolah ku, waktu ku bersama ibu dan Jefri akan berkurang.

__ADS_1


__ADS_2