BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
54


__ADS_3

Dari kejauhan aku dapat melihat dengan jelas rumah ayah yang begitu bersih dan terawat. ibu, dialah yang hampir setiap hari mengunjungi ayah dan membersihkan rumah dari cinta sejatinya itu.


aku duduk bersimpuh di samping pusara ayah, begitu juga dengan ibu dan Jefri. Ibu memimpin doa secara khidmat hingga tak terasa buliran bening itu lolos begitu saja mati pelupuk mata ku.


Selesai mengirimkan doa, aku, ibu dan Jefri pamit pulang pada ayah.


Di perjalanan, ibu sudah terlihat tenang, ia juga sudah tidak murung dan bahkan sebuah senyuman terukir indah dari bibir nya.


"bahagianya, ibu ku. " lirih ku menggoda ibu.


"ibu selalu bahagia jika berada di dekat ayah mu kak. suatu saat nanti, jika ibu menyusul ayah mu, kamu jaga adik mu baik baik ya? "


"ibu ngomong apaan sih, jangan berpikir terlalu jauh, Jasmin yakin, ibu akan menua bersama Jasmin dan Jefri! "


ucapan ibu bagai belati yang langsung menusuk jantung ku, bagaimana ibu bisa dengan tenang mengatakan hal itu, apalagi di depan anak anaknya. apa ibu tak ingin melihat hidup kami, melihat anak anaknya sukses dan menemukan pasangannya masing masing.


ibu terkekeh seolah ucapan ku hanyalah gerutuan semata, namun dapat ku lihat dari pancaran matanya yang mulai meredup seiring berjalannya waktu itu, memperlihatkan adanya suatu kecemasan disana.


Sesampainya di rumah, aku bergegas bersih bersih karena memang hari sudah sangat sore.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah selesai berkemas dan akan segera kembali ke kota. ibu juga membawakan ku beberapa makanan untuk di berikan kepada nek Ida sebagai ucapan terima kasih karena selama ini beliau lah yang menjadi ibu pengganti di saat aku berada di kota bersama beliau.


"kamu baik-baik disana, selalu nurut sama bu Ida dan jangan merepotkan beliau. " pesan ibu kala aku berpamitan pagi ini.


"iya ibu, Jasmin akan selalu ingat pesan ibu, Jasmin berangkat dulu bu, assalamu'alaikum. "


"hati hati, wa'alaikumsalam. "


aku berjalan menuju tempat pemberhentian angkot yang tak jauh dari rumah dengan menenteng tas keresek titipan ibu.


di tengah perjalanan, lagi-lagi aku harus bertemu dengan seseorang yang paling aku hindari. Haris, dia duduk di atas motornya dengan pandangan lurus menatap ke arah ku.


namun, aku mencoba abai, aku kembali. melanjutkan langkah kaki ku dan mencoba untuk berlalu tanpa menyapanya.


"Jasmin, tunggu! "

__ADS_1


"ada apa Haris? aku mau balik ke kota! " seru ku sembari melepaskan cekalan tangannya.


"aku mau bicara sebentar sama kamu. "


"tapi aku nggak mau bicara lagi sama kamu Haris!" sengit ku menatap tajam ke arahnya.


jalanan ini sedikit sepi karena memang masih pagi sekali sehingga orang orang belum ada yang keluar untuk berangkat kerja.


Aku heran dengan Haris, bisa bisanya ia tahu kalau aku akan kembali ke kota pagi pagi sekali.


"kenapa? kenapa kamu nggak mau bicara lagi sama aku, bukankah kamu suka sama aku? "


"dulu! dulu aku memang suka sama kamu, aku yang bodoh pernah suka suka sama orang yang nggak punya hati kayak kamu. tapi setelah penolakan dan hinaan hari itu, aku sangat membenci kamu, Haris! " ucap ku penuh penekanan.


Haris melotot ke arah ku seakan terkejut dengan kalimat kasar yang keluar dari mulut ku. mungkin dia kaget karena selama ini aku tak pernah meninggikan suara ku meski banyak orang yang membenci ku.


