
Setelah kejadian siang itu, Gita tak banyak bertanya, ia seakan memahami dan memberi ku ruang untuk menenangkan diri.
***
Bel pulang sekolah telah berbunyi, aku dan Gita pulang bersama seperti biasanya.
"aku mau mampir ke minimarket dulu Git, kamu pulang duluan aja nggak apa apa! " seru ku di sela langkah kaki menuju gerbang
"Nggak mau di temani? " tawarnya
"nggak usah Git, lagipula cuma belanja beberapa keperluan yang belum sempat aku beli, kamu pulang duluan aja"
"ya sudah kalau begitu, hati hati ya, aku pulang dulu" pamitnya kemudian mulai menyebrang jalan raya sementara aku berbelok ke arah kiri untuk menuju salah satu minimarket terdekat.
minimarket yang hendak ku tuju terletak tak jauh dari sekolah ku, hanya berjarak 200 meter untuk ku tempuh dengan berjalan kaki. lumayan menguras tenaga sebab siang ini matahari terasa begitu menyengat kulit, dengan sedikit berlari akhirnya aku sampai di tempat yang ku tuju.
ku pegang handle pintu dan hendak ku buka, namun seseorang menarik lengan ku yang lain.
aku tersentak kakget sehingga pegangan tangan ku pada handle pintu terlepas.
"astaga! " seru ku kaget
Di hadapan ku sudah berdiri Nina dan Rumi dengan wajah culasnya, entah sejak kapan mereka tahu aku hendak menuju minimarket sehingga baru saja aku berpisah dengan Gita, kedua gadis jahat ini sudah berada di sekitar ku.
"kenapa, kaget ya? " tanya Nina mengejek
"mau kalian apa sih, aku nggak ada ganggu kalian ya, jadi stop ganggu aku atau aku akan teriak " tegas ku, aku sudah lelah jika terus terusan di injak injak hingga mereka bertambah gencar mengganggu ku.
__ADS_1
"wah wah, sudah mulai berani rupanya. hei! jengan mentang mentang kamu punya teman orang sini dan kamu jadi sok ya, sekarang aku sudah punya ponsel, aku jadi tak sabar untuk mendokumentasikan kepedihan kamu. hahaaa... "
aku melotot mendengar ucapan Rumi, apakah mereka akan kembali membuli ku seperti waktu dulu, tidak, aku tidak bisa membiarkan mereka seenaknya dengan ku.
keadaan sekitar sangat sepi sehingga kedua gadis itu bertindak semau mereka dan menyeret ku menuju sebuah gang sepi.
Aku memberontak namun cekalan pada kedua tangan ku sangat kuat sehingga mau tak mau aku mengikuti mereka berdua.
"kalian mau membawa ku kemana! " tanya ku di sela sela berontak ku.
"tentu ke tempat yang bisa membuat kita bahagia" jawab jawab Nina dengan tertawa.
setelah melewati gang sepi, mereka membawa ku ke sebuah bangunan kosong terbengkalai, aku semakin ketakutan, trauma ku muncul kembali ketika melihat wajah wajah bahagia dari Nina dan Rumi kala kami sampai di bangunan kosong itu.
kedua tangan ku di sentak begitu saja kala kami sampai di sana, Nina mulai mengeluarkan ponsel nya dan menyorot ke arah ku, sedangkan Rumi berdiri di sebelah ku dan mulai menarik rambut ku dengan kasar.
"jangan Rum, kenapa kalian tega sekali dengan ku, apa salah ku sampai sampai kalian begitu kejam dan tak punya hati seperti ini" lirih ku pelan.
aku menangis, tangan ku gemetaran, kilasan bulian dari mereka kembali muncul dan menyerang pikiran ku sehingga untuk membela diri pun rasanya aku tak mampu.
"kamu tanya kenapa? "
"ck, dasar banyak tanya, memangnya kami ngelakuin ini bukan tanpa alasan? "
"kamu mau tahu kan alasannya? "
"baiklah, pertama, aku sangat benci sama kamu karena kamu bisa mengikuti lomba paduan suara dengan menggeser posisi ku sehingga aku tersisih, kamu tahu, ibu ku marah besar karena hal itu Jasmin! "
__ADS_1
aku teringat kala itu, kami di seleksi untuk ikut lomba paduan suara tingkat kabupaten, awalnya aku tak berniat ikut, namun Liam mendaftarkan aku sehingga aku masuk dalam regu lomba dengan menggeser posisi Rumi
"tapi itu bukan kehendak ku Rum, aku benar benar tak tahu perihal itu, Liam lah yang mendaftarkan aku untuk ikut lomba"
"nah itu yang kedua. kamu sangat dekat dengan Liam bahkan kita yang tidak sengaja meyenggol mu pun ikut terkena libasan oleh Liam, aku benci kamu Jasmin, sangat benci" teriak Rumi.
deg
aku tak menyangka jika karena terlalu melindungi ku, Liam tega berlaku kasar dengan teman trman ku yang lainnya.
ternyata mereka melakukan hal itu lantaran kesal dan ingin membalaskan dengan untuk Liam pada ku.
padahal saat itu kami masih berada di bangku sekolah dasar, tapi mereka sudah mempunyai pikiran untuk balas dendam dan saling membuli.
"ta-tapi aku nggak tahu Nin, Rum. yang aku tahu Liam baik pada ku dan tak pernah mengusik ku, aku tak tahu jika dia kasar dengan yang lainnya"
"perse*an dengan ucapan ku, aku tak peduli Jasmin, yang aku mau hidup kamu hancur dan malu seperti yang ku rasakan saat ini" teriak Rumi, bahkan cekalan pada baju seragam ku semakin kuat, mungkin dalam sekali sentak, semua kancing seragam ku akan lepas berhamburan.
aku melihat Nina yang tengah membawa balok bayu usang di tangan kanan nya sedangkan di tangan kirinya masih merekam dengan ponselnya.
kala balok itu terangkat dan melayang di udara, aku menutup mata, bahkan kedua tangan ku sudah siap berada di atas kepala ku untuk menahan balok kayu yang hendak di pukul kan pada ku.
Bugh
prakk
"aarrgghh"
__ADS_1