BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
66


__ADS_3

Aku terus mengikuti kemana pun Yuda pergi, bukan karena aku menyukai situasi seperti ini, hanya saja aku butuh kejelasan dari sikapnya selama ini.


Aku wanita, jujur saja aku membutuhkan kepastian, apalagi ia yang memberikan janji dan meminta ku untuk menunggu, namun kala kami bertemu, ia justru telah memiliki pasangan baru, sedangkan aku, aku hanya gigit jari karena merasa sangat si*l karena telah menunggu sesuatu yang tak pasti untuk ku.


"Yud, disini nggak ada orang selain kita? " tanya ku kala Yuda memperlihatkan area belakang yang sangat sepi.


"ya, rumah ini baru jadi satu minggu yang lalu, dan aku belum menempatkan satu orang pun disini, "


pantas saja, rumah besar nan mewah dengan dua lantai ini sangatlah sepi, meski begitu rumah ini terasa sangat nyaman apalagi di sekitar rumah telah di tanami banyak bunga sehingga terlihat sangat cantik dan segar.


Aku terus mengikuti Yuda yang tengah memperlihatkan beberapa ruangan dan menjelaskan dengan detail semua yang ada di dalam rumah ini seolah akulah yang akan menempati rumah ini.


Aku tak tahu, apa maksud Yuda mengajak ku kesini. Mungkinkah ia tangah pamer? entalah...


Tak terasa sudah hampir 30 menit kami berkeliling, aku menghentikan langkah Yuda yang akan mengajak ku ke lantai 2.


"Yuda, tunggu! "


"ada apa? "


"bisakah kita kembali saja. jujur saja aku merasa tak nyaman berduaan di rumah kosong dengan seorang pria dewasa seperti ini, "


"aku hanya ingin memperlihatkan ruangan di lantai atas, kamu keberatan? "


aku mengangguk, "sangat. Aku ingin kembali ke butik saja, " tandas ku kemudian memutar tubuh ku dan berjalan menuju pintu utama.


"Jasmin, tunggu! "


"apalagi Yud? lagipula buat apa kamu ajakin aku kesini. seharusnya nona Tisha lah yang kamu ajak kesini, bukan aku! "


Yuda terdiam, ini kesempatan ku untuk segera pergi dari sini. lama lama dengan dia membuat ku tak nyaman. aku sudah lelah menunggu dan sekarang aku menyerah bahkan sebelum ia menjelaskan apapun pada ku.


Aku segera berjalan menjauh dari rumah milik Yuda. kesal rasanya, karena menerima ajakan Yuda, akhirnya aku keluar komplek dengan berjalan kaki.


disini tidak ada ojek ataupun kendaraan umum yang masuk, sehingga aku harus menuju pinggir jalan untuk menghentikan ojek atau angkot.


"dasar playboy, dulu minta aku buat nungguin dia, sekarang giliran udah di tungguin bertahun tahun, eeh justru mau nikah sama yang lain, Dasar Yuda jelek. aku benci sama kamu! " desis ku menahan amarah.


Aku masih terus berjalan menuju gerbang utama. namun karena rumah Yuda berada di area paling ujung, membuat aku harus sedikit lebih semangat untuk berjalan lebih lama.


syukur lah pos satpam sudah terlihat, itu berarti tak lama lagi aku akan segera sampai.

__ADS_1


"mari pak, " sapa ku ramah kepada kedua satpam komplek disini


"mari neng, "


Aku keluar area perumahan ini dan berjalan sedikit jauh untuk menghentikan angkot, kata pak satpam yang berjaga tadi, aku harus berjalan kurang lebih 200 meter dari pos saptam untuk menunggu angkutan umum.


aku berhenti dan sesekali menengok jam di pergelangan tangan ku. rupanya aku berjalan hampir 15 menit dari rumah Yuda menuju area luar.


'Dasar, Yuda nyebelin! ' umpat ku kesal sembari menghentakkan kaki ku.


"jangan judes judes, nanti cantiknya hilang, " goda seseorang dari arah belakang.


Aku terkejut kala melihat Yuda sudah berdiri di belakang ku dengan senyum mengembang.


"dari kapan kamu disini? "


"sudah dari tadi, kayaknya sejak kamu keluar rumah deh, " ucapnya tanpa beban.


