
Acara kelulusan hari ini berjalan dengan lancar meskipun awalnya aku sempat merasa bersalah karena membiarkan ibu menunggu ku di luar sekolah.
Selesai acara, aku mengajak ibu untuk mampir ke rumah nek Ida karena tadi pagi sebelum aku berangkat ke rumah Gita, nek Ida berpesan untuk mengajak ibu ke rumah sepulang dari sekolah.
Dan disinilah kami berada, di rumah nek Ida menikmati hidangan yang sengaja di pesan nek Ida untuk merayakan kelulusan ku.
"kenapa Jefri nggak di ajak kesini nduk? padahal ibu tadi nungguin Jefri lo, ibu rindu sama cucu laki laki ibu, " tanya Nek Ida pada ibu
"Jefri kan harus sekolah bu, nanti lain waktu kalau sudah libur semester, insyaallah akan saya ajak main kesini, "
ibu dan Nek Ida memang sudah akrab sedari dulu karena beberapa kali nek Ida meminta ibu untuk main ke rumah beliau.
bukan hanya itu, Nek Ida juga meminta agar ibu menganggapnya seperti ibunya sendiri agar mereka bisa semakin akrab.
Sore harinya ibu pulang sementara aku harus tetap tinggal disini karena masih menunggu ijazah yang akan di keluarkan.
sebenarnya nek Ida telah menawarkan ibu untuk tetap tinggal namun ibu menolak karena khawatir dengan Jefri di rumah meskipun sudah ibu titipkan kepada bude Eni.
***
Hari begitu cepat berlalu, Ijazah sudah berada di tangan dan aku sudah pulang ke rumah ku sendiri sejak dua hari yang lalu.
aku sudah memutuskan untuk berhenti bekerja di rumah Nek Ida karena bersedia menerima tawaran dari bu Tari untuk bekerja di butiknya.
Nek Ida sangat senang kala aku mengatakan jika aku akan berangkat ke Jakarta, ia bahkan memberikan ku uang saku untuk ku sebagai tambahan biaya sehari hari disana sebelum tanggal gajian.
"berkas-berkasnya sudah kamu siapkan kak? "
"sudah bu, tinggal nunggu kabar dari bu Tari aja. ibu beneran nggak apa-apa kalau Jasmin tinggal ke Jakarta? "
"ibu nggak apa-apa, kamu tenang saja kak, "
__ADS_1
aku mengangguk, meski sedikit khawatir namun aku tak mungkin mundur, keputusan ini sudah ku ambil jauh-jauh hari, sehingga tak mungkin aku membatalkan begitu saja
"oh iya, Gimana kabar Liam, sudah lama dia nggak pernah main ke rumah? "
"Liam sudah balik ke Jakarta bu, katanya sih pengen nerusin kuliah disana, "
"ya ampun, kok nggak pamitan sama ibu, padahal ibu sudah kangen bangen sama anak itu, semoga nanti di Jakarta kamu bisa ketemu Liam lagi ya kak, jangan sampai putus tali silaturahmi, " pesan ibu
"InsyaAllah ya bu... "
selepas kepergian ibu dari kamar ku, aku kembali termenung, mengingat kenangan ku bersama Liam, terlebih dua bulan yang lalu.
Libur dua hari waktu itu aku tak pulang ke rumah, sehingga Liam mengajak ku jalan jalan keliling kota setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah ku.
sore itu kami berkulineran, menikmati kebersamaan berdua di tengah ramainya orang berlalu lalang.
selesai berjalan jalan hampir dua jam, Liam mengajak ku mampir ke sebuah taman yang tak jauh dari rumah.
"ada apa? " tanya ku memecah keheningan
Liam masih membisu, ia diam dengan tatapan masih menatap ke arah ku. "hei, kamu kenapa? " ku lambaikan tangan ku di depan wajahnya.
"ada yang ingin aku omongin sama kamu Jas, "
Aku menatap lekat mata pria di hadapan ku, tatapan teduhnya selalu membuat ku nyaman.
"apa? "
"Jasmin, tinggal dua bulan lagi kita akan lulus SMA, dan setelah ini aku akan kembali ke Jakarta karena ayah meminta ku kembali. sebenarnya aku masih tetap ingin disini, tapi karena suatu alasan, aku tetap harus kembali ke Jakarta.
Jasmin, sudah hampir tiga tahun kita bersama setelah berpisah cukup lama waktu itu, aku tak ingin semua terulang kembali seperti dulu, dimana aku dan kamu akan sangat sulit untuk bertemu karena jarak yang memisahkan kita.
__ADS_1
Jasmin, maukah kamu menjadi kekasih ku? berjuang bersama ku hingga tiba saatnya nanti aku menghalalkan mu? "
Liam menatap mata ku begitu dalam, pancaran ketulusan serta kasih sayang tergambar jelas di matanya.
hati ku goyah, perasaan ku kacau melihat Liam yang biasanya senang bercanda namun kini tampak serius, namun bagaimana, aku tak mungkin bisa membalas perasaannya karena ada hati yang sedang ku jaga meski entah sampai kapan.
Liam meraih kedua tangan ku karena sedari tadi aku hanya terdiam
"aku sudah tahu jawaban nya, maaf membuat mu kepikiran. aku hanya tak ingin menunggu untuk yang kedua kalinya, karena aku ingin memastikan jika perasaan ku terbalaskan." Liam melepas genggaman tangannya dan beranjak dari duduknya
"ayo pulang! " ia berjalan menjauh meninggalkan ku yang masih syok dan terpaku.
"Liam tunggu! " aku berlari menghampiri Liam, meski aku tak bisa membalas perasaan nya, tetapi aku sangat menyayangi nya sebagai seorang sahabat
ku cekal lengan kanannya memintanya untuk berhenti "Liam, maaf, "
"maaf karena aku tak bisa membalas perasaan mu, maaf karena aku menyakiti perasaan mu, "
"sudah tidak apa apa, aku baik baik saja. ayo kita pulang."
Di perjalanan kami saling berdiam diri, aku bingung ingin memulai bicara dari mana karena sedari tadi Liam hanya terdiam, ia bahkan tak melirik ke arah ku yang tengah duduk di jok belakangnya, padahal biasanya kami akan berbincang atau bernyanyi untuk menemani perjalanan kami.
sesampainya di rumah, Liam langsung pamit untuk pulang karena hari sudah sore. ia tak mengatakan apapun dan langsung tancap gas meninggalkan ku yang menatap sendu kepergiannya.
sejak saat itu hubungan ku dengan Liam akhirnya renggang, Liam tak pernah lagi membalas pesan yang ku kirim. mungkin memang aku yang keterlaluan karena menolaknya tanpa alasan apapun.
Tak terasa buliran bening keluar begitu saja. aku merindukan Liam, merindukan gelak tawa serta tingkah konyolnya yang selalu menghibur ku. kini Liam telah pergi menjauh meninggalkan ku yang memberikan rasa sakit untuknya.
ku rogoh kolong meja belajar ku, disana ku simpan rapi di dalam figura, foto ku bersama Liam yang tengah bermain di taman hiburan.
aku merindukan Liam, merindukan kebersamaan kami yang mungkin tak akan terulang kembali.
__ADS_1