BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
32


__ADS_3

'Sejatinya mencintai bukan tentang memiliki, namun sebuah keikhlasan '


***


Aku tersentak kaget mendengar kabar terbaru dari Vidya, ku kira Rania benar hanya berteman dengan Haris. namun dugaan ku salah, mereka telah semakin dekat bahkan sekarang telah terikat hubungan satu sama lain.


pantas saja ku lihat Rania sedari tadi selalu mengulas senyum bahkan pipinya sampai bersemu merah.


"selamat ya Ran, jangan lupa pajak jadiannya ya! " seru Naila bersemangat.


"ah iya, betul kata Naila, jangan lupa pajak jadiannya ya" sambung ku menimpali ucapan Naila.


hati ku terasa tercubit kala aku mengatakan hal itu, padahal selama beberapa minggu ini aku sudah mulai melepas semua tentang Haris, bahkan beberapa hari ini aku tak lagi memikirkan tentang dirinya namun entah mengapa ketika aku mendapati kabar ini, hati ku masih saja merasakan sakit.


"baru juga jadian, bisa bisanya di palakin. yaudah deh nanti sepulang sekolah kita mampir ke warung depan, kita makan siang disana" jawabnya.


"oke sip... "


beberapa saat kemudian ketua kelas masuk ke dalam kelas dengan tergesa-gesa, aku dan yang lainnya yang masih fokus pada tujuan masing masing pun segera menoleh.


"ada apa ketua? " tanya Ari teman satu kelas ku


"pengumuman sudah di tempel di mading sekolah, yang mau lihat silahkan" ucapnya dengan sedikit lantang.


semua yang mendengar hal itupun berbondong-bondong keluar kelas menuju papan mading, disana ada beberapa tempat di sortir berdasarkan kelas masing masing.


aku melihat nama ku dalam daftar peserta ujian yang lulus. alhamdulillah aku Lulus, semua siswa siswa di kelas ku maupun di kelas lainnya Lulus semua. selain lulus kami juga mendapatkan nilai yang cukup memu askan.


"ALHAMDULILLAH... " teriakan hamdalah menggema di sekitaran mading. kami sujud syukur karena bisa Lulus dan dapat melanjutkan sekolah menengah atas.


setelah mendapatkan arahan dari beberapa guru untuk segera mengurus pendaftaran sekolah lanjutan, aku beserta ketiga sahabat ku pun pergi menuju warung depan sekolah sesuai perkataan Rania.


sesampainya di sana, kami segera memesan makanan yang kami inginkan, meski di bebaskan membeli apapun yang sesuai keinginan akan tetapi aku tak mau serakah, hanya mrngambil beberapa camilan dan se plastik es teh untuk mele pas daha ga.


di sana, banyak sekali yang kami bahas, mulai dari kisah Rania yang ternyata baru dua hari yang lalu resmi berpacaran dengan Haris, hingga tentang sekolah yang hendak kami tuju.


setelah makanan habis, kami pun segera menyudahi cerita dan beranjak untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


***


Tak terasa sudah satu bulan lebih aku mengurus persyaratan masuk ke sekolah tujuan ku, yaitu SMK kejuruan yang berada di kota.


beberapa saat setelah kelulusan, aku mendaftarkan ke SMK tujuan ku, dan alhamdulillah nya setelah menjalani beberapa kali tes, akhirnya aku di nyatakan lolos dan masuk ke sekolah tersebut.


hari ini aku kembali datang ke sekolah untuk menyerahkan beberapa berkas yang di butuhkan.


"sudah selesai? " tanya Yuda ketika aku menghampirinya yang tengah menunggu ku di parkiran.


ya, selama ini, Yuda lah yang mengantarkan aku menuju ke kota untuk mendaftar sekolah, bahkan dia juga turut membantu ku mencari kos kos an yang murah namun terjaga dan aman hingga dapat


"alhamdulillah sudah, tinggal masuk saja nanti" jawab ku.


setelah itu kami memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin siang. namun kala berada di perempatan jalan, Yuda justru mengambil jalan berlawanan arah. jalan yang seharusnya berbelok ke kanan, ia justru belok ke kiri.


aku sempat bertanya, namun Yuda seakan enggan menjawab dan meminta ku untuk tetap diam hingga kami sampai di tujuan.


