
Tak terasa sudah 7 bulan aku bekerja di Jakarta, dan hari ini aku akan pulang ke kampung halaman untuk merayakan hari raya idulfitri bersama ibu dan Jefri di rumah.
Ini adalah kali pertama ku pulang ke kampung setelah keberangkatan ku ke Jakarta 7 bulan yang lalu karena ibu meminta ku untuk tetap di kota agar aku dapat menabung.
tepat setelah adzan maghrib berkumandang, aku sampai di rumah dan langsung mencari ibu yang ternyata tengah sibuk menyiapkan masakan untuk besok lebaran.
"assalamu'alaikum, bu." aku segera berlari dan memeluk ibu, tanpa ku sadari, aku menangis sesenggukan di pelukannya.
"wa'alaikumsalam, ya Allah Jasmin, kamu pulang nak," ibu turut menangis, beliau memeluk ku dengan sangat erat seolah tengah meluapkan segala kerinduan yang ada.
Semalam, aku menghubungi ibu dengan mengatakan jika aku tak akan pulang karena belum ada cuti, namun dengan mendadak, bu Tari memberikan kabar jika kami di beri libur 1 minggu untuk lebaran di rumah karena beliau juga akan merayakan lebaran di kampung halamannya.
Malam itu, aku sangat bahagia dan memutuskan untuk langsung memesan tiket di hari itu juga, namun, yang ku dapatkan di keesokan harinya, karena tiket untuk malam itu sudah kosong, dan jadilah aku pulang hari ini.
"bu Tari ngasih kabar mendadak bu, Jasmin juga baru tahu kemarin malam setelah selesai menelepon ibu. oh iya, Jefri mana, bu? "
"dia ke masjid, katanya mau ikut takbir keliling sama teman-temannya, " jawab ibu.
Aku memilih membersihkan diri terlebih dahulu sebelum membantu ibu di dapur. Mandi, sholat maghrib dan membereskan tas ransel ku, kemudian baru membantu ibu di dapur.
"kamu istirahat atau nonton televisi saja kak, biar ibu yang masak, ini sudah hampir selesai kok, " cegat ibu kala aku datang dan langsung mengambil bawang untuk ku kupas.
"seharian ini Jasmin sudah banyak tidur di bus Bu, capek lah kalau harus istirahat terus, lebih baik bantuin Ibu, biar cepat selesai,"
"ya sudah kalau begitu, " ucap ibu pasrah.
***
Malam ini seluruh umat muslim tengah mengumandangkan takbir. Tak terasa buliran bening yang sejak tadi ku tahan akhirnya pecah juga, gema suara takbir menarik ku dalam ingatan yang begitu dalam hingga aku terperosok di dalamnya. Ayah, untuk yang kesekian kalinya kami lebaran tanpa mu.
Aku duduk di teras rumah bersama ibu, menanti kedatangan adik kecil ku yang tengah bersenang senang dengan teman temannya.
"adek kapan pulang sih bu? padahal niat hati pengen ngasih kejutan, eh nggak tahunya, dianya nggak ada di rumah, " gerutu ku
__ADS_1
Ibu terkekeh dan menggeleng pelan mendengar aku menggeruru. "paling nanti malaman lah, kalau teman temannya sudah pulang, Jefri juga pasti akan pulang, tunggu saja mungkin sebentar lagi sampai di rumah"
Aku mengangguk, aku mengobrol ringan bersama ibu. hal itu ku lakukan agar kami tak terlalu larut dalam kesedihan karena kepergian ayah.
jam sudah menunjukkan pukul 21.00 wib, namun, Jefri tak kunjung datang. Menunggunya sedari selesai isya sampai jam sembilan malam membuat ku sangat mengantuk dan ingin merebahkan diri di atas kasur, apalagi cuaca malam ini terasa sangat sejuk.
tak berselang lama kemudian terdengar suara adik ku yang tengah bergurau dengan teman temannya.
