
Dari kejauhan dapat ku lihat, Liam tengah duduk sembari menatap keluar, aku segera menghampiri dan menepuk pundaknya pelan.
"Liam..."
"eh Jas, ngagetin aja! " serunya sembari menoleh ke arah ku
aku segera duduk di kursi di hadapannya "tumben kesini, ada apa? "
"em, enggak ada apa apa sih, cuma pengen mastiin aja kalau kamu udah balik dari kampung, ibu apa kabar? "
"ibu baik, alhamdulillah. kirain tadi ada hal penting sampe sore sore kesini"
"kamu udah makan, cari makan di luar yuk" ajaknya namun aku menggeleng karena teringat nasi bekal yang di bawakan oleh ibu.
"belum sih, tapi tadi aku di bekali sama ibu, kamu tunggu sini aku ambilin, kebetulan tadi ibu bungkusin banyak buat aku, jadi kita bisa makan bareng bareng" aku segera beranjak dan berlari menuju kamar ku.
ku ambil bekal ku tak lupa juga air minum dan langsung membawanya kembali menghampiri Liam
"maaf ya lama" aku segera membuka kotak bekal ku, ada nasi, ayam goreng, sambal terasi dan juga tumis kangkung yang terlihat begitu menggugah selera meskipun sudah dingin.
"ayo makan" ajak ku ketika mrlihat Liam sedari tadi hanya diam menyimak ku menyiapkan makanan.
"e-eh iya.. " aku mengulurkan piring kepadanya dan membiarkan Liam mengambil sesukanya, toh makanannya juga ada banyak, pikir ku.
"mungkin begini rasanya di siapkan makanan sama istri" gumam Liam di sela suapannya
plak
"halu mu ketinggian Liam, baru juga kelas sepuluh, tapi mikirnya udah jauh banget" aku memukul pelan pundak Liam karena terkejut, bisa bisanya teman ku yang satu ini berpikir begitu jauh.
__ADS_1
"ya namanya halu mah sah sah aja Jas, ntar gede kita nikah yuk Jas" ucapan Liam semakin lama semakin ngelantur saja, aku hanya menggelengkan kepala ketika mendengar bualan dari mulut manis Liam.
"ngajakin anak orang nikah kayak ngajakin petak umpet aja Li... udah ah makan lagi, banyakin makannya biar nggak halu" aku menyendokkan nasi kemudian ku taruh di atas piring Liam membuat sang empunya melotot ke arah ku.
"apa apaan nih, kenapa di taruh di piring ku, udah kebanyakan Jasmin.... " dengan mulut yang penuh akan makanan, Liam mencoba protes namun aku tak menggubrisnya sama sekali.
"biar nggak kebanyakan halu Liam... "
kami makan dengan sangat lahap, bahkan Liam yang sempat protes karena kebanyakan nasi pun akhirnya mampu menghabiskannya, bahkan ia juga lah yang menghabiskan lauk serta sayur yang tersisa.
kini Liam tengah duduk sembari mengelus pe rut nya yang kekenyangan, sedangkan aku membawa kembali tempat makan kotor kebelakang kemudian kembali menghampiri Liam dengan membawa segelas teh hangat.
"ini di minum dulu teh hangatnya" ucap ku sembari menyodorkan segelas teh hangat untuk Liam.
"makasih Jas," ucapnya seraya mengambil dan meminumnya "ahh, nikmatnya... " gumamnya pelan.
beberapa saat kemudian, Liam pun akhirnya berpamitan untuk pulang karena hari sudah semakin sore. niat hati ingin mengajak ku makan bersama, ternyata akulah yang mengajaknya makan bersama untuk mencoba masakan ibu, untung saja ia suka dan mau memakannya.
***
keesokan paginya, setelah memastikan semua siap, akupun langsung mengunci pintu kamar untuk segera berangkat ke sekolah
kala melintasi rumah bu Ima, beliau memanggil ku dan meminta ku untuk mampir sebentar.
"ada apa bu? " tanya ku ketika melihat bu Ima keluar rumah
"ini ada paket buat kamu" ucapnya sembari memberikan kotak yang ia pegang pada ku.
"dari siapa bu? "
__ADS_1
"ibu juga nggak tahu, tadi ada kurir ngirim barang katanya buat Jasmin yang ngekos di rumah ibu, berarti itu kan kamu, sudah terima saja, siapa tahu penting" ucapnya kemudian memaksa ku untuk menerima paket tersebut.
setelah memberikan pakrt itu, bu Ima bergegas kembali ke rumah karena beliau tengah memasak sarapan.
ku tatapan bungkusan paket di tangan ku, aneh saja, di sana hanya tertulis nama serta alamat penerima, sedangkan untuk pengirim sama sekali tidak tertulis disana.
"nanti aja lah coba kubuka. lebih baik ku taruh di kamar dulu baru setelah itu berangkat"
tak ingin membuang waktu, aku kembali ke kosan untuk menaruh paket itu kemudian barulah aku berangkat sekolah.
"Gita sudah berangkat belum ya? " gumam ku ketika hampir sampai di rumah Gita, baru saja hendak memanggil, Gita sudah lebih dulu muncul dengan terburu buru.
"astaga Gita, kamu kenapa sih, kok panik gitu? " tanya ku setelah Gita selesai memakai sepatunya.
"bukan panik lagi Je, kamu tahu, PR dari bu Siska belum aku kerjakan sama sekali, gimana dong ini, kamu tahu kan, bu Siska kalau ngehukum nggak kira kira" ucapnya terlihat cemas.
sebenarnya bu Siska orang yang asik, hanya saja ia tak bisa mentolerir jika ada siswanya yang tidak mengerjakan PR yang beliau berikan, ia akan menghukum dengan membuat materi pelajaran di bab yang akan datang.
"ya sudah lebih baik kita berangkat dulu aja, nanti aku bantu kamu supaya cepat ngerjainnya"
***
sesampainya di sekolah, suasana masih terlihat sepi karena memang setiap hari senin baik aku maupun Gita akan berangkat lebih awal dari pada yang laun agar bisa lebih bersemangat
"ada untungnya ya kita berangkat pagi begini" ucap Gita kala kami masuk ke dalam kelas.
"iya juga ya, tapi ngomong ngomong, tumben kamu nggak belajar, biasanya nggak seperti ini loh kamu Git? " tanya ku sembari mengeluarkan buku materi yang akan di kerjalan Gita.
"kemarin itu Je, dari sore sampai shubuh tadi aku tidur pules banget, bahkan ibu sudah berulang kali bangunin aku, tapi katanya aku nggak bangun bangun juga, ya sudah akhirnya pagi pagi udah kalang kabut deh.
__ADS_1
udah ah, ayo bantuin dulu nih, lumayan juga, pagi pagi udah pemanasan isi kepala"
aku mengangguk, kemudian membantu Gita menyelesaikan PR nya, meskipun pada akhirnya ia langsung melihat jawaban dari buku ku, namun aku meminta Gita untuk membaca ulang buku materi agar ia lebih mengerti dan tidak asal meminta jawaban, sekalian juga aku mengoreksi jawaban ku.