BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
77


__ADS_3

Mata ku terus mengamati satu persatu orang yang keluar dari mobil masing-masing.


ada 2 orang tampak membawa sesuatu di tangannya sedangkan orang yang ku kenal berjalan bersisihan dengan pasangan paruh baya yang semakin lama semakin mendekati rumah.


Terlihat Ibu datang tergopoh gopoh dengan kantong keresek bening di tangannya. tadi setelah menghabiskan ubi kukus, ibu mengatakan jika akan ke warung sebentar untuk membeli minyak goreng.


"itu, nak Yuda kenapa bawa rombongan kesini, kak? " tanya ibu yang sudah berdiri di depan ku.


Ya, dia adalah Yuda. pria yang sedari pagi Aku cari namun tak kunjung memberi kabar.


"assalamu'alaikum... " belum sempat aku menjawab, rombongan Yuda telah sampai di teras. Yuda datang bersama dengan kedua orang tuanya dan 2 orang asing yang membawa barang bawaannya.


"wa'alaikumsalam... "


"wah, mbak Ayu, mas Bagas. apa kabar? " tanya ibu ramah.


"baik mbak, alhamdulillah... " kedua wanita paruh baya itupun cipika-cipiki selayaknya bertemu teman yang sudah lama tak jumpa.


"ayo masuk dulu, mari silahkan... "


Kini kami telah duduk rapi di ruang tamu, aku tampak cemas begitu pula dengan Ibu, namun ibu sepertinya lebih seperti sedang penasaran.


"ini ada apa ya nak Yuda? kenapa banyak orang? " tanya ibu penasaran, begitu juga dengan aku.


Tunggu, jangan bilang perkataan Yuda kemarin bukan hanya omong kosong saja? astaga, kenapa aku tak berpikir panjang sih.


"ah iya, saya sampai lupa dengan maksud dan tujuan kami datang kesini. jadi begini mbak Hana, seperti yang sudah pernah di utarakan oleh Yuda kemarin, kami datang kesini ingin silahturahmi sekaligus melamar Jasmine sebagai istri sekaligus menantu kami, " jelas tante Ayu.


"benar mbak Hana, kami hanya ingin melanjutkan niat baik dari putra kami, karena jujur saja, kami juga sudah cocok dengan nak Jasmine. terlebih kemarin Yuda bercerita jika nak Jasmine sempat mengalami musibah sehingga kami tak ingin menunda lebih lama. lebih baik kita segera menikahkan saja mereka berdua, supaya nak Jasmine juga ada yang menjaga, " sambung om Bagas.

__ADS_1


Aku sangat tercengang, ternyata ucapan Yuda kemarin tak main-main, ia ingin segera menikahi ku.


"alhamdulillah, itu semua, saya serahkan pada keduanya mbak Ayu, mas Bagas. kapan mereka siap saja, karena menikah bukan hanya untuk satu atau dua hari melainkan seumur hidup, " ucap Ibu


aku berpamitan pada Ibu, untuk pergi ke belakang, membuatkan tamu-tamu ku minuman.


Di dapur sudah ada Naila dan Vidya yang menatap ku sembari senyum-senyum, aku yakin jika kedua sahabat ku itu sudah mendengar semua yang keluarga Yuda katakan.


"kalian nguping, ya? " tanya ku penuh selidik


keduanya terkekeh, "kedengeran sampai kamar, Jas. ya sudah, kita ikut dengerin dong! " seru Naila


"cie, yang mau nikah... " goda Vidya


"kalian ini, kebiasaan... " Aku menggeleng pelan, melanjutkan niatku untuk membuat teh dan kopi.


aku mengangguk, mengucapkan terima kasih kemudian membawanya kembali ke depan.


Di ruang tamu, tampak Ibu dan tante Ayu saljng mengobrol hangat, membicarakan tentang masa masa ketika beliau masih tinggal di sini.


aku meletakkan 5 cangkir teh di atas meja dan mempersilahkan mereka untuk meminumnya.


sebenarnya Yuda datang kesini dengan 4 orang, kedua orang tuanya dan dua orang yang tadi membawakan barang barangnya, namun kedua orang itu langsung pamit setelah pekerjaan mereka selesai.


Setelah pembicaraan serius selesai, kedua orang tua Yuda pun pamit untuk mengunjungi rumah kakeknya, sedangkan Yuda memilih tetap tinggal karena ada yang ingin ia sampaikan kepada ku.


Kini aku dan Yuda sudah duduk santai di teras rumah, sementara Naila dan Vidya pamit pulang karena hari sudah sore.


terdiam, menikmati hembusan angin sore, menatap anak anak kecil yang tengah berlarian di jalanan. Aku melirik Yuda yang rupanya juga tengah melirik ku.

__ADS_1


"Aku kira kemarin kamu bercanda, Yud, "


"enggaklah, aku serius ingin menikahi mu. sebenarnya yang aku inginkan itu, hari ini kita menikah, seperti yang aku ucapkan kemarin. tapi ibu menolak dengan alasan belum ada persiapan, dan juga khawatir kamu belum siap menikah dengan ku, apalagi dadakan. itu sebabnya hari ini mereka hanya melamarkan aku buat kamu, " jelas nya.


"kenapa nggak ngasih kabar? kalau aku tahu, kamu akan datang bersama ayah dan ibu, aku pasti akan menyiapkan semuanya, "


"aku nggak mau kamu kerepotan, apalagi setelah kejadian kemarin, aku nggak mau membebani kamu, "


Aku mengangguk paham, setelah itu, aku kembali menceritakan perihal Rania yang tadi pagi berkunjung ke rumah dan meminta ku untuk mencabut tuntutan pada suaminya.


namun rupanya hati Yuda tak semurah itu, ia menolak keras setelah aku selesai bercerita, ia justru akan meminta agar Haris di hukum seberat beratnya agar bisa memberikan efek jera untuknya.


aku mengelus pelan lengannya agar ia tak bertambah emosi, membicarakan tentang Haris, sama saja memancing emosi Yuda.


***


Malam harinya


Aku sudah masuk ke dalam kamar, membalas pesan yang di kirim Yuda untuk ku. Sedetik kemudian, sebuah panggilan video call darinya membuat ku salah tingkah.


hampir 30 menit kami berbincang, membahas banyak hal yang membuat kami saling tertawa, dan setelah itu, aku pamit untuk tidur terlebih dahulu karena hari sudah sangat larut malam.


namun, setelah panggilan video itu berakhir, mata ku segar kembali, pikiran ku kembali berkelana mengingat ucapan Yuda tadi.


Yuda mengatakan jika sang nenek tak menyetujui hubungannya dengan ku karena beliau sudah memilihkan calon istri untuknya.


Ah, apakah nek Ida tak ingin merestui kami, apa mungkin ia malu karena akan memiliki cucu mantu bekas pekerjanya?


namun Yuda kembali meyakinkan ku, dan mengajak ku mengunjungi neneknya besok pagi.

__ADS_1


__ADS_2