"apa? kenapa melotot begitu hah? ah, jangan bilang kalau kamu mulai mendekati aku karena aku kini sudah mulai berubah. aku sudah bukan Jasmin yang dekil dan hitam seperti dulu, iya? "


sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal itu. bagaimana aku bisa begitu percaya dirinya mengatakan seolah aku sudah menjadi Jasmin yang cantik bukan Jasmin yang dekil seperti dulu.


tapi sudahlah, semua sudah terlanjur, biarkan saja aku sekalian meluapkan emosi ku padanya.


"begitu mudahnya bibir mu mengucapkan itu semua, lalu Rania mau kau kemanakan hah? "


"itu masalah gampang, aku akan segera memutuskan dia setelah kita pacaran, bagaimana? "


"dasar bodoh, sakit jiwa kamu Ris! " umpat ku segera pergi meninggalkan Haris.


"Jasmin, aku tunggu jawaban mu! " teriaknya dari arah belakang.


aku tak berniat menoleh, Haris sudah berubah, ia bukan Haris yang pernah ku kenal dulu, bahkan sekarang aku sama sekali tak mengenali Haris.


Dasar pria bodoh, bisa bisanya mempermainkan perasaan wanita seperti itu. aku jadi kasihan dengan Rania yang memiliki kekasih kurang seons seperti Haris.


ku percepat langkah ku agar segera ssmpai di pinggir jalan besar. sepertinya aku harus menunggu sedikit lebih lama karena angkot yang akan aku naiki telah berlalu sebelum aku sampai di pinggir jalan.


untung saja tak lama kemudian angkot kembali datang, aku menghembuskan nafas ku pelan, dan segera naik ke angkot. ku tolehkan pandangan ku ke belakang, aku bersyukur karena Haris tak mengejar ku.

__ADS_1


40 menit kemudian, aku telah sampai di rumah nek Ida. Aku segera membuka gerbang dan langsung masuk ke dalam.


"assalamu'alaikum nek, " ku cium punggung tangan beliau dan di balas dengan elusan di kepala ku.


"nenek kira kamu nggak jadi balik hari ini loh nak, nenek sampai nunggu kamu di luar"


"Jasmin kan sudah janji bakal balik hari ini nek, mana mungkin Jasmin ingkar. "


"ya sudah ayo masuk dulu, tadi nenek beli jajanan pasar kesukaan kamu"


inilah yang ku suka dari nenek Ida, beliau memperlakukan ku seperti pada cucunya sendiri hingga membuat ku nyaman tinggal bersama beliau.


***


Tak terasa libur panjang telah usai, kini saatnya aku kembali melanjutkan sekolah dan pekerjaan ku.


aku sangat bersyukur, di kota ini aku bertemu dengan orang orang baik, mulai dari tinggal di kosan sampai di rumah nenek Ida.


kini aku telah memasuki kelas dua belas, kelas akhir yang akan sekali banyak tugas dan juga ujian ujian yang menentukan kelulusan ku.


sesampainya di sekolah, aku segera menemui Gita yang menunggu ku di dalam kelas.


"assalamu'alaikum."


"wa'alaikumsalam." jawab semua teman teman ku yang ada di dalam kelas.


Gita, ia langsung beranjak dari duduk nya dan berlari menghampiri ku. "Jasmin! " pekiknya langsung menghambur memeluk ku.


"G-Git, aku nggak bisa nafas, " ucap ku terbata karena Gita memeluk ku begitu erat.


"maaf-maaf, "


"aku kangen banget sama kamu Je, kapan kamu balik kesini? "


"hari kamis kemarin aku udah balik Git, anaknya nek Ida udah balik ke Jakarta, makanya aku balik cepat."


"kok nggak ngabarin sih, tahu gitu aku main ke rumah nek Ida Je, "

__ADS_1


"maaf ya, terlalu sibuk beres beres rumah sampai lupa ngabarin kamu. "


Gita mengangguk setuju dan mengajak ku untuk duduk di kursi kami.


__ADS_2