
Yuda, pria itu kembali datang kala aku tengah kesusahan dan di rundung kesedihan. seolah ia tahu jika hal ini akan benar benar terjadi.
ia membawa ku ke sebuah kursi yang terletak di depan ruang kesenian, ia meminta ku untuk duduk kemudian menyodorkan sebotol air mineral kepada ku.
"Yud~ " lirih ku.
"minum dulu, tenangkan diri kamu! " serunya tanpa mau di bantah.
segera ku minum air yang di berikan oleh Yuda, setelah tenang barulah Yuda ikut duduk di samping ku.
"sudah tenang? " tanyanya pelan
aku mengangguk dan menghapus air mata ku yang masih menetes.
"sudah... " sejenak aku terdiam
"aku bodoh ya Yud, karena terlalu mengagumi hingga melupakan rasa malu bahkan rela di rendahkan oleh orang lain, ternyata rasanya sesakit ini ya mencintai tanpa di cintai"
aku menunduk pilu, sangat malu karena mengabaikan peringatan dari Yuda, namun setelah itu, Yuda kembali datang dan mengulurkan tangannya untuk ku tanpa mengingat perkataan kasar ku padanya.
"kata orang, Cinta itu buta Jasmin. makanya mau aku bicara banyak hal hingga mu lut ku berbusa pun tak berarti apa apa untuk mu.
dulu aku belum bisa mengatakan alasannya karena disaat itu kamu tengah merasakan jatuh cinta, dan aku menunggu sampai kamu tersadar jika apa yang aku katakan benar.
aku sudah cukup lama berteman dekat dengan Haris hingga tahu sedikit banyak soal percintaannya.
kamu itu bukan gadis pertama yang dia tolak, ada banyak gadis yang menyatakan perasaannya lebih dulu padanya namun berakhir seperti yang kamu terima.
makanya dulu aku sempat menghentikan mu karena tak ingin orang yang aku sayang tersakiti"
__ADS_1
"maksud kamu" seketika ku toleh kan pandangan ku ke arah Yuda.
"eh- bukan bukan, maksud ku, sayang aja kalau orang sebaik kamu harus di sakiti sama Haris, begitu, y-ya begitu... "
"sekarang sudah tahu kan Haris seperti apa, dia juga bisa kasar sama cewek kalau emang dia nggak suka, sikap baiknya ia tunjukkan sama semua orang yang nggak nyinggung dia aja.
kalau pengen nangis, nangis aja nggak apa apa, tapi setelah itu sudahi sedih mu, kamu harus bangkit dan fokus saja sama masa depan mu" sambungnya
Aku mencoba mencerna semua perkataan Yuda, ya, memang benar, Haris tak sebaik dan sekeren yang terlihat, justru ia seperti rubah yang tengah memakai buku domba untuk menyembunyikan sifat aslinya.
"makasih ya Yud, dan maaf kalau dulu aku pernah tak percaya sama ucapan mu, bahkan terkesan menuduh mu yang tidak tidak.
kini aku sudah mendapat kan balasannya, rupanya sesakit itu patah hati, tapi aku bersyukur karena setelah ini aku tak akan memikirkan dia lagi"
terdengar helaan nafas pelan dari sosok pria di samping ku, sedari tadi Yuda selalu memalingkan wajahnya kala aku menatapnya, padahal jika aku tak menoleh ke arahnya, maka dia yang akan menatap ku lama.
"sudahlah lupakan saja, seperti kata ku tadi, cukup fokus dengan masa depan mu saja dulu. ya sudah yuk pulang" ajaknya segera beranjak.
sebelum pulang aku mencuci wajah ku terlebih dahulu agar sampai di rumah ibu tak curiga jika aku baru saja selesai menangis.
Di perjalanan pulang, tak ada yang kami bicarakan, aku yang masih tak enak dengan Yuda memilih diam dan akan bersuara ketika Yuda bertanya.
sesampainya di rumah Yuda tak mampir karena ada keperluan sedangkan aku langsung mausk ke dalam rumah sesaat setelah Yuda berpamitan.
setelah mengucap salam dan di jawab oleh ibu dari ruang jahit, aku segera masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian.
sejenak aku terdiam, enggan untuk keluar karena ibu pasti curiga melihat mata ku yang masih sembab, tapi kebih curiga lagi jika aku tak keluar kamar karena biasanya setelah selesai berganti pakaian aku akan langsung menemui ibu di ruang jahit.
bertahan 10 menit di dalam kamar, aku beranjak dari duduk dan memutuskan untuk keluar menemui ibu. biarlah nanti ku jawab sebisa ku ketika ibu menanyakan perihal mata ku yang sembab.
__ADS_1
"bu... "
"sudah makan kak? " tanya ibu tanpa menoleh ke arah ku karena beliau tengah memotong bahan kain untuk di jadikan pakaian.
"belum, belum lapar, adek kemana bu, tumben rumah sepi? " tanya ku
"tadi pamit sama ibu mau belajar bersama di rumah Dio, mungkin karena sebentar lagi dis juga akan ujian kenaikan kelas, jadi sedang semangat semangatnya. belajar bersama"
aku mengangguk, karena tak ada yang bisa ku kerjakan di ruang jahit, aku pergi ke belakang untuk melihat jemuran ku tadi pagi.
untung saja ibu tak melihat mata ku yang sembab jadi aku tak perlu berbohong untuk mendapatkan jawabannya.
karena hari ini sangat terik, alhasil pakaian ku sudah kering dan siap untuk di lipat, ku angkat kemudian ku bawa ke ruang tengah untuk ku lipat, setelah selesai aku mengerjakan pekerjaan rumah lainnya hitung hitung sebagai obat patah hati.
***
malam harinya aku kembali berdiskusi dengan ibu perihal kelanjutan sekolah ku, setelah mengutarakan kegundahan ku akhirnya ibu mengurungkan niatnya untuk menemui bu Parni.
"tapi bu, sebenarnya Jasmin juga pengen sekali sekolah kejuruan tata bu sana. Jasmin pengen jadi disainer bu" lirih ku
"kenapa nggak bilang sejak awal, kan ibu bisa beralasan sama bu Parni kalau kamu pengen sekolah kejuruan bisa beliau juga tidak menunggu jawaban dari kamu kak.
tapi ya sudah, tidak apa apa, nanti ibu akan bilang ke bu Parni. untuk biaya sekolah mu dan adik mu, ibu sudah pikirkan matang matang soal biayanya jika memang kamu pengen sekolah sesuai dengan minat kamu"
"jangan bilang ibu akan- "
"tidak ada pilihan lain kak, pendidikan mu lebih penting. nanti ibu akan jual semua sapi sapi nya ke juragan Joni, syukur syukur nanti dapat harga tinggi jadi kita masih bisa menabung" sahut ibu
"tapi bu- "
__ADS_1