BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
22


__ADS_3

Tak ada lagi pembahasan setelah itu hingga kami sampai di rumah ku.


setelah menurunkan ku di depan rumah, Yuda langsung berpamitan untuk pulang.


sesaat aku menatap kepergiannya dengan nanar, apakah jawaban ku tadi menyinggung perasaannya hingga ia berubah menjadi dingin, entah lah, aku pun tak tahu. tapi yang pasti sejak aku menjawab ucapannya yang terakhir Yuda menunjukkan gelagat anehnya.


Aku segera menepis prasangka buruk itu kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


"assalamu'alaikum bu... " ucap ku masuk ke dalam rumah.


terdengar suara mesin jahit dari ruang tengah, aku segera menyusul kesana karena sepertinya ibu masih melanjutkan jahitannya yang belum selesai.


"udah pulang kak? " tanya ibu menghentikan aktivitas nya.


"udah dong bu, kalau belum ya mana mungkin aku ada disini! " seru ku kemudian mencium punggung tangannya.


"kamu ini... oh iya, tadi bu Parni datang kesini kak"


"bu Parni, ngapain bu? " tanya ku heran, pasalnya aku sudah lama tak bekerja disana, dan beliau pun tahu jika aku sedang sekolah, jadi tak mungkin jika beliau mencari ku hanya karena membutuhkan jasa ku saja


"tadi ngasih sembako, dia juga bilang kalau kangen sama kamu, nggak ada kamu, rumahnya jadi sepi" jawab ibu. beliau beranjak keluar, dan aku segera membuntutinya.


"tumben sekali ya bu, tapi emang sih, Jasmin juga rindu sama bu Parni, karena meski Jasmin disana bekerja, tapi bu Parni dan pak Ahmad memperlakukan Jasmin dengan baik"


"alhamdulillah kamu masih di kelilingi orang orang yang baik kak"


"alhamdulillah ya bu.. " ibu kemudian membuka paperbag pemberian bu Parni.


"ini tadi katanya buat kamu, yang satu buat Jefri" ucap ibu sembari menyerahkan satu setel pakaian wanita.


rupanya selain memberikan sembako, bu Parni juga membelikan ku serta Jefri pakaian sehari hari.


"wah, bagus banget bu " ucap ku bersemangat, padahal hanya sebuah kaos lengan panjang serta rok panjang, dwngan warna senada, namun aku begitu bahagia.


bagaimana tidak bahagia, jika pakaian yang ku kenakan setiap hari adalah pakaian bekas dari beberapa saudara ku.


mengingat keadaan kami yang masih serba kekurangan, membuat ibu dan ayah belum mampu membeli kan pakaian baru untuk kami.

__ADS_1


"meski bekas, tapi baju bajunya masih layak pakai kok, uangnya di tabung aja ya kak" ibu selalu berkata seperti itu ketika aku menginginkan membeli baju baru.


Ada hal yang lebih penting dari sekedar membeli baju, itulah pikir ibu waktu itu.


ku tempelkan kaos panjang berwarna merah jambu serta rok panjang berwarna biru dongker itu pada tu buhnya, dan rupanya sangat pas di badan ku.


aku beranjak menuju lemari kaca, ku putar ba dan ku sembari tersenyum senang.


ku toleh pandangan ku ke arah ibu, rupanya beliau juga turut tersenyum bahagia melihat ke arah ku.


"bagus ya bu, meski Jasmin hitam, tapi masih cocok pake baju warna merah jambu" ucap ku dengan senyuman yang masih tetap bertahan.


"jangan salah, putri ibu selalu cocok pakai baju warna apapun" ucap ibu.


entah sudah berapa lama aku tak membeli baju baru, mungkin dua tahun lalu, itupun baju lebaran karena baju lebaran sebelumnya sudah tidak muat untuk ku pakai.