"Adek! " pekik ku memanggil Jefri. menunggunya sampai di rumah akan memakan waktu yang lama, apalagi ia sesekali berhenti dan tertawa dengan teman temannya
Jefri menoleh ke arah ku, "kakak! " pekiknya dan langsung berlari ke arah ku dan menubruk kan diri dalam pelukan ku.
"adek dari mana? kakak sudah nunggu dari tadi loh, "
"katanya nggak jadi pulang, kakak bohong ya? ingat, bohong itu dosa lo kak, "
"idih, di tanya, bukannya di jawab malah balik tanya! " Aku menyentil kening adik ku hingga membuatnya terpingkal-pingkal
"ya namanya juga dadakan dek, ini aja kakak dapat libur lebaran juga karena bos kakak mau pulang ke kampung halamannya, kalau enggak, mungkin kakak beneran nggak mudik, "
"untung bos kakak baik, " puji adik ku.
aku mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah karena malam semakin larut. "kak, bawa oleh-oleh nggak dari Jakarta? " kami duduk di depan televisi dimana ibu sudah lebih dulu menonton acara kegemarannya.
"Bawa dong. sana, ambil di kamar kakak. " mendengar jawaban ku, Jefri langsung berlari masuk ke dalam kamar ku, dan tak lama kemudian ia keluar dengan menenteng keresek hitam sedang, penuh dengan camilan.
"wah, coklatnya banyak sekali kak! " pekiknya kegirangan.
Aku mengulum senyum, hanya dengan di bawakan coklat dan beberapa camilan ringan, adik ku terlihat sangat bahagia, ia bahkan langsung membuka bungkusan coklat dan memakannya tanpa menawari aku ataupun ibu.
"enak dek? nggak ada niatan buat bagi-bagi gitu? " tanya ku menggoda
"eh iya, lupa. ini satu buat kakak, satu buat ibu. " ucapnya sembari meletakkan satu bungkus coklat di telapak tangan ku dan ibu.
__ADS_1
"terima kasih, "
akhirnya kami bisa berkumpul bersama meskipun sudah tak lengkap seperti dulu. inilah hyng aku rindukan ketika berada di tanah rantau. bisa berkumpul, berbincang, dan tertawa bersama sama.
***
Keesokan paginya, sepulang dari masjid untuk melaksanakan sholat ied, aku bersama ibu dan Jefri mengunjungi rumah nenek.
sesampainya disana, kami langsung bermaaf-maafan dan saling bertukar kabar.
nenek, ia tak terlalu cuek seperti dulu namun tetap saja, sikap ketusnya masih ada dan kami sudah terbiasa dengan hal itu. yang terpenting bagi kami, nenek tak mengganggu ketenangan kami di rumah.
pulang dari rumah nenek, aku memilih untuk berkunjung ke rumah Naila sedangkan ibu memilih untuk pulang.
Aku, Naila, dan Vidya pun bertemu, dan akhirnya kami memutuskan untuk berjalan bersama, berkeliling kampung untuk saling bermaaf-maafan seperti tradisi kami sebelumnya.
Di perjalanan hendak pulang setelah selesai berkeliling, kami bertemu dengan Rania dan Haris.
tampaknya mereka juga baru saja selesai berkeliling dan hendak pulang ke rumah.
tatapan ku tertuju pada perut Rania yang sudah membesar, sepertinya sebentar lagi ia akan melahirkan.
"Jasmin, Naila, Vidya! " pekik Rania dari kejauhan memanggil kami.
"Rania? baru selesai berkeliling juga? " tanya ku ketika ia sudah mendekat ke arah kami.
"iya Jas, mohon maaf lahir dan batin ya, "
kami berempat saling bersalaman dan bertukar kabar, Rania, ia sekarang sudah bisa tersenyum manis, tidak seperti terakhir kali aku bertemu dengannya yang tampak pucat dengan mata sembab.
"iya sama sama, "
Tak lupa kami juga bersalaman dengan Haris, pria itu tampaknya sudah mulai berubah, tidak seperti dulu yang selalu menggoda gadis lainnya. mungkin ini efek dari pernikahannya, sehingga membuatnya bisa berpikir secara dewasa.
__ADS_1