"jangan bilang kalau kamu--"


"aku ngikutin kamu dari tadi, dan juga sudah dengar semua umpatan yang kamu tujukan ke aku, "


"bagus lah, biar kamu tahu juga, " desis ku kesal, rasanya ingin mengamuk saja saat ini


"nggak usah lah Yud, semua sudah jelas. lebih baik kamu pergi saja dengan nona Tisha, aku akan kembali ke butik untuk bekerja, "


Tak lama, mobil Yuda datang dan berhenti di depan kami, sesorang memberikan kunci mobilnya kepada Yuda.


"terima kasih pak, " ucap Yuda kepada bapak tadi


"sama sama mas Yuda, kalau butuh apa apa, panggil saya saja, "


"baik, Pak, "


"sudah marahnya, ayo masuk dulu. " ucap Yuda sembari membukakan pintu mobil untuk ku


"aku mau pul--"


"sebentar saja, setelah semua jelas dan beres, kamu baru boleh pulang, "


mobil melaju dengan kecepatan sedang, aku kira, ia akan kembali ke rumah barunya, namun ternyata aku salah, ia melajukan mobilnya entah kemana.

__ADS_1


setelah 15 menit di perjalanan, sampailah kami di sebuah rumah yang jauh lebih besar dan mewah dari rumah milik Yuda.


"ayo turun, ada yang mau ketemu sama kamu, "


"siapa? " tanya ku sembari menyamakan kangkah kakinya.


"nanti juga tahu, "


setelah masuk ke dalam rumah, Yuda meminta ku untuk menunggu di ruang tamu sedangkan ia masuk ke ruangan bagian dalam.


aku menatap kagum sekeliling ku. meja, sofa, hiasan dinding dan beberapa pajangan yang ku rasa harganya sangat mahal, apalagi sofa yang tengah ku duduki ini, terasa halus dan empuk.


terdengar bunyi ketukan antara sepatu dengan marmer yang semakin lama semakin besar.


sepertinya ada yang akan datang. aku kembali memposisikan diriku agar tidak terlihat norak ketika orang itu datang.


"Jasmin, " panggil wanita paruh baya yang sangat ku kenal.


"ta-tante A-Ayu... " lirih ku kemudian segera beranjak. aku terus menatap ibu dari Yuda yang sudah berdiri di depan ku


"kamu apa kabar, sudah lama sekali tante nggak ketemu sama kamu, kata Yuda, kamu kerja di butik milik Tari ya? "


"kabar Jasmin baik tante, tante sendiri apa kabar? tante kenal dengan bu Tari?"


"tante juga baik, ayo duduk lagi, " ajaknya ketika aku masih berdiri dengan canggung


sungguh, aku sangat pangling kala bertemu dengan tante Ayu, dulu ketika di kampung, penampilan nya terlihat biasa saja, ia bahkan tak pernah memakai aksesoris apapun, pakaiannya pun sederhana, tidak seperti saat ini yang terlihat sangat wah sekali.


"Tari itu adik ipar saya Jasmin, makanya saya kenal,"


"semalam Yuda bercerita, katanya dia bertemu kamu di disini, tante awalnya nggak yakin, tapi setelah lihat kamu secara langsung, akhirnya tante percaya. dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata kamu bekerja dengan tante nya Yuda, "


aku tersenyum canggung, "jadi Yuda itu keponakannya bu Tari, kenapa Jasmin baru tahu ya, Tan? padahal Jasmin disini sudah hampir 4 tahunan lo? "


"karena kami baru saja kembali dari luar negeri, Yuda baru saja menyelesaikan studynya di Singapura dan kami menetap sementara disana karena ayahnya Yuda sedang mengembangkan bisnisnya disana, dan baru beberapa minggu ini kami kembali ke Indonesia, "


"seperti itu ya Tan, Jasmin kira, dulu, Yuda sekolah diluar kota, eh nggak tahunya malah di luar negeri" kekeh ku


"rencananya memang mau di Jakarta aja Jas, tapi ayahnya ngajakin kita semua kesana, jadi mau nggak mau kita akhirnya pindah, "


siang ini kami terlibat perbincangan yang ringan, sesekali kami menggibah Yuda karena pria itu sedari tadi tak memperlihatkan batang hidungnya sama sekali.

__ADS_1


aku pun yang tadinya sempat kesal dan hendak kembali ke butik pun seakan lupa waktu karena telah bertemu dengan tante Ayu yang menjadi teman ibu di kampung.


__ADS_2