***


tak terasa sudah hampir satu tahun ayah pergi meninggalkan kami, itu berarti sebentar lagi aku juga akan segera ujian dan lulus dari sekolah.


kurang dari satu minggu aku akan melaksanakan ujian nasional untuk menentukan lulus tidaknya aku nanti.


ku pandangi wajah teduh wanita surga yang sudah melahirkan ku, ibu, beliau telah menjadi kuat sejak kepergian ayah, beliau selalu menutupi kesedihannya dengan bersenda gurau dengan kami meskipun guratan kesedihan masih terlihat di matanya.


ku usap dan ku ciumi punggung tangannya, tak terasa air mata ku luruh begitu saja.


"teruslah sehat bu" doaku lirih kemudian ku kecup kening ibu yang masih terlelap.


entah mengapa ada rasa sesak di dalam dada ku, mungkin karena aku terlalu larut dalam kesedihan hingga yang timbul hanyalah pikiran pikiran buruk saja.


aku beranjak dari pembaringan menuju kamar mandi.


ku usap wajah ku dengan air wudhu, ku bentangkan sajadah dan bersujud kepada rabb ku.


entah sudah berapa lama aku berada di ruang sholat, tetapi kala aku terbangun, aku masih dalam keadaan mengenakan mukena dan tidur meringkuk di atas sajadah.


"ya Allah, aku sampai ketiduran" gumam ku lirih.

__ADS_1


segera ku lepas mukena yang ku kenakan kemudian beranjak keluar dari ruang sholat.


"ternyata masih jam empat pagi" pandangan ku tertuju pada jam dinding di ruang tengah.


karena tak ingin terlambat ke sekolah, aku menutuskan untuk langsung mandi sekaligus mencuci baju kemudian baru sholat shubuh karena untuk saat ini, adzan shubuh belum berkumandang.


hampir satu jam lamanya aku berada di kamar mandi, kini aku telah selesai dan membawa bak cucian ku menuju halaman belakang setelah itu ku lanjutkan untuk sholat shubuh.


"kamu habis dari mana kak? " tanya ibu ketika aku menutup pintu dapur, rupanya ibu sudah bangun dan baru saja keluar dari kamar mandi.


"itu tadi naruh cucian di luar bu, ini Jasmin masu shubuh dulu baru jemur baju"


"kamu udah nyuci sepagi ini, memangnya kamu bangun jam berapa, kok ibu nggak tahu? " tanya ibu


"tadi jam empat bu, karena nggak mau kesiangan, akhirnya Jasmin mutusin buat mandi sekalian cuci baju"


"ya sudah, ini sudah jam lima, sana sholat, keburu kesiangan" ucap ibu.


segera ku tunaikan kewajiban ku kepada rabb ku, setelah selesai barulah aku melanjutkan pekerjaan ku


"kamu jemur baju aja kak, biar ibu yang buat sarapannya" ucap ibu kata aku mendekat ke arahnya.


tak jadi berhenti, akhirnya aku meneruskan langkah ku menuju ke halaman belakang untuk menjemur baju.


***


Di sekolah


selama seminggu ini, pelajaran hanya mengenai pembahasan soal ujian nasional, kami di beri pelatihan untuk mengerjakan contoh soal ujian dan juga penjelasan nya.


siang ini setelah pulang sekolah Rania mengajak kami untuk melihat kelompok Haris bertanding voli dengan kelas lain, bukan, bukan perlombaan sungguhan, hanya sekedar pelatihan saja.


"eh ayo buruan, ntar keburu mulai tandingnya! " seru Rania bersemangat, bahkan ia terburu buru memasukkan buku bukunya kedalam tas.


"tenang dong Ran, baru juga selesai jam pelajaran, masih lama lah tandingnya" gerutu Naila, ia memang tak suka jika harus terburu buru hanya karena hal sepele dan tidak mendesak.


"iya, tapi kan aku udah janji sama Haris bakal jadi pendukung dia di lapangan, makanya ayo kesana keburu rame dan di mulai" jawab Rania yang membuat ku menoleh seketika.

__ADS_1


rupanya hubungan mereka sudah sangat dekat, pantaskah jika aku masuk di tengah tengah kedekatan mereka hanya karena aku menyukai Haris.


__ADS_2