
Langit hari ini begitu sangat cerah, namun berbeda dengan hati ku yang sedikit mendung. Aku menatap sendu mobil milik Yuda yang perlahan menjauh dari pelataran butik.
'huufft... '
Hari ini aku bekerja seperti biasanya, meskipun hati ku terasa sesak, namun aku harus tetap bekerja secara profesional.
jam makan siang pun tiba, aku lebih dulu istirahat bersama kak Ica, sedangkan Kinan dan Nelis akan istirahat setelah kami selesai.
kak Ica mengajak ku untuk makan siang di sebuah cafe yang terletak di seberang butik yang baru saja di buka. katanya ada diskon besar besaran disana mengingat hari ini adalah hari launching nya.
Acara launching cafe telah selesai pagi tadi sehingga siang ini kami dapat menikmati makan siang dengan tenang tanpa harus terganggu oleh yang lainnya
Aku memilih duduk di kursi paling pojok sementara kak Ica memesan makanan kami.
"aku duduk disana ya kak. " tunjuk ku pada meja kosong di sudut ruangan.
"oke, tunggu ya, "
aku mengangguk kemudian berjalan menuju tempat yang ku pilih.
Cafe semi restoran ini terlihat sangat indah, di berbagai sudut terdapat tanaman hidup yang menambah nilai estetiknya.
brukk
karena terlalu mengagumi cafe baru ini, aku sampai tak menyadari jika ada seseorang yang berjalan dari arah berlawanan di depan ku sehingga aku menubruk nya.
"a-ah maaf mas, saya nggak sengaja, " ucap ku sembari mengelus kening ku yang menabrak dada bidang pria di hadapan ku.
"lain kali kalau jalan pakai mata mbak! " suara itu terdengar tegas, namun seperti tak asing bagiku.
"yang namanya jalan itu pakai ka- "
"Mas Iqbal? " aku cukup terkejut kala aku mendongak, Iqbal, cucu bu Parni ada di hadapan ku.
"loh, Jasmin? kok kamu bisa ada disini? " tanyanya
__ADS_1
"Harusnya aku yang tanya begitu. kok kamu bisa ada di Jakarta sih, bukannya kamu di Surabaya ya? " tanya ku heran.
"jangan bilang kalau kamu lagi nguntit aku? hayo ngaku? "
Pasalnya keluarga Iqbal tinggal di Surabaya, dan mereka mempunyai bisnis disana. Jadi tidak mungkin saja, Iqbal datang ke ibu kota tanpa tujuan apapun
"kata siapa? jangan sok kepedean deh kamu. memangnya kamu nggak baca tulisan karangan bunga di luar? ini cafe milik ku, Jasmin, "
"hah? yang bener aja kalau ngomong, "
"kalau nggak percaya, sono keluar dan lihat sendiri biar percaya! " serunya kesal, aku tak ingin mati penasaran, akhirnya aku segera berbalik keluar untuk memastikan kebenarannya, bahkan aku tak menggubris kak Ica yang tengah memanggil nama ku.
Dari pintu masuk, dapat ku lihat di depan sana ada beberapa karangan bunga yang mengucapkan selamat atas grand opening IJA Cafe' dan ada juga nama pemiliknya juga terpampang jelas disana.
"gimana? masih ragu kalau cafe ini milik ku? " tanya Iqbal yang tiba tiba sudah berada di belakang ku.
"a-ah yah, sekarang aku percaya, ngomong-ngomong, selamat ya, " ucap ku kemudian sembari mengulur kan tangan ke arahnya.
"thank's... "
Aku kembali menghampiri kak Ica yang lebih dulu duduk di kursi yang tadi sempat ku tunjuk, wajahnya terlihat di tekuk dengan bibir yang manyun.
"kak, maaf, "
"dari mana sih, sampai di panggil nggak nyahut gitu? "
"habis dari memastikan sesuatu aja sih kak. tapi udah beres kok, "
tak berselang lama kemudian, pesanan kami datang. kami segera menyantapnya karena waktu istirahat sisa sedikit dan kami harus bergantian dengan yang lain.
Tiba-tiba datang satu orang pegawai restoran dengan membawa nampan.
"maaf kak, ini ada titipan untuk kakaknya, " ucap pegawai tersebut kemudian meletakkan sepiring kentang goreng dan roti bakar.
"titipan dari siapa ya mbak? "
__ADS_1
"dari pak bos untuk mbak Jasmin, katanya, " setelah menjawab, pegawai itupun langsung pamit.
kak Ica menatap ku dengan penuh tanda tanya, akhirnya dengan terpaksa aku mengatakan jika cafe ini milik teman ku di kampung, tak lupa aku juga mangatakan kejadian tadi sebelum aku tahu jika Iqbal adalah pemilik cafe ini.
"oh, jadi kamu sudah kenal sama pemilik cafe ini, kok nggak bilang bilang sih? "
"ya ngapain juga harus bilang bilang kak, orang cuma tetanggan doang kok, lagipula aku juga baru tahu hari ini, "
kak Ica menganggukkan kepalanya, setelah itu kami menghabiskan makanan kami hingga tandas, begitu juga dengan makanan pemberian Iqbal yang saat ini hanya menyisakan piring kotornya saja.
***
Pukul 20.00 wib.
aku keluar dari butik dengan langkah gontai, sembari menenteng tas ku, aku berjalan menyusuri trotoar yang sedikit lenggang.
sebuah mobil hitam tiba tiba saja berhenti di samping ku dan tak lama, keluarlah Yuda dengan penampilan yang sangat jauh berbeda dari yang ia kenakan pagi tadi.
malam ini Yuda terlihat begitu sangat tampn, apalagi dengan balutan setelan jas berwarna hitam yang menambah nilai ketampanan nya.
"maaf aku telat, tadi masih ada meeting di kantor," ucapnya yang seolah aku tengah menunggu dirinya untuk pulang, jangankan menunggu, mempunyai niatan itupun aku tidak punya.
"apa hubungannya sama, aku? "
"ya ada lah, tadi pagi kan aku sudah bilang, kalau aku bakalan antar jemput kamu di butik setiap hari, "
"enggak usah, lagipula aku sudah biasa pulang pergi jalan kaki. "
"tapi Jas-"
"Yuda please... tolong sekali saja ngertiin perasaan ku. aku nggak mau di sebut pelakor hanya karena aku bersikap ramah dengan orang yang sudah memiliki pasangan dan dengan gampangnya aku bisa di ajak kemana pun? "
"tunggu, sepertinya ada yang salah dari kata kata mu itu, "
"APA? "
__ADS_1