
Aku menatap Yuda yang tengah tersenyum manis ke arah ku, pancaran matanya penuh keteduhan dan ketulusan membuat ku merasa tenang.
Kami saling terdiam, aku bingung harus mengatakan apalagi kepada Yuda, sebab kurasa ini sangat mendadak meskipun sudah dari lama kami saling menunggu satu sama lain.
tak lama, suara salam dari luar memecah keheningan. Bu Ami datang bersama dengan sang suami.
"asalamualaikum... "
kami serempak membalas salamnya kemudian mempersilahkan bu Ami dan suaminya untuk duduk, beliau membawa beberapa botol air mineral dan juga camilan yang terbungkus keresek hitam berukuran sedang.
"ini Ibu bawakan air mineral dan camilannya, kalian pasti haus karena kesini jalan kaki, "
"terima kasih Bu, maaf merepotkan, Ibu yang berkunjung, tapi justru membawakan kami minuman seperti ini, " ucap Yuda
"kayak sama siapa saja nak Yud, bapak sama Ibu sudah menganggap kamu anak sendiri, jadi jangan sungkan begitu. Oh iya, bagaimana kabar kedua orang tua kamu di kota, terakhir bapak dengar, kalian baru kembali menetap di Indonesia setelah sekian lama di Singapura ya? "
"iya pak, alhamdulillah kabar ayah dan ibu baik, kami kembali ke Indonesia karena memang study ku disana sudah selesai, begitu juga dengan cabang perusahaan ayah di Singapura, disana sudah stabil sehingga ayah memutuskan untuk menetap kembali di Indonesia, "
Pak Yono, tampak mengangguk, "bapak dengar juga seperti itu. Bapak salut sekali dengan kegigihan ayah kamu, hingga membuat perusahaan maju pesat seperti ini, oh iya, kamu jadi menginap disini? atau mau di rumah bapak saja supaya ada temannya? "
"jadi pak, mungkin beberapa hari kedepan Yuda akan tinggal disini, "
__ADS_1
***
Malam semakin larut, namun mata ini sangat sulit untuk terpejam, aku kembali teringat sore tadi, Yuda kembali mengunjungi ibu, dan mengatakan niat baiknya secara langsung.
Ibu tampak terkejut namun seulas senyum langsung terbit dari bibirnya. Ibu melirik ku dan Yuda bergantian kemudian mengangguk.
"Ibu serahkan semuanya sama putri Ibu, Jasmin, karena dialah yang akan menjalaninya, namun yang pasti, Ibu akan selalu merestui apapun pilihannya. Jika Jasmin menerima, maka Ibu juga akan memberikan restu Ibu buat nak Yuda, ibu yakin jika nak Yuda mampu untuk menjaga dan melindungi Jasmin, sama seperti ayahnya.
bagaimana nak, apa kamu menerima niat baik nak Yuda? " tanya Ibu kemudian
Aku mengangguk "Jasmine sudah memberi jawabannya tadi siang, Bu. Jasmine menerima pinangan Yuda," jawab ku,
sejurus kemudian Ibu kembali tersenyum, "baik, jadi kapan nak Yuda akan melamar Jasmine secara resmi? " tanya ibu kepada Yuda
Percakapan antara Ibu dan Yuda pun berlanjut hampir satu jam lamanya. Aku hanya memasrahkan semuanya pada Ibu, karena beliaulah yang jauh lebih berpengalaman daripada diri ku.
Akhirnya Ibu meminta Yuda untuk mendiskusikan hal ini kepada kedua orang tuanya, dan setelah beres, barulah ia boleh melamar ku.
huh
Detak jantung ku terpompa sangat cepat, terlebih baru saja aku memikirkan kejadian tadi sore, dan kini Yuda sudah mengirimi ku sebuah pesan.
__ADS_1
[aku sudah bicara dengan ayah dan ibu, mereka berdua sangat senang dan akan menjadwalkan hari untuk acara lamaran kita] pesan Yuda
[aku tunggu kabar baiknya] balas ku
Setelah membalas pesan dari Yuda, aku berusaha untuk memejamkan mata, entah berapa lama, namun lambat laun aku merasakan kantuk dan akhirnya tertidur pulas hingga pagi hari.
***
Pagi ini aku berencana untuk bertemu dengan Naila dan Vidya, tentu untuk temu kangen sekaligus membahas mengenai Rania yang semakin lama semakin jauh dengan kami seolah kami adalah musuh terbesarnya.
selesai sarapan, dan berkemas rumah, barulah aku menuju kedai mie ayam di ujung jalan. Naila bilang jika dirinya telah sampai disana lebih dulu.
"Bu, Jasmine berangkat sekarang ya, biar nanti pulangnya nggak kesiangan, " pamit ku pada Ibu
"Yuda nggak ikut kak? " tanya Ibu yang membuat pipi ku terasa menghangat
"enggak, Bu. kan kumpul para cewek, mau ngapain juga dia ikut, "jawab ku kemudian
Ibu mengangguk, setelah memberikan izin, aku segera berjalan menuju kedai.
tak jauh memang, namun jika di tempuh dengan berjalan kaki, akan terasa melelahkan juga.
__ADS_1
di pertengahan jalan, aku bertemu dengan Haris yang tengah mengendarai mobil pick up milik juragan sawah di kampung kami. aku tahu, karena Ibu, kemarin sempat membahas Rania yang saat ini hidup terpisah dengan kedua orang tuanya dan sekarang tinggal dengan Haris di salah satu rumah milik orang tua Haris. kabarnya saat ini Haris bekerja sebagai supir pada juragam Wayan.
Ia berhenti tepat di samping ku dan memanggil-manggil nama ku. Aku m mencoba abai dan memilih untuk melanjutkan langkah kaki ku, namun rupanya, Haris turun dari mobil dan menghentikan langkah ku.