
Tak ingin terlalu larut dalam hal yang belum pasti, aku memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan ku yang sempat tertunda.
waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, setelah selesai memotong kain, aku meminta izin ibu untuk bersih bersih sekaligus mandi.
adik ku Jefri, setelah bangun tidur, ia meminta izin untuk bermain ke rumah Tio karena waktu mandi masih lama.
"tadi ibu beli daging ayam, sudah ibu goreng setengah matang, kamu goreng lagi biar hangat dan matang kak" aku yang tengah memanaskan sayur sop pun segera menerima box plastik berisikan daging ayam yang sudah di bumbui.
"memangnya uangnya cukup bu, lain kali nggak perlu mewah seperti ini bu, cukup goreng tempe atau tahu saja sudah cukup"
bagi ku menu ayam goreng adalah menu mewah yang sangat jarang kami masak, sepuluh ribu limaratus itu sudah cukup mahal hanya untuk seperempat kilo daging ayam, lebih baik di belikan tempe satu papan seharga tiga ribu bisa untuk sarapan hingga makan malam.
"nggak apa apa kak, sekali kali memasak daging ayam, kasihan adik mu juga kalau setiap hari harus makan sama lauk tahu tempe saja"
tak memprotes, aku segera memanaskan minyak kemudian mulai menggoreng ayamnya, tak lupa aku juga membuat sambal bawang mentah untuk teman makan kami nanti malam.
sayur sop, ayam goreng dan sambal bawang kini telah tersaji rapi di atas meja makan, ibu yang tadi pamit untuk memanggil Jefri pun sudah pulang.
"mandi dulu kak... " tegur ibu kala aku tengah merebahkan tu buh ku di atas kasur lapuk di ruang tengah.
"ah bentar lagi bu, Jasmin mau ngelurusin punggung dulu... " ucap ku sambil terus bermalas malasan di atas kasur.
ibu hanya menggeleng pelan kemudian meninggalkan ku menuju ruang jahit nya.
***
keesokan paginya
__ADS_1
pagi buta ibu sudah pulang dari belanja di tukang sayur, ku lihat di dalam keresek ada beberapa macam sayuran dan juga ada daging ayam seperempat kilo.
padahal kemarin aku sudah mengatakan untuk tak perlu membeli daging ayam karena mahal, kenapa hari ini ibu beli daging ayam lagi.
"bu, kok ibu beli daging ayam lagi? " tanya ku sembari mengeluarkan belanjaan ku.
"kan kemarin ibu sudah bilang kalau mau kasih bekal sama nak Yuda, jangan bilang kalau kamu lupa, ibu juga nggak enak kalau mau kasih bekal lauknya tahu sama tempe saja, jadi ibu beli ayam buat lauknya"
Hampir saja aku memprotes namun mendengar penjelasan dari ibu, aku mengurungkan niat ku untuk protes.
setelah selesai membantu ibu menyiapkan sarapan serta bekal ku, aku pun langsung menyambar handuk ku untuk segera mandi.
dinginnya air di pagi hari membuat ku mengigil, apalagi semalam sempat juga hingga tengah malam yang membuat suhu air menjadi lebih dingin dsri biasanya.
keluar dari kamar mandi aku menghampiri ibu yang masih duduk di kursi makan, berencana untuk membuat teh hangat agar tidak terlalu kedinginan.
"ibu gercep juga ya, bahkan tahu isi pikiran Jasmin" ucap ku sembari mendekat dan duduk di kursi kosong di depan ibu.
"sudah kebiasaan kalau habis hujan, terus kamu mandi pagi, kamu pasti kedinginan, makanya ibu bikinin teh hangat"
aku menyeruput pelan teh hangat yang masih mengepulkan asapnya, ah hangatnya.
"makasih ya bu, rasanya enak kalau ibu yang buat"
***
aku berangkat ke sekolah berjalan kaki seperti biasanya. tak lupa dua kotak bekal ku tenteng di dalam paperbag, untuk ku dan untuk Yuda.
__ADS_1
sesampainya di sekolah, keadaan masih sedikit sepi karena memang hari ini aku sengaja berangkat pagi agar bisa memberi kan bekal dari ibu untuk Yuda.
aku berjalan menyusuri lorong hingga sampailah aku di depan kelas Yuda, meski terbilang sepi, rupanya kelas nya sudah banyak siswa siswi yang hadir.
ku edarkan pandangan ku mencari keberadaan Yuda, rupanya ia tak ada di kelas dan masih mangkal di depan ruang komputer.
aku berjalan mendekat ke arahnya yang kebetulan sedang sendirian, "Yud... " panggil ku mendekat ke arahnya.
"hei Jas, tumben oagi pagi udah nyamperin, ada apa? "
ku keluarkan satu kotak bekal makanan kemudian ku berikan pada Yuda "ini tadi ibu buatin bekal buat kamu, di terima ya, kata ibu sebagai ucapan terima kasih" ucap ku kemudian meletakkan bekal itu di atas tangannya.
"eh ngapain, aku ikhlas nolongin kamu, jadi nggak perlu repot repot kayak begini! " ia hendak menolak namun aku segera mencegahnya.
"stop! jangan di tolak lagi ya, ibu juga ikhlas kok ngasih ke kamu nya, jangan lupa di makan ya! " seru ku kemudian bergegas meninggalkan Yuda yang hendak memprotes.
sampai di dalam kelas, aku mulai merasa ngos ngosan, ku keluarkan botol minum ku dan ku teguk hingga hampir setengahnya.
"weehh, kenapa Jas, tumben sampai sekolah ngos ngosan begitu? " tanya Naila yang sedari tadi memperhatikan ku.
"eh, nggak kok, cuma takut telat aja makanya lari, eh sampai sini malah belum bunyi bel nya" jawab ku setelah merasa tenang.
"yaelah, gitu doang sampai lari lari, kalau telat ya sudah, di terima aja hukumannya, paling paling juga di suruh nambah tugas" ucap Vidya.
"nah, itu tuh yang bikin aku lari, satu tugas aja kadang bikin puyeng masak mau nambah tugas lagi, bisa pingsan di tempat aku nanti" jawab ku sedikit bergurai.
"kalau pingsan ya tinggal bawa ke uks aja lah Jas" timpal Rania
__ADS_1
aku hanya meringis, sebenarnya tak enak juga membohongi mereka, namun aku juga tak ingin di interogasi oleh ketiga sahabat ku karena membawakan bekal untuk Yuda, khawatir mereka akan berpikiran yang tidak tidak tentang aku dan Yuda.