BAGAIMANA DENGAN AKU?

BAGAIMANA DENGAN AKU?
33


__ADS_3

Hujan telah reda tergantikan dengan rintik hujan yang membawa hawa dingin. kami menutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami sebab hari sudah semakin siang.


"kita makan siang dulu ya, dingin dingin begini enaknya ngebakso" Yuda menghentikan laju motornya di depan kedai bakso di pinggir jalan.


kami turun dari motor kemudian Yuda memesan dua mangkok bakso serta teh hangat, setelah itu kami mencari tempat duduk, syukurlah masih ada beberapa kursi kosong sehingga kami tidak perlu menunggu gantian.


pengunjung disini lumayan ramai, mungkin efek cuaca dingin sehingga banyak para pengendarai motor yang menghentikan motornya hanya untuk menikmati semangkok bakso dengan kuah yang masih mengepul panas untuk mengha ngatkan pe rutnya.


"silahkan di nikmati... " ucap tukang bakso kala menghidangkan semangkok bakso di hadapan kami.


"terima kasih pak" ucap ku di balas anggukan kepala olehnya.


siang ini kami menikmati semangkok bakso dengan di temani suara rintik air hujan yang masih mengguyur kota ini.


moment ini mungkin akan menjadi kenangan terindah ku bersama Yuda untuk yang terakhir kalinya sebab setelah ini ia akan benar benar pergi dan aku tak tahu akan kah dia kembali atau tidak.


"semoga suatu saat nanti kita bisa kembali menikmati semangkok bakso berdua ya Jas" ucap Yuda tiba tiba.


uhuk uhuk


Baru saja aku membayangkan hal itu tetapi Yuda lebih dulu berseru membuatku kaget hingga tersedak.


"pelan pelan... " ucapnya menyodorkan gelas telah hangat miliknya dan langsung ku minum dengan cepat.


"ma-maaf"


"makanya kalau makan pelan pelan, nggak usah buru buru, hujannya juga belum benar benar reda kan" ucapnya


"i-iya... "


sumpah demi apapun aku ingin menangis saat ini juga melihat sikap baik Yuda yang sebentar lagi tak akan pernah ku rasakan kembali.


***


sesampainya di rumah, aku bergegas mengganti pakaian ku setelah itu ku hampiri ibu yang tengah berada di dapur.


"masak apa bu? " tanya ku pada ibu yang berada di depan kompor.

__ADS_1


"nasi goreng kak, mumpung nasinya masih banyak, biar nggak mubadzir mending di goreng saja"


"oohh... "


***


malam harinya


aku masuk ke dalam kamar dan segera mengeluarkan kado pemberian Yuda dari dalam tas sekolah ku.


satu yang membuat ku terheran sebab di dalam kotak kado itu terdapat foto ku yang tengah tertawa namun aku tak menatap ke arah kamera, sepertinya Yuda sengaja memfoto ku diam diam. lalu di bawah foto itu terdapat pula lipatan kertas kecil seperti sebuah surat.


dan benar saja, di sana sebuah coretan tangan Yuda memenuhi kertas yang baru saja ku buka.


'hai Jasmine Zainisa,


ketika kamu baca surat ini, mungkin aku sudah dalam perjalanan menuju ibu kota untuk menyusul ayah ku, jangan sedih ya, suatu saat, jika kita di takdirkan untuk bersama, kita akan bertemu meskipun jarak di antara kita mustahil untuk kita tempuh karena kemampuan kita.


Dulu kamu pasti merasa terheran kan karena tiba tiba aku mendekati mu dan melarang mu untuk mendekati Haris. Jujur, waktu itu aku tak mengenal kamu sama sekali, namun karena janji ku pada seseorang akhirnya aku mulai mendekati kamu.


ku pikir kamu adalah gadis biasa, tampang mu tak menarik sama sekali, bahkan aku tak tertarik sedikit pun dengan mu, namun setelah kenal dan mengetahui kehidupan yang kamu jalani, pandangan ku berubah berbanding terbalik pada mu.


Terus semangat ya Jasmine, aku percaya kamu adalah gadis yang kuat meskipun masalalu mu pernah membuat mu trauma.


terakhir, aku hanya ingin mengatakan, Jika aku mulai Tertarik pada mu,


AKU MENYUKAI MU JASMINE


sebenarnya aku ingin mengatakannya langsung namun aku belum memiliki cukup keberanian untuk menyatakan perasaan ku pada mu secara langsung


semoga jika kita di takdirkan bersama, perasaan ini masih sama dan akan terbalaskan.


YUDA ARYA PRATAMA'


aku tertawa pelan, ku rasa teman ku ini tengah terkantuk kantuk kala menulis surat ini sehingga tulisannya menjadi ngawur seperti ini.


"dasar si Yuda, mana mungkin dia suka sama aku sedangkan yang lainnya bahkan untuk sekedar menjadikan aku teman pun enggan" lirih ku tertawa miris.

__ADS_1


namun meski begitu air mata ku luruh begitu saja, menertawakan diri ku sendiri yang bahkan penuh kekurangan yang berangan di ratukan oleh pasangan yang tepat.


"sadar Jasmin sadar, jangan kebanyakan berkhayal nanti jatuhnya sakit" aku memukul pelan kepala ku mencoba untuk menyadarkan ku dari lamunan panjang ku.


***


keesokan paginya


hari ini aku berencana untuk pergi ke rumah Yuda, untuk memastikan kebenarannya apakah dirinya benar benar sudah pergi atau belum karena aku belum percaya jika sore itu juga ia pergi dari kampung ini.


dengan membawa sedikit makanan kesukaan Yuda, aku berjalan menuju rumahnya.


sesampainya disana aku di buat kecewa karena benar yang Yuda katakan jika dirinya telah pergi dari rumah karena terlihat dari keadaan rumah yang sepi bahkan gerbang depan pun sudah di gembok.


"ternyata Yuda beneran pergi " gumam ku lirih


"lho kamu Jasmin kan, ngapain disini sendirian? " tanya seseibu yang tengah lewat


aku menoleh, rupanya tetangga samping rumah Yuda lah yang tengah menyapa ku.


"iya bu, saya mau cari Yuda, tapi sepertinya dia nggak ada di rumah" jawab ku


"owalah, Yuda sama ibunya sudah berangkat nyusul ayahnya ke kota kemarin sore, memangnya ada apa, apa dia nggak ngabarin kalau mau pindah? " hati ku mencelos kala ibu itu memberitahu jika Yuda benar benar telah pergi.


"bilang bu, tapi nggak ngasih tahu kalau bakalan kemarin sore berangkatnya" jawab ku tak memberitahu jika Yuda telah memberitahu melalui surat yang ia berikan.


"ya sudah, ibu duluan ya, mau ke warung depan dulu" pamitnya


"iya bu, terima kasih atas informasinya... "


setelah kepergian tetangga Yuda itu, aku kembali tercenung, rupanya Yuda benar benar telah pergi, padahal kemarin kami baru saja menghabiskan waktu bersama sama namun hari ini aku kembali sendiri, aku merasakan kekosongan dalam hati ku namun sebisa mungkin aku tak memperlihatkan kepada siapapun.


hati ini terasa jauh lebih sakit dari pada penolakan Haris kala itu.


"huuuhh... "


"kenapa Yuda nggak ngasih tahu langsung kalau mau pergi. aku nggak nyangka kalau kemarin adalah hari terakhir bertemu dengan dia, kalau begini kan terasa banget kalau dia pergi... " Gumam ku seraya pergi meninggalkan rumah Yuda untuk kembali ke rumah.

__ADS_1


***


1 bulan kemudian...


__ADS_2