
Kami semua tertawa mendengar teguran dari Naila, membuat Yuda tampak salah tingkah dan memutuskan menyusul Jefri di dapur.
tak berselang lama kemudian, Yuda kembali bersama Jefri dengan membawa minuman serta beberapa camilan.
kami kembali duduk, namun kini kami memutuskan lesehan agar lebih nyaman.
"makasih ya, kalian semua udah bantuin aku, aku benar-benar nggak habis pikir, si Haris bisa bertindak bodoh seperti itu," lirih ku.
"sama sama, maafin kita juga yang terlambat bantuin kamu, Jas, " ucap Naila.
"tapi kok kalian bisa tahu kalau aku dalam bahaya? kamu juga, Yud. kok bisa barengan sama Naila dan Vidya? " tanya ku, sedari tadi aku sangat penasaran, dengan ketiga orang itu yang tiba tiba datang ke rumah Haris.
"jangan cemburu dulu ya, tadi tuh waktu Vidya dateng ke kedai, dia nanyain kamu. ya udah aku kasih tahu kalau kamu mau jengukin Rania di rumahnya yang baru. tapi kata Vidya, tadi pagi dia lihat Rania di antar pulang ke rumah orang tuanya sama Haris. di situlah kami curiga, apalagi kamu bilangnya mau kesana bareng Haris.
pas kami mau siap siap ngecek ke rumah orang tua Rania, Yuda datang nanyain kamu, ya sudah deh, akhirnya kita bareng bareng kesana, pas sampai ternyata kamu nggak ada disana.ya akhirnya kita pamit dan langsung nyamperin kamu ke rumah si Haris. nggak tahunya ternyata disana kamu sedang dalam bahaya, " jelas Naila
"si Rania nggak curiga, kenapa kalian nyariin aku kesana? " tanya ku
"kita nggak bilang kalau kamu di ajak Haris ke rumah, kita cuma nanyain kamu disana atau enggak dengan alasan kamu mau jengukin anaknya, " jawab Vidya
aku mengangguk paham, syukurlah ada mereka bertiga sehingga aku bisa selamat dari Haris yang hendak berniat buruk terhadap ku.
kami berbincang ringan di ruang tamu, aku meminta Ibu untuk beristirahat di kamar karena aku yakin beliau juga sama syok nya dengan ku. sedangkan Adik ku pamit karena akan bekerja kelompok di rumah temannya.
hampir 1 jam lamanya kami berbincang, Naila dan Vidya pun memutuskan untuk pamit. kedua dahabat ku itu hendak berpamitan dengan orang tuanya serta mengambil pakaian ganti karena nanti malam mereka akan menginap disini menemani ku.
Kini tinggalah aku dan Yuda yang masih bertahan di ruang tamu, di temani keheningan.
"Yud, " panggil ku kala Yuda tengah memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Ya? " ia segera meletakkan ponselnya di atas meja dan langsung menatap lembut ke arah ku.
"makasih ya... "
"sudah menjadi tugas ku untuk selalu melindungi mu, sayang, " ucapnya sembari meraih tangan ku.
"kamu, kenapa bisa sampai di kedai? bukannya kamu bilang mau bantuin bu Ami bersihin rumah ya? " tanya ku, pasalnya tadi pagi Yuda mengabari jika ia akan membantu bu Ami bersih bersih rumah
"iya, tapi pas kamu bilang kalau mau ketemu temen temen kamu, aku memilih buat nyusulin kamu. aku dateng ke rumah, tapi kata ibu, kamu sudah berangkat, ya sudah akhirnya aku langsung nyusulin kamu kesana,"
"pas sampai di depan rumah Haris, disana aku udah curiga apalagi pas lihat ada mobil pick up di depan rumah, tapi pintu rumah dalam keadaan tertutup, pas aku mendekat, aku denger suara kamu minta tolong dari dalam. ya sudah tanpa berpikir panjang, aku langsung ngedobrak itu pintu, " Yuda tampak menghembuskan nafasnya pelan, ia tengah mengatur emosinya agar tidak kembali meledak.
"Pas ngelihat kamu dalam kungkungan Haris, darah ku rasanya mendidih, aku berlari menerjang Haris dan langsung ngehajar dia sampai babak belur. aku baru tersadar setelah kamu panggil aku, maafin aku ya, terlambat buat nolongin kamu, "
Aku mengangguk paham, entah bagaimana nasib ku tadi ketika Yuda tak berniat menyusul ku ke kedai.
"sekali lagi terima kasih banyak, Yud. " Yuda mengangguk.
Aku berpamitan pada Yuda karena hendak menyiapkan makan siang. namun rupanya pria itu dengan cepat langsung menyusul ku ke dapur dan langsung membantu ku tanpa ku minta.
"kamu duduk aja, biar aku yang masak, Yud. " Ucap ku kala Yuda ikut membantu mengupas bawang
"nggak apa apa. itung-itung belajar jadi suami yang bertanggungjawab, "
"dasar lebay. Ya sudah, kamu kupas bawangnya, aku mau bersihin ayamnya dulu, "
Yuda setuju, kami saling bahu membahu memasak makan siang, hingga tak butuh waktu lama, dalam waktu kurang dari 1 jam, semua masakan sudah siap di atas meja.
di atas meja sudah ada semur ayam, tumis kangkung, dan telur balado. setelah siap, aku segera memanggil ibu untuk makan siang bersama.
__ADS_1
Aku sudah membangunkan ibu dan mengajaknya untuk makan siang bersama, namun, ibu menolak, beliau mengatakan jika masih kenyang karena tadi ketika kami bercerita, ibu sudah memakan beberapa camilan dan juga roti.
akhirnya aku memilih makan siang terlebih dahulu, menunggu Jefri rasanya tak mungkin karena ia mengatakan jika akan pulang sore.
"kok sendiri, Ibu mana? " tanya Yuda ketika melihat ku masuk ke dapur seorang diri.
"Ibu masih kenyang, dan minta kita buat makan duluan, " jelas ku.
Aku duduk di samping Yuda, menyiapkan piring serta sendok untuk nya makan.
"sekalian nasi dan lauknya juga dong, sayang, " pintanya memelas
aku segera mengambil alih piring Yuda, dna langsung mengisinya dengan nasi dan lauk yang ia minta.
"terima kasih, " ucapnya dengan Mengerlingkan matanya.
"jangan gitu ih, geli tahu nggak, "
"iya iya, gitu aja marah. ternyata begini ya, rasanya di layani sama istri. pantas saja ayah selalu senyum senyum pas ibu ngambilin makanannya, "
"masih calon kalau kamu lupa, " ralat ku
"ya sudah, besok kita menikah saja, " celutuknya asal
"ish, terserah kamu saja lah, " dengus ku sebal.
siang ini kami makan dengan tenang, Yuda juga tak menggombali ku setelah aku abaikan semua gombalannya, bukan karena aku tak suka, hanya saja aku tak mau terlena, apalagi di dapur hanya ada aku dan dirinya saja.
***
__ADS_1
malam harinya, pukul 18.30 wib, Naila dan Vidya sudah berada di depan rumah. kedua sahabat ku itu sudah menenteng tas ransel dan juga keresek hitam besar. sudah seperti orang yang akan piknik saja.
aku mengajak keduanya untuk masuk ke dalam kamar ku untuk menaruh barang barang mereka setelah itu mengajaknya untuk makan malam bersama.