
Sudah 1 minggu aku berada di rumah, kini saatnya aku kembali ke perantauan karena pekerjaan telah menunggu ku. Gita, ia turut mengantarkan ku ke terminal setelah beberapa hari ia menginap di rumah ku.
Seperti dejavu, aku kembali menitikkan air mata kala berpamitan dengan keluarga ku.
ah, bagaimana aku bisa se cengeng ini, padahal aku sudah pernah merasakan berjauhan lama dari keluarga ku.
***
3 tahun kemudian
Cahaya mentari pagi masuk melalui cela cela jendela kamar ku yang tak tertutup gorden, aku menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuh ku yang terasa kaku setelah semalam lembur hingga tengah malam karena ada pelanggan penting yang sedang berkunjung di butik.
ku raih ponsel yang ku letakkan di atas nakas dan menyalakan nya. mataku terbelalak kala melihat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 08.15 wib. yang artinya aku sudah terlambat masuk kerja.
"astaga, dasar bodoh! " pekik ku dan langsung beranjak dari kasur untuk segera mandi dan bersiap siap.
tak butuh waktu lama, 10 menit kemudian, aku sudah selesai dan rapi. setelah memastikan kamar kos ku terkunci, aku segera berlari agar segera sampai di butik.
pagi ini aku tak sempat sarapan, padahal perut ku sedari bangun tidur sudah berdendang meminta diisi karena semalam aku juga tak makan malam karena kelelahan.
lagi lagi aku merutuki kebodohan ku yang semakin hari semakin berkembang.
dengan nafas yang masih ngos-ngosan segera masuk dan mencari bu Tari untuk meminta maaf.
"eh Jasmin, kenapa baru datang? " tanya kak Ica dari srah kasir
"kesiangan kak, lupa nyalain alarm!" seru ku dan langsung berlari menuju ruangan bu Tari.
sesampainya di depan ruangan bu Tari, aku mencoba mengatur nafas ku yang memburu, setelah tenang barulah aku mulai mengetuk.
satu, dua kali ketukan, terdengar jawaban dari dalam yang meminta ku untuk masuk.
dengan perlahan, aku mulai memutar kenop pintu dan membukanya.
"selamat pagi, Bu, " sapa ku sembari menunduk. meskipun aku dan bu Tari dekat, namun di tempat kerja, aku tetap menjaga batasan dengan beliau seperti saat ini.
"eh, Jasmin. ada apa? " tanya nya kemudian mempersilahkan aku untuk duduk.
__ADS_1
"Jasmin mau minta maaf, Bu. hari ini Jasmin terlambat karena siangan, "
"oh itu, bukankah semalam saya sudah bilang kalau kamu boleh berangkat jam 9, saya tahu kamu pasti lelah karena saya minta lembur hingga larut malam, jadi kamu hari ini tidak terlambat, "
"a-ah iya, saya lupa, Bu. " ucap ku sembari menggaruk pelipis ku.
"sudah tidak apa apa. oh iya, nanti kamu dan Kinan lembur ya, soalnya keponakan saya mau pilih baju disini, "
"saya lagi, Bu? " biasanya kami akan bergantian untuk lembur, kecuali ada yang izin karena ada kepentingan.
"iya, Ica sama Nelis izin nggak bisa lembur, makanya daya suruh kamu buat lembur lagi, nggak apa apa kan? "
"iya bu, tidak apa apa. saya bersedia, "
setelah selesai, aku segera pemit undur diri untuk kembali bekerja.
***
malam harinya, semua sudah pulang kecuali aku dan Kinan yang memang bertugas untuk lembur. sembari menunggu keponakan bu Tari, aku memilih untuk merapikan beberapa pakaian yang terlihat sedikit berantakan.
