BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
40


__ADS_3

Pagi sekali Gita sudah membangunkan ku, padahal adzan shubuh belum terdengar berkumandang.


Meskipun aku yang hendak pulang kampung, namun Gita lah yang terlihat sangat antusias, bahkan semalaman ia sudah membuat banyak rencana yang akan ia jalankan ketika sampai di kampung ku padahal waktu kami disana tidak banyak.


"Je, ayolah bangun, udah pagi nih! " seru Gita mengguncang tu buh ku yang masih meringkuk di bawah seli mut.


"astaga. Bentar dulu napa Git, masih gelap loh ini, adzan shubuh juga belum, udah melek aja tuh mata" gerutu ku pelan dengan nata yang masih menutup sempurna.


"ayok buruan bangun terus mandi, nanti kita kesiangan pulang kampungnya"


mau tak mau akhirnya akupun membuka mata, namun aku sedikit tercengang kala melihat penampilan Gita yang cetar membahana di pagi buta seperti ini


"kamu sudah mandi? dan, apalah kamu akan mengenakan pakaian seperti ini? " tanya ku sambil menunjuk ke arah Gita.


pasalnya saat ini Gita mengenakan jaket tebal, celana panjang, syal melingkar di lehernya dan juga kupluk.


sudah mirip orang hendak mendaki saja, padahal di kampung ku juga cuacanya tidak terlalu dingin.


"sudah dong, tadi jam tiga aku udah bangun, terus langsung mandi, beh seger banget mandi pagi pagi begini Je"


aku menepuk kening ku, kala mendengar jawaban absurd dari Gita, rupanya ia bahkan sudah mandi sejak tadi pukul tiga pagi, dimana air masih sangat dingin


ku lirik jam pada ponsel ku, rupanya masih pukul 03.45 wib, seharusnya ia membangunkan ku untuk sahur, bukan untuk mandi.


"belum juga jam empat udah bangunin aja kamu Git. ya sudah aku mandi dulu, kamu beresin yang lainnya ya! " seru ku kemudian beranjak menuju kamar mandi.


"oke siap! "


***


selesai sarapan kami berjalan menuju jalan raya untuk menunggu angkot yang akan membawa kami pulang ke kampung.


Gita sudah berganti pakaian, ia tak lagi mengenakan pakaian mendaki karena aku yang memintanya. awalnya ia protes, namun aku mencoba menjelaskan dan memberi pengertian mengenai kondisi cuaca disana, terlebih kami akan pulang dengan mengendarai angkot, yang akan membuat kami nanti berdesakan dan itu akan membuat Gita tak nyaman.


"biasanya jam berapa sih kang angkotnya lewat? " tanya Gita pada ku, ia beberapa kali menguap karena mengantuk sebab semalam ia hanya tidur tiga jam-an

__ADS_1


"bentar lagi deh kayaknya dateng. ngantuk ya, makanya malem malem tuh tidur, bukannya mandi" ejek ku


"ya namanya orang lagi antusias ya begini, kapan lagi bisa liburan ke rumah temen, itung itung healing gratis"


tak lama menunggu, angkot pun tiba dan kami berdua segera naik sebelum berdesakan dengan yang lain.


"akhirnya duduk juga... " Gumam Gita


***


30 menit kemudian, tibalah kami di perbatasan, aku mengajak Gita untuk berjalan kaki sebab tidak ada yang menjemput kami disana.


Gita tampak senang, ia bahkan berjalan cepat sembari menoleh ke kanan dan ke kiri menikmati pemandangan sawah yang tengah menghijau.


aku hanya menggeleng kan kepala ketika melihat Gita yang terlihat menikmati perjalanan nya, padahal di tempat nya sama seperti disini, ada pemukiman warga dan area persawahan, namun saat ini ia seperti tengah menemukan harta karun.


"habis ini kita kemana Je? " tanya Gita ketika mendapati jalan bercabang.


"belok kiri aja, 200 meter lagi kita sampai di rumah" jawab ku.


***


setelah memperkenalkan Gita, ibu meminta ku untuk mengajak Gita menuju ruang makan.


"ya sudah, kamu sama nak Gita makan sana, pasti kalian lapar" ucap ibu.


"sebenarnya kami sudah sarapan bu, tapi karena ibu sudah masak, aku jadi laper lagi, tuh kan, mereka kembali berdendang" tunjuk Gita pada pe rut nya.


Gita bahkan sudah terlihat akrab dengan ibu, ia bahkan tak canggung lagi untuk mengajak ibu bercanda.


"kamu ada ada saja, ya sudah sana makan dulu, makanan sudah ibu siapin di meja makan, jangan sungkan ya" ucap ibu.


"tentu tidak bu" jawab Gita


dengan semangat empat lima, Gita berjalan menuju dapur, padahal ini adalah kali pertama ia datang, namun seolah ia sudah paham dengan berjalan paling depan.

__ADS_1


"belok kanan Git, bukan belok kiri, kalau ke kiri kamu ke kamar mandi" ucap ku ketika Gita hendak berbelok ke kiri


ia terkekeh kemudian mengikuti instruksi dari ku.


masakan ibu hari ini cukup banyak dan bervariasi meskipun lauknya hanya ada ayam kecap, sedangkan yang lainnya adalah olahan sayuran.


"boleh aku makan Je? " tanya Gita


"bolehlah, ayo makan"


Gita mengambil sendok dan piring kemudian mengambil nasi dengan porsi yang banyak, ia juga mencicipi semua menu yang di buat oleh ibu meskipun itu sangat sederhana


"maaf ya kalau penyambutannya begini" ucap ku


"sudah kayak presiden aja di sambut" celutuk Gita "ini tuh makanannya enak banget tahu Je, ntar aku mau minta ajarin masak deh sama ibu! " serunya kemudian mulai melahap makanannya.


"ya gitu, dirumah nggak mau bantuin ibu di dapur, eh giliran disini mau minta ajarin masak, emang bener bener dah ah"


"biarin, wlee... "


***


Sore harinya aku mengajak Gita berkunjung ke rumah bu Parni. ibu bilang jika kedua anak bu Parni tengah pulang dan mereka menanyakan aku pada ibu, jadi berhubung aku masih di rumah, aku menyempatkan diri untuk menyapa mereka semua.


"nak Jasmin kapan pulang, duh makin cantik aja sih"


"iya, dulu mukanya kusam banget, eh sekarang jadi makin bersih dan cerah, jadi cantik!"


"mau kemana? " beberapa ibu ibu yang tengah di warung mbak Nur menyapa ku


"iya bu, mau ke rumah bu Parni sebentar, katanya om Iwan sama om Tio lagi pulang kampung, sekalian mau nyapa mereka" jawab ku.


aku tak menyangka jika beberapa warga yang melihat ku akan mengatakan hal seperti ini


setelah sedikit berbasa basi akupun pamit untuk melanjutkan langkah ku menuju rumah bu Parni.

__ADS_1


sesampainya di sana, aku sedikit terkejut sebab ternyata om Iwan dan om Tio datang berkunjung tidak sendiri melainkan bersama keluarga kecil mereka.


"Jasmin! " panggil seseorang membuat ku langsung menoleh ke arahnya.


__ADS_2