TAMAN KOTA


Aku membaca sebuah plang besar disana, rupanya Yuda mengajak ku untuk mampir ke taman kota.


"kita ngapain kesini Yud? " tanya ku pada Yuda


Yuda melepas helm yang ia kenalan kemudian menarik tangan ku menuju sebuah bangku yang terletak tak jauh dari tempat parkir kami.


kami berjalan bersisihan dengan jari jemari ku masih saling bertautan dengan jari jemari milik Yuda.


kami duduk bersebelahan menikmati hembusan angin yang bertiup tenang membawa udara segar meski hari sudah siang.


"Jas... " panggilnya pelan


aku segera menoleh, ku dapati Yuda tengah menatap ku dengan tatapan sedihnya.


"ya? "


"kamu jaga diri baik baik ya, mungkin nanti aku nggak bisa lagi untuk selalu ada buat kamu"

__ADS_1


"maksud kamu, kamu mau ninggalin aku? " sahut ku cepat,


"bu-bukan begitu Jas. aku ingin ngasih jawaban atas pertanyaan mu waktu itu" jedanya.


"setelah ini keluarga ku akan pindah keluar kota, setelah kepergian kakek, ibu memutuskan untuk menyusul ayah yang berada di kota, kebetulan disana Ayah juga tengah merintis usaha sehingga mau tak mau aku harus ikut kesana selain bisa dekat dengan mereka, Ayah juga membutuhkan bantuan ku"


"maaf karena baru bisa ngasih kabar hari ini"


tak terasa air mata ku luruh begitu saja, teman yang selalu mengulurkan tangannya untuk ku akan pergi jauh meninggalkan aku sendirian lagi setelah aku mulai merasa nyaman.


"memangnya nggak bisa gitu kamu tetap disini, kamu satu satunya teman pria yang aku punya, yang memiliki hati tulus yang mau berteman dengan ku Yud, ta-tapi kenapa kamu juga akan meninggalkan aku, kenapa Yud" isak ku teriris


"maaf Jas, aku juga nggak bisa berbuat apa apa, orang tua ku meminta ku untuk pindah sekolah dan melanjutkan disana... "


lalu Yuda mengeluarkan satu kotak berukuran sedang dari dalam tasnya kemudian di berikan pada ku, kotak cantik berwarna merah muda dengan tali pita melingkar cantik sebagai pengikatnya.


"untuk mu" ucapnya.


aku seakan merasakan dejavu, kejadian hari ini sama seperti yang ku alami beberapa tahun silam ketika Liam juga hendak berpamitan untuk pergi.


"apa ini? "


"buka saja di rumah, setelah itu kamu akan tahu apa isinya"


hening


beberapa saat kami berdua menyelami pikiran masing masing hingga tak terasa rintik hujan mulai turun membasahi bumi.


"ayo kita berteduh dulu" karena semakin deras, akhirnya Yuda mengajak ku untuk pindah ke sebuah gazebo yang berada tak jauh dari tempat kami duduk, disana bukan hanya ada aku dan Yuda, melainkan ada beberapa orang yang kebetulan memang tengah terjebak hujan kala berjalan jalan di area taman


setelah menata hati, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya pada Yuda.


"lalu kamu kapan berangkatnya, apa ada kemungkinan kamu akan kembali ke desa setelah pindah ke kota? " lirih ku


"aku kurang tahu, tapi aku akan berusaha untuk bisa kembali atau setidaknya berlibur di desa"


dulu Yuda adalah teman pindahan dari kota ke sekolah ku karena mengikuti ibunya yang harus pulang karena kakeknya tengah sakit keras.

__ADS_1


namun ketika Yuda masih duduk di bangku kelas 9,kakeknya meninggal dunia karena penyakitnya, dan sekarang mau tak mau Yuda juga harus kembali ke kota seperti sedia kala.


__ADS_2