Terdengar suara pintu terbuka, dan Kinan yang berjaga di depan menyambutnya dengan hangat, setelah aku selesai merapikan beberapa pakaian yang berantakan, aku segera menyusul Kinan untuk melayani keponakan bu Tari.
sepertinya mereka sepasang kekasih karena terlihat dari si wanita yang tengah menggandeng lengan si pria dengan mesra.
Aku mendekat dan menyapa kedua tamu yang datang malam ini.
"selamat ma--" ucapan ku terhenti kala mata ku bersi bobok dengan mata pria di depan ku.
kami sama sama terkejut, bahkan aku tak bisa mengatur emosi ku kala teringat ia tengah menggandeng seorang gadis di sampingnya.
beruntung aku segera sadar dan mengembalikan senyuman ku.
"maaf, selamat malam, ada yang bisa kami bantu, tuan, nona? " tanya ku sembari tersenyum menutupi luka.
"saya mau lihat-lihat contoh gaun pengantin nya mbak, bisa tunjukan ke saya? " tanya gadis itu ramah.
aku dan Kinan mengangguk, mempersilahkan kedua tamu kami menuju ruangan khusus gaun pengantin.
__ADS_1
kami meminta mereka untuk duduk di sofa sembari aku dan Kinan mengambilkan beberapa contoh gaun pengantin di etalase.
"ini ada beberapa model terbaru milik kami, nona. anda bisa memilih dan mencobanya terlebih dahulu, " ucap Kinan.
gadis itu mengangguk, dan mulai mengamati dan memilih gaun yang ia cari. aku dan Kinan bergantian menjelaskan detail detail gaunnya agar memudahkannya dalam memilih gaun.
gadis yang ku perkirakan berusia 22 tahunan itu pun menunjuk salah satu gaun terbaru kami "bagaimana menurut mu, Yud? "
"Bagus, " jawabnya singkat.
Ya, benar. pria itu adalah Yuda. pria yang dulu meminta ku untuk menunggunya kembali, namun kini, aku mendapati jika ia sudah memiliki pasangan, dan lebih parahnya hari ini mereka tengah memilih gaun pengantin.
jujur saja hati ku terasa di remas kuat dan hancur berkeping-keping. aku, menunggu Yuda sesuai permintaannya, namun kini, ia justru mendusta.
apa mungkin memang seperti ini kisah cinta ku. yang harus berakhir pupus bahkan sepelum berbunga.
ku kira ia berbeda, ku kira ia akan tetap teguh pada kata katanya namun semua itu ternyata hanyalah kata penenang untuk ku.
Bagaimana dengan aku Yud? bagaimana dengan aku yang bertahun tahun menunggu mu, namun kamu justru memilih dengan yang lain, hati ku kembali hancur untuk yang kedua kalinya. apakah memang semua laki laki itu sama, suka memberi harapan palsu?
"mbak, saya mau yang ini saja ya, " ucap si gadis yang belum ku ketahui namanya.
"baik nona, mari saya antar ke ruang ganti, " ucap ku sembari membawakan gaun untuknya. sementara Kinan tengah membuatkan minuman untuk kedua tamu kami.
aku mengantarkan gadis itu memasuki salah satu ruangan yang mrmang di khususkan untuk berganti gaun. tak lupa, aku juga membantunya untuk memakaikannya.
"anda cantik sekali, Nona. calon suami anda pasti akan pangling, " puji ku apa adanya.
"Tisha, panggil saya Tisha saja mbak, kayaknya kita seumuran, " ucapnya.
"saya akan memanggil anda, nona Tisha saja agar lebih sopan, "
"terserah mbak saja deh, ayo kita keluar, " ajaknya kemudian berjalan keluar ruangan lebih dulu.
kami tiba di hadapan Yuda, pria itu tampak terkejut melihat Tisha sudah berdiri di hadapannya dengan gaun pilihannya.
"Yud, gimana? " tanyanya sembari memutar tubuhnya.
__ADS_1
"cantik, cocok dengan mu, " jawabnya, namun pandangannya bukan ke arah Tisha, namun ke arah ku.